Latest Post
08.50
Resepsi Pernikahan Ust. Gamal Hadinata, SE
Menikah dalam Islam akan membuka ruang-ruang beribadah yang begitu mudah, baik oleh istri maupun sang suami. Keduanya memiliki kesempatan untuk melakukan pahala yang jauh lebih besar dibanding yang belum menikah. Lantaran ini jugalah syaitan menjadi penghalang nyata bagi seseorang yang ingin melangsungkan pernikahan.
Alhamdulillah, Pada tanggal 29 Juni 2012, Ust. Gamal Hadinata, SE yang merupakan bendahara Mahad Aly An-Nuaimy melaksanakan jalinan suci Akad nikah dengan Ela Pegia Marlon, Amd.K3, SKM. Ustadz yang merupakan Alumnus fakultas Ekonomi UHAMKA tersebut melaksanakan akad nikahnya di Solok, Sumatera Barat. Pada tanggal 8 Juli 2012 diadakanlah resepsi pernikahan di Gedung Serbaguna IKSG Pesanggrahan, Cipulir, Jakarta Selatan.
Semoga kedua mempelai menjalani rumah tangga dengan penuh keberkahan dan kebahagiaan. Barokallahu laka wa baroka alaika wa jamaa bainakuma fiy khoirin.
Alhamdulillah, Pada tanggal 29 Juni 2012, Ust. Gamal Hadinata, SE yang merupakan bendahara Mahad Aly An-Nuaimy melaksanakan jalinan suci Akad nikah dengan Ela Pegia Marlon, Amd.K3, SKM. Ustadz yang merupakan Alumnus fakultas Ekonomi UHAMKA tersebut melaksanakan akad nikahnya di Solok, Sumatera Barat. Pada tanggal 8 Juli 2012 diadakanlah resepsi pernikahan di Gedung Serbaguna IKSG Pesanggrahan, Cipulir, Jakarta Selatan.
Semoga kedua mempelai menjalani rumah tangga dengan penuh keberkahan dan kebahagiaan. Barokallahu laka wa baroka alaika wa jamaa bainakuma fiy khoirin.
Label:
Galeri
05.27

موضوعات الدفعة السادسة الذاهبون إلى الخدمة
Judul Skripsi Mahasiswa Angkatan ke-6 yang Mengikuti Tahfidz Al-Quran
موضوعات الدفعة السادسة المشاركون في حفظ القرآن
Judul Skripsi Angkatan ke-6
المعهد العالي لإعداد المعلمين
لجنة البحث العلمي
إعلان
1. الرجاء من الباحثين الذين قد تمت الموافقة على موضوعاتهممقابلة مشرفيهم في خلال الشهر الجاري.
2. وعلى الباحثين الذين لم تتم الموافقة على موضوعاتهم المسارعة إلى تقديم موضوعات جديدة على النحو التالي:
أ) القادمون من أداء الخدمة: آخر موعدهم لتسليم الموضوعات الجديدة هو 13/7/2012م
ب)الذاهبون إلى أداء الخدمة: آخر موعدهم لتسليم الموضوعات الجديدة هو 5/8/2012
ت)المشاركون في برنامج حفظ القرآن: آخر موعدهم لتسليم الموضوعات الجديدة هو 13/7/2012
Skripsi Mahasiswa Angkatan ke-6 yang Melaksanakan Khidmah
موضوعات الدفعة السادسة الذاهبون إلى الخدمة
Judul Skripsi Mahasiswa Angkatan ke-6 yang Mengikuti Tahfidz Al-Quran
موضوعات الدفعة السادسة المشاركون في حفظ القرآن
Label:
Info Terbaru
05.22

Pengumuman Judul Skripsi Angkatan ke-5
المعهد العالي لإعداد المعلمين
لجنة البحث العلمي
إعلان
1. الرجاء من الباحثين الذين قد تمت الموافقة على موضوعاتهممقابلة مشرفيهم في خلال الشهر الجاري.
2. وعلى الباحثين الذين لم تتم الموافقة على موضوعاتهم المسارعة إلى تقديم موضوعات جديدة على النحو التالي:
أ) القادمون من أداء الخدمة: آخر موعدهم لتسليم الموضوعات الجديدة هو 13/7/2012م
ب)الذاهبون إلى أداء الخدمة: آخر موعدهم لتسليم الموضوعات الجديدة هو 5/8/2012
ت)المشاركون في برنامج حفظ القرآن: آخر موعدهم لتسليم الموضوعات الجديدة هو 13/7/2012
Label:
Info Terbaru
06.01
Semoga bisa menjadi renungan bersama
[muslimdaily.net]
Menuntun Tunanetra
Habib Ziadi
Alumni Mahad An-Nu'aimy Jakarta
Angkatan ke-3
Asal Lombok
Alumni Mahad An-Nu'aimy Jakarta
Angkatan ke-3
Asal Lombok
Tidak semua orang dilahirkan dalam keadaaan sehat jasmani. Sebab, mereka yang terlahir dalam keadaan cacat fisik jumlahnya tidak sedikit. Semua itu bukan pilihan dan kemauan kita, tapi semata-mata ketentuan atau qada’ dan qadar dari Allah SWT semata. Dia hendak menampakkan tanda-tanda kekuasaan-Nya di hadapan makhluk-Nya. Tujuannya agar manusia tidak congkak dan takabur. Ini juga sinyal bahwa tidak semua yang diidam-idamkan manusia bisa terwujud. Ada takdir dari Maha Kuasa.
Saya beberapa kali menolong orang, baik diminta atau tidak. Namun ada satu pengalaman menarik yang hingga saat ini masih menggugah batin saya, yaitu ketika objek yang saya tolong adalah kaum tunanetra. Maksud saya di sini bukan dengan menuntun mereka menyeberangi jalan, namun bentuk momen yang berbeda. Izinkan saya sedikit bercerita runut kejadiannya.
Peristiwa ini tepatnya saat saya menginap beberapa hari di masjid Al-Ikhlas Jurumudi Tangerang. Beberapa sahabat saya tinggal di masjid itu sebagai takmir. Saya baru tahu bahwa setiap hari Ahad di tempat itu diadakan ta’lim khusus bagi kaum tunanetra. Mereka belajar membaca Al-Qur’an Braille, belajar melafazkan doa-doa, dan pendalaman aqidah dan fiqih.
Subhanallah antusias mereka belajar sangat luar biasa. Peserta ta’lim membludak. Lantai dasar masjid yang cukup luas penuh terisi. Hanya saja suasana agak sedikit gaduh karena sebagian membawa anak-anak. Mereka berlarian dan bercanda, sehingga cukup mengganggu suasana belajar hari itu.
Perjuangan mereka sungguh luar biasa. Ada yang datang berkelompok dengan mencarter mikrolet. Ada yang didampingi suami, istri atau anknya. Bahkan tidak sedikit yang datang sendiri tanpa dituntun seorang pun. Saya mulai iba melihat mereka yang datang sendiri. Saya membantu mereka memasuki masjid.
Saat hendak ke kamar kecil, sudah barang tentu hal itu menyulitkan mereka. Banyak kesulitan yang mereka alami karena jumlah toilet yang terbatas. Mau tidak mau mereka harus bertubrukan satu sama lain. Saya harus membantu memberikan kenyamanaan bagi mereka. Saya tuntun mereka satu persatu. Setelah itu saya ajak mereka kembali mengikuti ta’lim. Mereka yang terlambat datang pun kadang-kadang langsung ingin buang air kecil sehingga mereka harus sabar mengantri.
Semangat belajar agama mereka membuat saya terkagum-kagum. Keterbatasan penglihatan tidak memadamkan ghirah mereka. Status sebagai tunanetra tidak menjadi alasan untuk malas menuntut ilmu. Sebagai bukti, hingga ta’lim ditutup dengan shalat Zuhur dan makan siang, tak ada seorang pun beranjak meninggalkan majelis.
Saat beranjak pulang pemandangan sembrawut terlihat lagi. Hati inipun terketuk untuk kembali berbuat. Bersama beberapa sahabat, saya tuntun beberapa orang keluar masjid. Sebagian dari mereka ada yang kehilangan tongkat dan sandalnya tertukar. Kasihan sekali mereka. Beberapa rombongan sudah naik mikrolet. Sisanya pulang bersama penuntun masing-masing.
Sampailah akhirnya saya menuntun orang terakhir di masjid itu, seorang bapak berusia lima puluhan. Bapak itu mengaku ditinggal rombongan. Saya bertanya apa ia punya ongkos, ia menjawab tidak punya. Tanpa berpikir panjang saya kembali ke masjid untuk mengambil uang secukupnya. Bapak itu menirima dengan ucapan terima kasih. Batin saya menangis. Kepada saya ia berterus terang bahwa keterbatasan ini tidak menghalanginya belajar agama. Luar biasa. Saya benar-benar salut.
Banyak pelajaran berharga yang saya peroleh terutama dari ungkapan hati bapak tadi. Saya kagum sekaligus terharu. Saya mulai berpikir, mulai bercermin pada diri sendiri, sejauh mana saya mensyukuri nikmat penglihatan titipan Allah ini. Sepintas ingatan saya tertuju pada sahabat Nabi saw yang juga tunanetra, Ibnu ummi Maktum ra. Betapa beliau dengan keterbatasannya tidak mau kalah dalam bertafaqquh fiddin. Generasi Ibnu Ummi Maktum ternyata masih ada, tetap eksis, dan bersemangat. Semoga Allah SWT menjaga mereka.
[muslimdaily.net]
05.58

Kembali Memakmurkan Masjid

Oleh:
Habib Ziadi
Alumni Ma'had Aly An-Nua'imy
Angkatan ke-3
Asal Lombok
Pemerintah Prancis berniat kembali menggulirkan kebijakan anti-Islam setelah sebelumnya, undang-undang kontroversial larangan pemakaian jilbab, mendapat protes hebat dari umat Islam. Dengan alasan karena warga Muslim menunaikan shalat di pinggir jalan, pemerintah Prancis berniat membatasi kebebasan warga Muslim dalam menunaikan kewajiban agama mereka.
Menteri Dalam Negeri Prancis, Claude Guéant, yang dikenal sebagai salah satu politisi think-tank politik anti-Islam di negara ini, menetapkan peraturan baru melarang pelaksanaan shalat jamaah di pinggir jalan. Ini adalah reaksi akibat semakin membludaknya peserta salat berjamaah yang tidak disertai kapisitas masjid yang memadai.
Kenapa otoritas Prancis berusaha membatasi urusan shalat berjamaah kaum Muslimin?
Pertama, karena negara multicultural itu dihinggapi phobia terhadap Islam. Prancis khususnya dan Eropa pada umumnya hari ini sangat khawatir terhadap perkembangan pemeluk Islam yang sangat tajam. Di Negara menara Eiffel ini, Islam di sana menjadi agama kedua terbesar setelah Katolik. Jumlah pemeluknya diyakini 5 juta lebih.
Atas dasar kekhawatiran itu, pemerintah mereka berupaya sebisa mungkin menekan kaum muslimin, baik dengan undaang-undang yang diskriminatif, bahkan melalui aksi refresif.
Kedua, shalat berjamaah ibaratnya adalah show of force atau unjuk kekuatan kaum muslimin. Di barat sana, shalat berjamaah amat ramai dan padat. Tentu berbeda dengan di sini yang shalat berjamaah di masjid yang hanya diisi oleh orang itu-itu saja. Pemerintah Prancis takut dengan segala hal yang berbau simbol atau syiar agama. Jadi, sebisa mungkin mereka melegalkan aturan ketat untuk membatasinya.
Ibadah jamaah, baik itu di masjid atau musolla adalah syiar agama. Dalam al-quran disebutkan bagi yang mengaguingkan syiar-syiar Allah merupakan cirri orang yg bertaqwa. Berdasarkan hal itu, rupanya banyak juga kaum Muslimin belum bertaqwa.
Bila berbicara shalat berjamaah di masjid atau di musolla di negeri ini kadang membuat kita bersedih, miris, sekaligus heran. Seharusnya kita malu dengan saudara-saudara kita yang jauh di sana, yang islamnya baru seumur jagung namun semangat berjamaahnya amat luar biasa. Masjidnya ramai dengan beragam aktifitas, hingga ‘berhasil’ membuat pemerintah mereka yang notabene kafir menjadi kalang-kabut akibat luar biasa khawatir.
Kini kita lihat masjid-masjid di sekitar kita rata-rata sepi jamaah. Kaum muslimin lebih memilih shalat di rumah atau di kantornya. Bahkan ada pameo bahwa masjid atau musolla hanya cocok bagi mereka yang berusia lanjut alias ’yang sudah bau tanah’. Ironis bukan?
Namun kita tidak perlu larut begitu saja, masih banyak kaum muslimin yang tetap eksis memakmurkan masjid atau musolla mereka. Mereka yang disebut oleh Nabi saw dalam hadist yang artinya:“Jika kalian melihat seorang yang membiasakan diri (mendatangi) masjid, maka saksikanlah baginya keimanan. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid Alloh hanyalah orang-orang yang beriman kepada Alloh dan hari kemudian’” (HR. At-Tirmizi)
Mereka yang memakmurkan masjid saat ini benar-benar murni atas motivasi akhirat semata. Tepatlah apa yang dikatakan Alloh SWT,
“Sesungguhnya orang-orang yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Makamudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah: 18).
Nabi saw banyak memberi motivasi kepada kaum musimin secara umum untuk mendatangi masjid dan memakmurkannya. Beliau menyebut mereka dengan predikat yang baik dan memuliakan mereka. Seperti hadits yang Artinya: Sesungguhnya yang memakmurkan masjid adalah kerabat Allah. (HR. Bazzar)
Bagaimanapun juga shalat berjamaah apalagi bila di masjid keutammannya sangat luar biasa. Salat sendiri jika dibandingkan shalat berjamaah adalah 1:27. Artinya bila kita shalat berjamaah satu waktu saja sama dengan shalat sendiri 27 kali. Orang yang menghabiskan umurnya salat sendiri selama 27 tahun, bisa dilampaui pahalanya oleh orang yang gemar berjamaah selama satu thn saja. Benar-benar luar biasa.
Sekarang kita perlu berkaca, kenapa kita meninggalkan masjid sepi. Padahal mungkin di antara kita ada yang duduk sebagai pengurus utama masjid. Nama kita mungkin tertera sebagai anggota remaja masjid. Rumah kita pun bertetangga dengan masjid.
Kita mungkin ingat, saat pembangunan masjid, kita adalah salah satu panitianya. Bahkan satu di antara mereka yang terjun menjemput dana dengan mengirim proposal ke berbagai instansi. Kita mungkin dulu rajin turut serta bergotong-royong mengangkut pasir saat membangunnya. Namun setelah masjid berdiri megah, kita puas dan bangga dengan melihat hasilnya saja, bukan malah rajin memakmurkannya.
Bandingkan dengan perjuangan saudara-saudara kita seiman di daerah minoritas, di Eropa, Amerika, bahkan di Asia sendiri. Betapa sulitnya mereka memiliki masjid. Pemerintah setempat cenderung menerapkan aturan yang ketat. Bahkan setelah masjid berdiripun, mereka diawasi ketat. Terkadang mereka harus mengakali hal itu dengan menjadikan rumah mereka sebagai masjid atau menyewa gedung untuk sekedar shalat Jum’at.
Di Palestina sana, saudara-saudari kita tidak diizinkan shalat di Masjid Al-Aqsa kecuali bila berusia di atas 50 tahun. Mereka berani bentrok dengan polisi Israel demi untuk shalat di dalam Masjid Al-Aqsha. Luka akibat tembakan dan cedera karena dipukul senjata tidak menyurutkan langkah saudara-saudara kita itu.
Keadaan kita tidak sesulit mereka. Mereka harus berjuang ekstra untuk mendapatkan haknya. Sedangkan kita tinggal menjalankan kewajiban saja. Kita belum mampu mensyukuri kelapangan dan keleluasaan ini dengan baik. Sedangkan mereka sudah mampu menggabungkan antara rasa syukur dan sabar. Semoga kita semua diberikan hidayah dan taufiq oleh Allah SWT.



