Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Fokus Ramadhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fokus Ramadhan. Tampilkan semua postingan
21.02
Alhamdulillah, Ramadhan kali ini sudah berada diambang pintu. Semua umat Muslim di dunia bergembira dan bersyukur karena dapat menjalankan ibadah di bulan yang pernuh rahmat Allah SWT.
Kumpulan Materi Ramadhan
Kami pun –civitas akademia – Mahad Aly An-Nuaimy Jakarta bergembira dan bahagia dapat memberikan sumbangsih bagi para dai dan ulama serta pembaca setia website www.nuaimy.org berupa materi dan artikel yang terkait dengan bulan ramadahn. Kali ini, kami memberi tema “MAKTABAH ROMADHONIYAH”.
Silahkan, bagi para dai dan ulama serta pembaca setia, yang ingin mengunduh dengan free,dapat mengunduh di sini:
Label:
Fokus Ramadhan
20.58
Berikut ini adalah amalan yang sesuai sunah Nabi, baik sunah qauliyah dan fi’liyah yang bisa kita lakukan selama bulan Ramadhan.
Amalan Sunnah Selama Mengisi Ramadhan I
1. Bersahur
Dalilnya:
Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
“Bersahurlah kalian, karena pada santap sahur itu ada keberkahan.” (HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
وقد أجمعت الامة على استحبابه، وأنه لا إثم على من تركه
Umat telah ijma’ atas kesunnahannya, dan tidak berdosa meninggalkannya. (Fiqhus Sunnah, 1/455)
Beliau menambahkan:
وسبب البركة: أنه يقوي الصائم، وينشطه، ويهون عليه الصيام.
Sebab keberkahannya adalah karena sahur dapat menguatkan orang yang berpuasa, menggiatkannya, dan membuatnya ringan menjalankannya. (Ibid, 1/456)
Keutamaannya:
Dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلَا تَدَعُوهُ، وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
Makan sahur adalah berkah, maka janganlah kalian meninggalkannya, walau kalian hanya meminum seteguk air, karena Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan orang yang makan sahur. (HR. Ahmad No. 11086, Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: sanadnya shahih. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No. 11086)
Dari Amru bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السُّحُور
“Perbedaan antara puasa kita dan puasa Ahli Kitab adalah pada makan sahur.” (HR. Muslim No. 1096)
Dari hadits dua ini ada beberapa faedah:
-. Anjurannya begitu kuat, sampai nabi meminta untuk jangan ditinggalkan
-. Sahur sudah mencukupi walau dengan seteguk air minum
-. Allah ‘Azza wa Jalla dan para malaikat mendoakan (bershalawat) kepada yang makan sahur
-. Orang kafir Ahli Kitab juga berpuasa, tapi tanpa sahur
-. Berpuasa tanpa sahur secara sengaja dan terus menerus adalah menyerupai Ahli kitab
Disunnahkan menta’khirkan sahur:
Dari ‘Amru bin Maimun Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
كان أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم أعجل الناس إفطارا وأبطأهم سحورا
Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)
Imam An Nawawi mengatakan: “sanadnya shahih.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/362), begitu pula dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, bahkan menurutnya keshahihan hadits tentang bersegera buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah mutawatir. (Lihat Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 17/9. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/199)
2. Tadarus Al Quran dan Mengkhatamkannya
Bulan Ramadhan adalah bulan yang amat erat hubungannya dengan Al Quran, karena saat itulah Al Quran diturunkan.[1] Oleh karenanya aktifitas bertadarus (membaca sekaligus mengkaji) adalah hal yang sangat utama saat itu, dan telah menjadi aktifitas utama sejak masa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan generasi terbaik.
Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma menceritakan:
وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
Jibril menemuinya pada tiap malam malam bulan Ramadhan, dan dia (Jibril) bertadarus Al Quran bersamanya. (HR. Bukhari No. 3220)
Faedah dalam hadits ini adalah:
- Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga melakukan tadarus Al Quran bersama Malaikat Jibril
- Beliau melakukannya setiap malam, dan dipilihnya malam karena waktu tersebut biasanya waktu kosong dari aktifitas keseharian, dan malam hari suasana lebih kondusif dan khusyu.’
Bukan hanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tetapi ini juga perilaku para sahabat dan generasi setelah mereka.
Imam An Nawawi Rahimahullah menceritakan dalam kitab At Tibyan fi Aadab Hamalatil Quran, bahwa diriwayatlan oleh As Sayyid Al Jalil Ahmad Ad Dawraqi dengan sanadnya, dari Manshur bin Zaadaan, dari para ahli ibadah tabi’in – semoga Allah meridhainya- bahwasanya pada bulan Ramadhan dia mengkhatamkan Al Quran antara zhuhur dan ashar, dan juga mengkhatamkan antara maghrib dan isya, dan mereka mengakhirkan isya hingga seperampat malam.
Imam Abu Daud meriwayatkan dengan sanad yang shahih, bahwa Mujahid mengkhatamkan Al Quran antara maghrin dan isya. Dari Manshur, katanya bahwa Al Azdi mengkhatamkan Al Quran setiap malam antara maghrib dan isya pada bulan Ramadhan.
Ibrahim bin Sa’ad menceritakan: bahwa ayahku kuat menahan duduk dan sekaligus mengkhatamkan Al Quran dalam sekali duduk. Ada pun yang sekali khatam dalam satu rakaat shalat tidak terhitung jumlahnya karena banyak manusia yang melakukannya, seperti Utsman bin ‘Affan, At Tamim Ad Dari, Sa’id bin Jubeir –semoga Allah meridhai mereka- yang khatam satu rakaat ketika shalat di dalam Ka’bah.
Ada juga yang khatam dalam sepekan, seperti Utsman bin ‘Affan, Ibnu Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubai bin Ka’ab, dan segolongan tabi;in seperti Abdurrahman bin Yazid, Al Qamah, dan Ibrahim – semoga Allah merahmati mereka semua. (Lingkapnya lihat Imam An Nawawi, At Tibyan, Hal. 60-61)
3. Bersedekah
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai teladan kita telah mencontohkan akhlak yang luar biasa yaitu kedermawanan. Hal itu semakin menjadi-jadi ketika bulan Ramadhan.
Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, menceritakan:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling dermawan, dan kedermawanannya semakin menjadi-jadi saat Ramadhan apalagi ketika Jibril menemuinya. Dan, Jibril menemuinya setiap malam bulan Ramadhan dia bertadarus Al Quran bersamanya. Maka, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam benar-benar sangat dermawan dengan kebaikan laksana angin yang berhembus. (HR. Bukhari No. 3220)
4. Memberikan makanan buat orang yang berbuka puasa
Dari Zaid bin Khalid Al Juhani Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Barang siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang berpuasa maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana orang tersebut, tanpa mengurangi sedikit pun pahala orang itu. (HR. At Tirmidzi No. 807, katanya: hasan shahih. Ahmad No. 21676, An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 3332. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 3952. Dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 6415. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: hasan lighairih. Lihat ta’liq Musnad Ahmad No. 21676, Al Bazzar dalam Musnadnya No. 3775)
Para ulama berbeda pendapat tentang batasan “memberikan makanan untuk berbuka”. Sebagian menilai itu adalah makanan yang mengenyangkan selayaknya makanan yang wajar. Sebagian lain mengatakan bahwa hal itu sudah cukup walau memberikan satu butir kurma dan seteguk air. Pendapat yang lebih kuat adalah –Wallahu A’lam- pendapat yang kedua, bahwa apa yang tertulis dalam hadits ini sudah mencukupi walau sekedar memberikan seteguk air minum dan sebutir kurma, sebab hal itu sudah cukup bagi seseorang dikatakan telah ifthar (berbuka puasa).
5. Memperbanyak doa
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوم
Ada tiga manusia yang doa mereka tidak akan ditolak: 1. Doa orang yang berpuasa sampai dia berbuka, 2. Pemimpin yang adil, 3. Doa orang teraniaya. (HR. At Tirmidzi No. 2526, 3598, katanya: hasan. Ibnu Hibban No. 7387, Imam Ibnul Mulqin mengatakan: “hadits ini shahih.” Lihat Badrul Munir, 5/152. Dishahihkan oleh Imam Al Baihaqi. Lihat Shahih Kunuz As sunnah An Nabawiyah, 1/85. Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2526)
Berdoa diwaktu berbuka puasa juga diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Berikut ini adalah doanya:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, jika sedang berbuka puasa dia membaca: “Dzahaba Azh Zhama’u wab talatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah.” (HR. Abu Daud No. 2357, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7922, Ad Daruquthni, 2/185, katanya: “isnadnya hasan.” An Nasa’i dalam As sunan Al Kubra No. 3329, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1536, katanya: “Shahih sesuai syarat Bukhari- Muslim”. Al Bazzar No. 4395. Dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ No. 4678)
Sedangkan doa berbuka puasa: Allahumma laka shumtu ... dst, dengan berbagai macam versinya telah didhaifkan para ulama, baik yang dari jalur Muadz bin Zuhrah secara mursal, juga jalur Anas bin Malik, dan Ibnu Abbas. (Lihat Al Hafizh Ibnu Hajar, At Talkhish Al Habir, 2/444-445. Imam An Nawawi, Al Adzkar, 1/62. Imam Abu Daud, Al Maraasiil, 1/124, Imam Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 3/371. Syaikh Al Albani juga mendhaifkan dalam berbagai kitabnya)
6. Menyegerakan berbuka puasa
Dari ‘Amru bin Maimun Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
كان أصحاب محمد صلى الله عليه و سلم أعجل الناس إفطارا وأبطأهم سحورا
Para sahabat Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bersegera dalam berbuka puasa, dan paling akhir dalam sahurnya. (HR. Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 7916. Al Faryabi dalam Ash Shiyam No. 52. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf No. 9025)
Imam An Nawawi mengatakan: “sanadnya shahih.” (Lihat Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 6/362), begitu pula dishahihkan oleh Imam Ibnu Abdil Bar, bahkan menurutnya keshahihan hadits tentang bersegera buka puasa dan mengakhirkan sahur adalah mutawatir. (Lihat Imam Al ‘Aini, ‘Umdatul Qari, 17/9. Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 4/199)
7. I’tikaf di - ‘asyrul awakhir
Dalilnya berdasarkan Al Quran, As Sunnah, dan Ijma’, yakni sebagai berikut:
- Al Quran
وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
Janganlah kalian mencampuri mereka (Istri), sedang kalian sedang I’tikaf di masjid. (QS. Al Baqarah : 187)
- As Sunnah
Dari ‘Aisyah Radiallahu ‘Anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau diwafatka Allah, kemudian istri-istrinya pun I’tikaf setelah itu.(HR. Bukhari, No. 2026, Muslim No. 1171, Abu Daud No. 2462. Ahmad No. 24613, dan lainnya)
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشْرَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam I’tikaf di setiap Ramadhan 10 hari, tatkala pada tahun beliau wafat, beliau I’tikaf 20 hari. (HR. Bukhari No. 694, Ahmad No. 8662, Ibnu Hibban No. 2228, Al Baghawi No. 839, Abu Ya’la No. 5843, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan, 2/53)
- Ijma’
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah menceritakan adanya ijma’ tentang syariat I’tikaf:
وقد أجمع العلماء على أنه مشروع، فقد كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام، فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما.
Ulama telah ijma’ bahwa I’tikaf adalah disyariatkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beri’tikaf setiap Ramadhan 10 hari, dan 20 hari ketika tahun beliau wafat. (Fiqhus Sunnah, 1/475)
Hukumnya
Hukumnya adalah sunnah alias tidak wajib, kecuali I’tikaf karena nazar. Kesunahan ini juga berlaku bagi kaum wanita, dengan syarat aman dari fitnah, dan izin dari walinya, dan masjidnya kondusif. Imam Asy Syaukani Rahimahullah mengatakan:
وقد وقع الإجماع على أنه ليس بواجب ، وعلى أنه لا يكون إلا في مسجد
Telah terjadi ijma’ bahwa I’tikaf bukan kewajiban, dan bahwa dia tidak bisa dilaksanakan kecuali di masjid. (Fathul Qadir, 1/245)
Namun jika ada seorang yang bernazar untuk beri’tikaf, maka wajib baginya beri’tikaf.
Khadimus Sunnah Asy Syaikh Sayyid Sabiq mengatakan:
الاعتكاف ينقسم إلى مسنون وإلى واجب، فالمسنون ما تطوع به المسلم تقربا إلى الله، وطلبا لثوابه، واقتداء بالرسول صلوات الله وسلامه عليه، ويتأكد ذلك في العشر الاواخر من رمضان لما تقدم، والاعتكاف الواجب ما أوجبه المرء على نفسه، إما بالنذر المطلق، مثل أن يقول: لله علي أن أعتكف كذا، أو بالنذر المعلق كقوله: إن شفا الله مريضي لاعتكفن كذا.
وفي صحيح البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: " من نذر أن يطيع الله فليطعه "
I’tikaf terbagi menjadi dua bagian; sunah dan wajib. I’tikaf sunah adalah I’tikaf yang dilakukan secara suka rela oleh seorang muslim dalam rangka taqarrub ilallahi (mendekatkan diri kepada Allah), dalam rangka mencari pahalaNya dan mengikuti sunah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal itu ditekankan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sebagaimana penjelasan sebelumnya.
I’tikaf wajib adalah apa-apa yang diwajibkan seseorang atas dirinya sendiri, baik karena nazar secara mutlak, seperti perkataan: wajib atasku untuk beri’tikaf sekian karena Allah. Atau karena nazar yang mu’alaq (terkait dengan sesuatu), seperti perkataan: jika Allah menyembuhkan penyakitku saya akan I’tikaf sekian ..
Dalam shahih Bukhari disebutkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang bernazar untuk mentaati Allah maka taatilah (tunaikanlah).” (Fiqhus Sunnah, 1/475)
Wallahu A’lam [Ismed]
Label:
Fokus Ramadhan
20.49
Hadits Dhaif yang Bergentayangan Selama Ramadhan
Ditulis oleh: Habib Ziadi, S.Pd.I
Alumni Mahad Aly An-Nuaimy
Angkatan III
Dalam menjalankan ibadah Ramadhan, kaum Muslimin dituntut untuk membekali dirinya dengan beberapa kesiapan, baik itu fisik, materi, atau ilmu. Sebab, bila salah satu dari ketiganya luput, kualitas puasa kita yang akan jadi taruhannya.
Alumni Mahad Aly An-Nuaimy
Angkatan III
Dalam menjalankan ibadah Ramadhan, kaum Muslimin dituntut untuk membekali dirinya dengan beberapa kesiapan, baik itu fisik, materi, atau ilmu. Sebab, bila salah satu dari ketiganya luput, kualitas puasa kita yang akan jadi taruhannya.
Selanjutnya, menyiapkan poin terakhir di atas sangat urgen. Tidak hanya bagi masyarakat awam, tapi juga bagi para ustadz, dai atau muballigh. Mereka harus membekali diri dengan pengetahuan yang optimal seputar hukum puasa, agar dalam menyampaikan materi dakwah berdasarkan ilmu dan analisa. Sebab, pada kenyataannya, para dai banyak yang kurang teliti dan hati-hati dalam menyampaikan ilmunya. Contoh yang dikritisi pada artikel ini adalah dalam masalah mengutip hadits Nabi saw.
Telah dimaklumi kegigihan para ulama hadits (Muhadditsin) dalam menghimpun hadits Rasulullah saw dan membukukannya merupakan sumbangsih terbesar setelah pembukuan Al-Qur’an. Sebab, Hadits Nabawi adalah referensi hukum kedua setelah kitabullah. Para muhadditsin dengan metodologi yang sangat cermat dan teliti berusaha mensterilkan big project mereka dari virus-virus hadits maudhu’ dan dhaif agar sunnah Nabawiah tetap terpelihara keotientikannya.
Pada bulan Ramadhan, ternyata para dai kita tanpa disadari banyak menyepelekan jerih payah para muhadditsin di atas. Mereka tanpa beban kerap mensitir hadits-hadits dhoif bahkan maudhu’ tanpa mengklarifikasi derajat haditsnya. Pada akhirnya hadits-hadits tersebut begitu mudahnya diterima oleh masyarakat kita.
Contohnya beberapa kasus seperti doa, ”Allohumma barik lana fi Rojaba wa Sya’bana wa balligna Romadhona.”(HR. ahmad, At-Tobroni, Al-Bazzar dan Al-Baihaqi). Hadits ini ternyata sangat lemah. Ia diriwayatkan hanya melalui satu jalur saja yaitu dari Zaidah bin Abiroqqod. Ia adalah sumber cacat hadits ini. Imam Al-Bukhori, An-Nasa’I dan Ibnu Hajar menyebutnya sebagai mungkarul hadis artinya seorang yang amat fatal kesalahannya, pelupa, dan jelas kefasikannya. Setidaknya para dai bila ingin terus memakai doa ini, hendaklah tanpa menisbatkannya kepada Rasulullah saw atau sebagai pelajaran dengan menyertakan derajat hadisnya. Tentu itu lebih selamat. Demikian menurut Imam Ibnu Hibban.
Hadits kedua “permulaan Ramadhan itu rahmat, pertengahannya magfiroh dan penghabisannya adalah pembebasan dari neraka.” (HR. Addailamy dan Ibnu ‘Asakir). Ungkapan yang sangat masyhur ini selalu didengungkan oleh para dai tapi sedikitpun mereka tidak pernah menyertakan kualitas haditsnya. Menurut Imam As-Suyuti dan al-Hafizh Ibnu Hajar, hadis ini amat lemah. Sedang menurut Syeikh Albani, hadis ini mungkar. Otak masalahnya adalah karena terdapat dua orang perawi yaitu Sallam bin Sawwar dan Maslamah Bin Al-Salt. Perawi pertama adalah seorang mungkarul hadis menurut Ibnu ‘Adi. Adapun Imam Khotib Al-Bagdadi menegaskan tidak boleh berhujjah dengan hadisnya. Adapun Maslamah juga setali tiga uang dengan Sallam bin Sawwar.
Berpedoman dengan hadits mungkar di atas, otomatis menyetujui klasifikasi Ramadhan menjadi 3 bagian, padahal Ramadhan tidak mengenal pengklasifikasian seperti itu (rahmat, magfiroh, dan pembebasan dari neraka). Ramadhan adalah bulan yang menghimpun tiga keutamaan itu dari awal sampai akhirnya.
Ketiga: ”Sedekah paling baik adalah bersedekah pada bulan Ramadhan.” Hadits yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Imam Tirmizi dan Al-Baihaqi dari jalur Sodaqoh bin Musa. Imam Abu Hatim menganggapnya terlalu lunak walaupun haditsnya ditulis tapi tidak bisa dipakai berdalil. Imam Tirmizi sendiri memiliki komentar miring terhadap Sadaqoh. Alangkah baiknya para dai dan penceramah tidak menggunakan hadits ini sebagai dalil kecuali bila disertai dengan menyebut komentar para ulama.
Hadits keempat yang tak kalah masyhur, ”Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ”seandainya ummatku mengetahui pahala ibadah bulan Ramadhan, niscaya mereka menginginkan agar Ramadhan menjadi satu tahun penuh.” Hadits yang dikutip oleh Syaikh Usman al-Khubari dalam kitabnya, Durroh An-Nasihin, sebuah kitab yang banyak dikritik oleh para muhadditsin karena kandungan hadits-hadits lemah, palsu, dan kisah-kisah imajinatif (DR. Luthfi Fathullah telah menghimpun semuanya menjadi sebuah buku).
Hadits yang sebenarnya panjang ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya, Al-Baihaqi dan Abu ya’la. Matannya berisi janji muluk-muluk diantaranya bahwa siapapun yang berpuasa Ramadhan sehari, ia akan beristrikan seorang bidadari dengan diskripsi yang sangat elok. Secara keseluruhan terdapat musykil di dalam hadits ini, baik dari segi matan dan sanadnya. Dalam sanadnya terdapat Jarir bin Ayyub Al-Bajali yang oleh Imam Ibnu Jauzi dinilai pemalsu hadits, matruk dan mungkar. Tiga predikat tadi memperparah derajat hadits ini. Ibnu Hajar di dalam Lisanul Mizan menilai Jarir masyhur dengan kelemahannya. Sebenarnya Imam Ibnu Khuzaimah pun ragu akan keshahihannya. Terbukti beliau menambahkan catatan “jika hadis ini shahih”, setelah menulisnya.
Kelima, Ungkapan yang paling rada aneh lalu dianggap hadis adalah, ”Tidurnya orang berpuasa itu ibadah, diamnya adalah tasbih, amalnya berlipat ganda, doanya makbul, dan dosanya diampuni.” (HR. Al-Baihaqi) Kalimat pertama kerap dijadikan dalih bagi para pemalas yang menghabiskan waktunya dengan tidur-tiduran. Adapun kalimat berikutnya tak pernah disebut-sebut. Oleh Imam Al-Baihaqi sendiri, beliau menilai hadis ini dhoif karena terdapat Ma’ruf bin Hisan dan Sulaiman bin Amr Al Nakha’I di dalam rantai sanadnya. Imam Ahmad, Al-Iraqi, dan Al-Minawi sepakat menyebut Sulaiman sebagai pendusta dan pemalsu hadis. Ternyata hadis yang selama ini sering kita jadikan dalih adalah hadis palsu.
Keenam, “Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”
Hadis tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Nahsyal termasuk yang ditinggal karena dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Diriwaatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhair bin muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. Dan sanad hadits ini lemah. Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya (Zuhair bin Muhammad) jelek.”
Hadis tersebut merupakan potongan dari hadits riwayat Ibnu Adi di dalam Al Kamil dari jalan Nahsyal bin Sa’id, dai Ad Dhahhak dari ibnu Abbas. Nahsyal termasuk yang ditinggal karena dia pendusta dan Ad Dhahhak tidak mendengarkan dari ibnu Abbas. Diriwaatkan pula oleh Abu Nu’aim dalam Ath Thibun Nabawiy dari jalan Muhammad bin Sulaiman bin Abi Daud, dari Zuhair bin muhammad, dari Suhail bin Abi Shalih dari Abi hurairah. Dan sanad hadits ini lemah. Ibnu Abi Hatim berkata, “Hafalannya (Zuhair bin Muhammad) jelek.”
Tidak bisa dipungkiri bahwa puasa berdampak positif bagi kesehatan. Kini puasa banyak disarankan oleh para pakar sebagai terapi penyembuhan. Namun, kita perlu hati-hati mensitir ungkapan di atas sebagai hadits Nabi saw.
Catatan terakhir adalah jawaban Rasul Saw saat ditanya tentang resep kesehatan beliau dan para sahabat, ”Kami adalah kaum yang tidak makan sehingga kami lapar dan apabila kami makan tidak sampai kenyang.” Jawaban yang tidak bertentangan dengan ilmu kesehatan. Tapi apakah itu benar sabda Nabi saw? Prof. DR. KH. Ali Mustafa Yaqub telah menelusuri asal-usul hadis ini, tetapi tak kunjung ditemui dalam kitab-kitab hadis. Beliau malah menemukannya dalam kitab al-Rahmah Fitthib wal hikmah karya Imam As-Suyuti. Ternyata hadis di atas adalah jawaban seorang thabib dari Sudan saat ditanya oleh Kisra Persia tentang obat apa yang paling manjur.
Kisah di atas juga dinukil oleh Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam kitab Madarij Al-Shu’ud. Dengan ini cukuplah bagi para da’i sebuah hadis yang dianggap shohih oleh para ulama seperti hadis sepertiga untuk makanan, sepertiga minuman dan sepertiganya lagi untuk minuman untuk disampaikan kepada jamaah agar tidak berlebih-lebihan dalam berbuka.
Untuk lebih lengkapnya, para pembaca dapat menelaah hadis-hadis bermasalah seputar Ramadhan dalam kitab Tahzhirul Khillan min Riwayatil Ahaditsi Ad-Daifah Haula Romadhon karya Syaikh Ibnu Umar Abdullah Muhammad Al-Hamadi, buku Majalis Ramadhaniah karya Syaikh Dr. Salman Fahd Al-Audah, buku Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan karya Prof.KH. Ali Mustafa Yaqub, salah seorang muhaddits ternama Indonesia, buku Sifat Puasa Nabi Sallallahu Alaihi wa Sallam karya Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid Salim Al Hilali. Tulisan ini banyak diambil dari referensi di atas.
Mengingat betapa pentingnya menjaga diri agar tidak terjebak dalam menyampaikan berbagai ungkapan atas nama Nabi saw dan mengingat para dai adalah penyambung lidah Nabi saw, sungguh tidak pantas apabila mereka enggan menyeleksi dalil-dalil yang mereka sampaikan. Hadits-hadits bermasalah di atas sudah bergentayangan. Padahal para ulama jauh-jauh hari sudah mengoreksinya lewat karya-karya mereka. Semoga semua ini bukan kesengajaan karena “Barangsiapa yang berbohong atas atas namaku secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”(Muttafaq Alaih) Wallohu a’lam. [habib/Pengasuh Ponpes Darul Muhibbin NW Mispalah Lombok Tengah]
Label:
Fokus Ramadhan
20.43
Kekuatan Ramadhan dalam Surat Al Baqarah 183
Ikhwah fillah Rahimakumullah, Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
"[2:183] Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"
Kalau mendengar atau membaca ayat diatas, kita jadi ingat dengan satu bulan yang spesial, bulan yang utama, yakni bulan Ramadhan. Yah, dan sebentar lagi (kurang lebih seminggu), kita insya Allah akan berjumpa kembali dengan bulan yang mulia itu. Namun, kita kadang hanya ingat ayat tersebut sebagai ayat yang berkenaan dengan bulan Ramadhan, tanpa mengetahui makna, rahasia dan kekuatan dari ayat tersebut yang bisa membuat kita bersemangat dalam menjalankan ibadah shaum dibulan Ramadhan.
Dikutip dari seorang Doktor dibidang tafsir, Ustad Sami'un Jazuli pada kajian Ba'da Dzuhur di Majlis Taklim Telkomsel, berikut akan coba saya paparkan inti dari 5 kekuatan surat Al Baqarah ayat 183,
1. Iman,
Percaya yaitu Kemudian membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan dan mengamalkan dalam perbuatan. itulah Iman. secara bahasa percaya atau yakin. Percaya kepada siapa? kepada apa? Percaya kepada 6 rukun iman, yaitu kepada Allah, malaikat, rasulNya, kitabNya, Hari akhir, Qadha dan Qadar.
Subhanallah, Allah menyeru dalam ayat ini hanya kepada orang yang beriman yang cirinya disebutkan diatas, siapa yang beriman?
mereka yang percaya kepada Allah. konsekuensinya adalah mengerjakan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. mereka juga yang percaya kepada malaikatNya. Sehingga dalam kesehariannya mereka yang beriman merasa senantiasa diawasi.
Mereka yang percaya kepada KitabNya. Yang senantiasa membaca dan mentadaburi Al Qur'an dan mengamalkan setiap isinya.
Mereka yang percaya kepada RasulNya. Yang menjadikan Rasul sebagai teladan, yang mengikuti sunah beliau.
Mereka yang percaya hari Akhir. Sehingga mereka senantiasa menjaga amalnya, menjaga lisannya dan menjaga hatinya. Karena semua akan dimintai pertanggungjawab di hari akhir.
Dan terakhir mereka yang yakin dengan qadha dan qadar. yakin dengan takdir dan ketetapan Allah swt.
Allah swt menyediakan dan menyeru kepada mereka untuk berpuasa dibulan Ramadhan. Maka berbahagialah mereka yang beriman dan yang senantiasa menyempurnakan keimanannya, karena mereka adalah orang2 spesial yang diseru oleh Allah.
2. Karakter,
Ada pertanyaan menarik, kenapa Allah menyebutkan kalimat wajib dengan "kutiba"? Padahal, dalam bahasa arab bisa juga dengan kata wajib langsung, bukan dengan kutiba. Bahkan kutiba dalam bahasa Arab artinya menulis/ dituliskan?
Inilah keagungan Allah swt, bukti keindahan Al Qur'an. Dalam Bahasa Arab, kutiba artinya dituliskan. Dalam kesehariannya, sering digunakan ketika seseorang menulis diatas sebuah batu yang tulisan tersebut bertahan sangat lama dan bahkan mungkin tidak bisa dihapus. Inilah rahasia kenapa Allah menggunakan kata Kutiba, karena Allah ingin menjadikan Ramadhan sebagai karakter kuat yang dituliskan kedalam dada manusia yang beriman. SUBHANALLAH.
Maka berbahagialah mereka yang beriman, karena begitu spesialnya Allah memperlakukan mereka dengan Ramadhan ini.
3. Shiyam/ Shaum
Secara bahasa artinya menahan (Imsak). menahan diri dari yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tidak hanya menahan dari yang membatalkan, akan tetapi juga menahan dari yang mengurangi nilai atau pahala puasa.
4. Umat terdahulu,
Shaum bukan hanya dimiliki atau dilakukan oleh umat nabi Muhammad saja, akan tetapi umat-umat terdahulu. Artinya, kita adalah bagian dari rombongan umat itu. Ya. Rombongan umat yang taat dan beriman kepada Allah sejak Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, kita ikut bersama mereka dalam berpuasa, ikut menjadi bagian dari manusia-manusia terbaik dimuka bumi ini. Berbahagialah kita, karena Allah mengumpakan kita dengan umat2 terdahulu dalam berpuasa.
5. Taqwa.
Kekuatan yang kelima dan juga yang menjadi tujuan utama dalam perintah Allah Surat Al Baqarah ayat 183 adalah Takwa. Predikat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang spesial yang bisa menjalankan ibadah Ramadhan dengan optimal dan maksimal, yang menahan diri mereka dari yang mengurangi pahala puasa, yang mengharap ridho dan balasan dari Allah swt, yang takut terhadap dosa dan hukuman dari Allah swt.
Subhanallah Allahu Akbar.
Mari kita berusaha dengan optimal, memanfaatkan bulan yang Allah sediakan bagi mereka yang beriman. Berjuang untuk mendapatkan pahala berlimpah dengan maksimal. Berjuangan untuk mendapatkan ampunan Allah swt, berjuangan menghimpun semua amal kebaiakn dibulan yang mulia ini.
kelima kekuatan tadi semoga bisa menjadi pemicu bagi kita, penyemangat yang membakar motor keimanan kita.
Semoga Kita dipertemukan dengan Ramadhan dalam keadaan yang sehat jasmani dan ruhani dan penuh dengan bahan bakar keuatan iman.
Wallahu'alam. [ismed]
Label:
Fokus Ramadhan
20.41
Senyuman di wajah orang-orang beriman terpancar tatkala Ramadhan semakin dekat menghampiri. Tamu mulia dan agung ini datang dengan memberikan banyak kebahagiaan kepada orang beriman, bagaimana tidak, saat jiwa yang telah kelelahan mengejar dunia, kini Ramadhan datang untuk membersihkan hati-hati mereka dengan nuansa ibadah yang begitu kental serta dijanjikan dengan berlipat ganda pahala untuk bekalan mereka menuju akhirat, bahagia karena jiwa-jiwa yang berlumuran dosa akan kembali disucikan dengan taubat nasuhah, bahagia karena memang jiwa-jiwa orang beriman membutuhkan bekalan tambahan berupa kekuatan iman yang extra untuk menghadapi beratnya kondisi kehidupan, kekuatan ruhiyah yang mampu membuatnya bertahan dan tetap optimis melangkah di jalan yang benar, bahkan menjadi sangat dibutuhkan oleh seluruh umat islam untuk keluar dari kondisi berat yang mereka hadapi, maka ramadhan selalu datang pada saat yang tepat untuk menjadi hiburan bagi orang-orang beriman.
Orang Beriman Menyambut Ramadhan
Bulan ini disebut tamu agung, karena banyak peristiwa agung yang pernah terjadi di dalamnya, diantaranya: Nuzulul Quran, Perang Badar, turunnya wahyu pertama di Gua Hira, meninggalnya paman Nabi tercinta, Abu Thalib, serta istri beliau Khadijah pada tahun ke-10 kenabian, mulainya diwajibkan Zakat Fitrah pada tahun ke-2 Hijriyah, dimulainya persiapan perang khandak pada tahun ke-5 hijriyah, peristiwa penaklukan kota Mekah atau Fathu Makkah yang terjadi pada tanggal 21 Ramadhan tahun ke-8 Hijriyah, Perang Tabuk pada tahun ke-9 Hijriyah, dan masih banyak lagi peristiwa yang agung lainnya terjadi pada masa awal dakwah Islam dan setelahnya, bahkan kemerdekaan bangsa Indonesiapun terjadi pada bulan ramadhan.
Bulan ini disebut tamu istimewa karena keistimewaan yang dikhususkan padanya, seperti: Lailatul Qadr, yaitu nilai ibadah yang lebih baik dari pada seribu bulan saat orang beriman beribadah pada malam itu, bulan dilipat gandakannya pahala, amalan sunah dihitung sebagai pahala wajib, umrah pada bulan ini mendaatkan pahala sebagaimana haji bersama Rosulullah, dll.
Maka agar keagungan dan keistimewaan ramadhan dapat dirasakan, kemudian dapat dimanfaatkan dengan baik dan optimal, maka selayaknya setiap orang beriman mempersiapkan diri untuk menyambutnya.
Hal yang biasa dilakukan jika seseorang ingin menyambut tamunya, dia akan mempersiapkan dirinya, merapikan ruang tamunya, bahkan mempersiapkan makanan yang juga istimewa untuk disediakan buat tamunya.
Apalagi ini adalah tamu agung dan sangat istimewa, yang akan selalu bersama di rumah kita selama satu bulan lamanya. Maka tentu persiapannya bukanlah persiapan biasa-biasa saja, maka akan sangat tidak wajar jika seorang yang akan kedatangan pejabat saja, ia begitu sibuk mempersiapkan segala sesuatunya agar tidak merasa malu, sedangkan dengan kedatangan ramadhan dia biasa-biasa saja.
Lalu apa yang perlu kita persiapkan untuk menyambut ramadhan ini?
Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan agar kita mampu mengisi bulan yang penuh berkah ini dengan kegiatan yang dapat menambah bobot umur kita ketika kita menghadap Allah SWT.
Pertama: Persiapan Individu
Ini adalah persiapan yang paling utama kita lakukan, secara individu kita harus mempersiapkan kedatangan bulan ini secara optimal, karena persiapan ini akan mempengaruhi baik tidaknya kita mengisi amaliah ramadhan. Di antara persiapan individu yang harus kita lakukan adalah:
a. Persiapan Rohani
Ini adalah persiapan yang paling utama karena kekuatan ruh inilah yang akan menjadi motor penggerak segala bentuk ibadah kita, baik sebelum, ketika dan setelah ramadhan. Rasulullah mempersiapkan diri beliau dari sisi ini sangat luar biasa, yaitu dengan melaksanakan puasa sya’ban. Hal tersebut beliau lakukan dalam rangka mempersiapkan dan menyongsong kedatangan bulan Ramadhan. Disamping itu kita dianjurkan untuk banyak istighfar dan memohon serta memberi maaf agar kedatangan bulan suci kita sambut dengan hati bersih dari segala bentuk dosa dan perselisihan, rasa dengki dan penyakit-penyakit hati yang lainnya. Bahkan para salafus shalih berdoa selama 6 bulan agar mereka disampaikan hingga bulan ramadhan dan kemudian berdoa pasca Ramadhan selama 6 bulan agar ibadah mereka diterima”.
b. Persiapan Ilmu
Agar ibadah kita benar dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah maka kita harus memahami ilmunya, untuk itu kita harus membaca dan menelaah buku-buku yang berbicara tentang puasa agar kita dapat mengetahui syarat dan rukun puasa serta hal-hal yang dapat membatalkan serta menghilang nilai puasa, serta banyak permasalahan puasa yang perlu mendapat penjelasan lebih dalam dari ulama dan pakar syariah, tentang hal-hal yang sering terjadi menyangkut ibu hamil dan menyusui yang tidak dapat berpuasa, orang tua yang sakit, serta tentang permasalahan ilmu kedokteran yang ada hubungannya dengan ibadah puasa.
c. Persiapan Jasmani
Tubuh adalah salah satu komponen yang penting dan harus kita persiapkan dalam menyambut bulan ramadhan, karena tanpa jasmani yang sehat kita tidak akan mampu melaksanakan ibadah puasa, membaca Al-Quran, sholat tarawih dan qiyamullail. Menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh merupakan salah satu modal penting dalam melaksanakan segala perintah Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda, ”Seorang mu’min yang kuat lebih baik dan lebih dicintai dari mu’min lemah dan keduanya adalah baik”.
d. Persiapan Akhlak dan Moral
Agar puasa pada ramadhan tahun ini meningkat dari tahun sebelumnya, sehingga sampai kepada puasa Khawaasul Khawash seperti pembagian Imam Ghazali, yaitu puasanya di dunia karena karena Allah, ia menjaga kepala dan apa yang dibawahnya, menjaga perut dan apa yang di sekelilingnya dan mengingat mati serta apa yang terjadi setelah kematian, menjadikan orientasi hidupnya adalah akherat. Sehingga terhindar dari apa yang disampaiakn oleh Rosulullah, “Berapa banyak orang yang puasa namun mereka tidak mendapatkan dari puasa mereka kecuali lapar dan haus” (HR.Thabrani, Ahmad dan Baihaqi).
Diantara hal yang harus dijaga dari saat ini adalah:
1.Menjaga penglihatan dan menghindarinya dari obyek yang tidak baik. Rasulullah saw bersabda, ”Penglihatan adalah panah dari panah beracun iblis”.
2.Menjaga lisan dari perkataan yang bathil dan tdk bermanfaat. Rasulullah saw bersabda, ”Apabila kalian sedang berpuasa janganlah berkata dengan perkataan kotor (keji) dan janganlah melakukan perbuatan tercela, apabila ada orang yang menghina katakan kepadanya bahwa saya sedang puasa” (HR. Muttafaq ‘alaihi). Rasulullah saw, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong maka Allah tidak menperdulikan ibadah puasanya” (HR. Ibnu Majah).
3.Menjaga pendengaran dari hal-hal yang bathil, seperti ghibah, serta hal-hal yang diharamkan lainnya.
e. Persiapan Materi
Dari Abi Hurairah ra bahwasanya Rasulullah saw bersumpah tidak ada bulan yang paling baik bagi orang beriman kecuali bulan Ramadhan, dan tidak ada bulan yang paling buruk bagi orang munafik kecuali bulan Ramadhan, dikarenakan pada bulan itu orang beriman telah menyiapkan diri untuk berkonsentrasi dalam beribadah dan sebaliknya orang munafik sudah bersiap diri untuk menggoda dan melalaikan orang beriman dari beribadah” (HR.Imam Ahmad).
Para ulama menjelaskan maksud hadits ini ”dikarenakan orang beriman telah menyiapkan diri untk berkonsentrasi dalam beribadah” adalah: Hal itu dikarenakan orang beriman telah menyiapkan diri dari sisi materi untuk memberikan nafkah kepada keluarganya karena mereka ingin konsentrasi beribadah, sebab memperbanyak Qiyam lail menyebakan mereka harus banyak tidur di waktu siang dan memperbanyak I’tikaf menyebabkan mereka tidak bisa untuk beraktifitas di luar masjid, hal ini semua menyebabkan mereka tidak bisa untuk melakukan aktifitas mencari nafkah, maka itu mereka mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum datang bulan Ramadhan agar mereka dapat berkonsentrasi beribadah serta mendapatkan keutamaan bulan yang mulia ini”.
Dari kitab Shahihain Ibnu ‘Abbas ra berkata ”Rasulullah adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau semakin dermawan pada bulan Ramadan ketika berjumpa dengan Jibril untuk bertadarus Al-Quran, kedermawanan Rasulullah ketika itu bagaikan angin yang berhembus”. Maka tanpa persiapan dari sisi materi kita tdk akan mampu mencontoh dan mengikuti kedermawanan Rasulullah saw.
Kedua: Persiapan Lingkungan Masyarakat
Lingkungan adalah faktor yang penting dalam menyiapkan diri menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan, sebab lingkungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam mendukung proses pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan. Di antara hal yang perlu di lingkungan kita adalah:
1. Rumah,
Ia adalah lingkungan yang paling utama dalam kehidupan seorang, maka sebagai orang beriman harus mengkondisikan tempat tinggal kita agar dapat menunjang kekhusuan amaliah ibadah kita selama bulan Ramadan. Di antara hal yang harus kita perhatikan dalam mengkondisikan rumah adalah TV, karena TV merupakan media utama pengganggu kekhusuaan ibadah kita, dan akan menghabiskan waktu kita sia-sia dari membaca Al-Quran dan ibadah lainnya.
2. Tetangga
Hal ini dapat kita lakukan dengan berkoordinasi dengan para tokoh masyarakat baik Ketua RT dan RW untuk bahu membahu saling mengingatkan bersama-sama mempersiapkan diri menyambut ramadhan serta saling menjaga kekhusuan selama beribadah di bulan ramadhan.
3. Masjid dan Mushalla
Tempat ibadah juga harus kita siapkan dalam menyambut bulan suci Ramadan, baik dengan cara mengadakan pembersihan serta merapikan di bagian dalam dan di luar tempat sholat, karena dengan masjid dan musholah yang bersih dan rapi serta fasilitas yang memadai akan menambah kekhusuan ibadah tarawih dan I'tikaf bagi orang-orang yang beribadah di sana.
4. Kantor
Tempat bekerja juga mempunyai peranan yang sangat penting dalam dalam menyambut dan mengoptimalkan ramadhan, karena sebagian besar hari-hari yang dilalui oleh masyarakat perkotaan adalah di kantor. Perkantoran juga dapat mengisi kegiatan ramadhan dengan kajian keilmuan yang bermanfaat bagi karyawannya, seperti ceramah agama setelah sholat zhuhur yang mengupas permasalahan puasa atau permasalahan umum lainnya dengan menghadirkan para ustadz. Atau juga melakukan tadarus Al-Quran di antara para karyawan. Sehingga kantor tersebut juga mendapat keberkahan.
5. Pasar
Agar pelaksaan ibadah selama ramadhan tidak terganggu dengan kesibukan di pasar, keperluan rumah tangga hendaklah mulai disiapkan seperlunya, karena biasanya kebutuhan dan harga meningkat menjelang ramadhan. Serta harus menjadi kesadaran bagi para pedagang, terutama bagi mereka yang menjual makanan untuk santap siang, untuk juga dapat menghormati kaum muslimin yang berpuasa dengan mengubah jadwal jualannya setelah sholat asar dan setelah tarawih, sehingga nuansa ramadhan juga terlihat bukan hanya di masjid namun juga di pasar. Perlu diyakini bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, jadi ketika ia menghormati orang yang berpuasa insya Allah keberkahannya akan semakin bertambah.
Wallahu'alam bishowab.
Zulhamdi M. Saad, Lc [ikadi]
Label:
Fokus Ramadhan
20.31
Gembira Menyambut Ramadhan
Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas nabi dan rasul termulia: Muhammad SAW, juga atas keluarga dan para sahabat, serta kepada semua yang mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat nanti.
Ramadhan Kariim, Marhaban Ya Ramadhan … Bulan Ramadhan telah benar-benar datang menjelang. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah sebelas bulan kita mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah momentum yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita sadari.
Kaum Muslimin yang berbahagia …
Sungguh kita semua bergembira sepenuh hati dengan datangnya Ramadhan yang penuh berkah. Rasa gembira ini adalah cerminan ketakwaaan yang ada dalam hati kita, karena sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama kita, yang harus senantiasa kita hormati dan agungkan. Allah SWT berfirman:
“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS Al-Hajj 32)
Karenanya, sungguh mengherankan jika ada sebagian kaum muslimin yang justru merasa berat dengan hadirnya Ramadhan, merasa bahwa Ramadhan mengekang segala kebebasan dan kemerdekaannya. Atau ada pula yang merasa biasa-biasa saja, merasa bahwa Ramadhan hanyalah rutinitas belaka, yang datang silih berganti sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sikap seperti ini, tentu saja bukan cerminan ketakwaan yang ada dalam hati. Melainkan timbul dari hati yang sakit atau jiwa yang lekat dengan maksiat. Tentu saja kita berlindung dari sikap yang demikian …Naudzu billah tsuma naudzu billah
Ma’asyirol mukminin rahimakumullah …
Kegembiraan kita tentu saja bukan sebagaimana kegembiraan anak-anak kecil dengan hadirnya Ramadhan. Karena mereka juga bergembira dengan datangnya bulan mulia ini, karena mempunyai waktu banyak untuk bermain bersama teman, bahkan –mungkin saja- gembira karena adanya petasan, dan janji pakaian baru di hari lebaran. Kegembiraan yang semacam ini tentu saja melekat pada diri anak-anak semata, tapi bukan kegembiraan yang kita maksudkan dalam menyambut Ramadhan yang mulia. Begitu pula kegembiraan kita bukanlah kegembiraan anak –anak yang beranjak remaja. Dimana mereka bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena mempunyai banyak kesempatan untuk jalan-jalan menghabiskan waktu bersama teman atau bahkan pasangannya. Banyak kita saksikan kesucian Ramadhan ternoda, dengan mudamudi yang justru menggunakan waktu-waktu ibadah untuk saling PDKT satu sama lainnya.
Naudzu billah tsumma naudzu billah ..
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala …
Sesungguhnya kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena bulan ini membawa banyak keutamaan bagi kita semua. Jika kita merenunginya satu persatu lebih mendalam, maka tentulah kegembiraan itu akan kian bertambah lengkap dan sempurna. Marilah kita melihat beberapa keutamaan Ramadhan yang menjadikan alasan kita bersuka cita menyambutnya …
Pertama : Karena Ramadhan bulan penggugur dosa kita
Rasulullah SAW bersabda dengan lisannya yang mulia:
”Shalat lima waktu, shalat jum’at sampai ke shalat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar ditinggalkan”. (HR. Muslim)
Hadirnya Ramadhan sungguh menjadikan momentum bagi kita untuk membersihkan diri dari segala noda dosa dan kemaksiatan yang tidak kita sadari. Ibaratnya pakaian yang sehari-hari kita pakai, meskipun tidak terkena lumpur atau kotoran yang jelas, tetap saja kita harus mencucinya karena ada debu yang melekat erat. Begitupun diri kita, sekalipun kita tidak menjalani dosa besar, namun tentu saja tanpa kita sadari terkadang ada hal yang kita lakukan menyebabkan noda kecil dalam hati kita, bisa jadi melalui lisan, pandangan, atau bahkan anggota badan kita.
Astaghfirullahal adziim … Hasbunallah wa nikmal wakiil.
Inilah yang membuat kita bersuka cita karena mendapat kesempatan untuk menyucikan diri dari kita. Maka marilah kita menjalankan ibadah di dalamnya dengan penuh iman dan pengharapan, serta memperbanyak istighfar, agar benar-benar Ramadhan ini menjadi bulan pengampunan.
Bahkan diriwayatkan pula, bagaimana malaikat Jibril as melaknat mereka yang mendapati Ramadhan, tetapi tidak diampuni dosan-dosanya. Semoga ini bisa menjadi cermin bagi kita semua.
Kaum muslimin yang berbahagia …
Hal kedua yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan merupakan bulan musim kebaikan, dimana kita semua menjalankan ibadah dengan penuh semangat, berbondongbondong dan sungguh terasa lebih ringan. Inilah yang dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW, tentang Ramadhan sebagai musim kebaikan yang menakjubkan :
“(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) sampai berakhirnya ramadhan” ( HR Ahmad)
Inilah yang menjadikan kita bergembira, karena kebaikan begitu mudah dijalankan. Bersama sama kita lihat di masjid, mushola, bahkan di rumah-rumah kita, bagaimana Ramadhan menyinari kita dengan banyak amal dan kegiatan yang tak putus dan henti-hentinya. Dari mulai pagi hari hingga malam menjelang, bergantian kita melaksanakan amal kebaikan yang begitu beragam. Subhanallah walhamdlillah …..
Kaum muslimin yang berbahagia …
Hal ketiga yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan adalah bulan dimana ukhuwah kita meningkat. Bayangkan saja, bagaimana hari-hari ini dipenuhi dengan banyak pertemuan antar jamaah masjid, dari mulai sholat tarawih berjamaah, tadarusan selepas tarawih, hingga sholat shubuh berjamaah …. Kaum muslimin berkumpul setiap harinya dan merasakan keindahan ukhuwah yang luar biasa. Bahkan bukan hanya di luar rumah, di dalam rumah pun kita menemukan keharmonisan yang bertambah saat Ramadhan tiba. Banyak kesempatan untuk berkumpul antar anggota keluarga, khususnya saat buka puasa dan sahur menjelang. Ini semua tanpa kita sadari, sungguh membuat hati kita lebih tenteram dan nyaman.
Lebih siap untuk menjalani semua aktifitas dan tantangan dalam kehidupan ini.
Kaum muslimin yang berbahagia …
Yang terakhir, tentu saja kita bergembira dalam bulan Ramadhan ini karena Allah SWT banyak menjanjikan pahala kemuliaan bagi kita semua melalui amal-amal yang ada di dalamnya. Setiap amal mempunyai keutamaannya masing-masing. Khususnya kita bergembira karena di dalam Ramadhan ada satu malam yang mulia, yaitu lailatul qadar yang bernilai melebihi seribu bulan.
Ini menjadi kesempatan yang sungguh kita impikan, untuk mendapatinya dengan
memperbanyak ibadah pada malam tersebut. Akhirnya, marilah kegembiraan ini kita jadikan sebagai pemicu awal untuk lebih bersemangat dalam mengarungi samudera keberkahan Ramadhan dengan ragam ibadahnya yang mulia. Kita menjalaninya satu persatu dengan ringan penuh suka cita, agar semua yang dijanjikan bisa kita dapatkan dalam Ramadhan ini. Semoga Allah SWT memudahkan …..
Allahumma sholli ala muhammad wa ‘ala aalihi wa ashabihi ajmain.
source: www.indonesiaoptimis.com
Label:
Fokus Ramadhan
20.25
Menyambut Ibadah Ramadhan
Ditulis Oleh: Muhammad Sofwan Abbas, MA
Dosen Mahad Aly An-Nuaimy
Dosen Mahad Aly An-Nuaimy
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: 183)
1. Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat memuliakan umat Islam. Hal itu karena dengan bulan ini, umat Islam bisa menjadi orang yang bertakwa. Yaitu orang yang selalu melaksanakan apa yang diperintahkan Allah swt. dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya dengan motivasi takut kepada siksaan-Nya dan mengharap surga-Nya.
2. Agar umat Islam menyambut dan memanfaatkannya dengan baik, Allah swt. menyediakan banyak keistimewaan di dalamnya sehingga menjadi bulan yang terbaik di antara bulan-bulan yang lain. Hal ini wajar saja, karena hal tersebut merupakan sebuah sunnatullah. Bahwa Allah swt. menjadikan sejumlah waktu dan tempat lebih mulia dari waktu dan tempat yang lain. Allah swt. juga menjadikan sejumlah amalan lebih mulia dari amalan-amalan yang lain.
a. Semua tempat pada dasarnya sama saja, bisa untuk beribadah. Seperti hadits Rasulullah saw. (وجعلت لنا الأرض كلها مسجدا). Di mana saja kita dibolehkan melaksanakan shalat. Namun beliau juga bersabda (لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى), rupanya ada beberapa masjid yang diistimewakan, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha. Pahala shalat di masing-masing masjid tersebut berbeda.
b. Demikian juga dengan waktu. Seluruh waktu, selama manusia masih hidup, adalah bisa digunakan untuk beribadah. Namun ada beberapa waktu yang dibedakan Allah swt., dan dijadikan sebagai waktu yang istimewa.
1) Siang hari yang paling baik adalah wukuf di Arafah.
2) Malam hari yang paling baik adalah Lailatul Qadar.
3) Hari yang paling baik adalah hari Jumat.
4) 10 hari yang paling baik adalah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.
5) Bulan yang paling baik adalah bulan Ramadhan, yang berjumlah 29-30 hari. Dari sejumlah hari tersebut, 10 hari terakhir lebih diistimewakan. Dari 10 hari tersebut, 5 hari ganjil lebih diistimewakan. Dari 5 hari tersebut, 1 malam Lailatul Qadar lebih diistimewakan. Dari 1 malam tersebut, seperempat malam terakhir itu lebih diistimewakan.
3. Ini adalah keistimewaan untuk umat Islam. Tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain. Hingga pahala umat Islam bisa lebih banyak dari pahala umat-umat yang lain. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, “Orang Yahudi beramal hingga waktu dhuhur. Orang Nasrani beramal dari dari waktu dhuhur hingga waktu ashar. Sedangkan umat ini beramal dari waktu ashar hingga maghrib.” Namun pahala umat Islam jauh lebih besar dari pahala umat Yahudi dan Nasrani.
4. Walaupun demikian, masih banyak umat Islam yang melalaikan keistimewaan ini hingga tidak dapat memanfaatkannya. Seperti disebutkan dalam sebuah hadits (نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ). Ada dua macam kenikmatan yang seringkali orang tertipu dan tidak bisa memanfaatkannya; nikmat kesehatan dan keluangan waktu.
5. Untuk dapat memanfaatkannya dengan baik, perlu dilakukan beberapa persiapan. Di antaranya adalah:
a. Menyiapkan keiskhlasan. Ibadah-ibadah yang diterima adalah yang dilakukan dengan ikhlah, seperti dalam ayat (الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ). Oleh karena itu, tentang ibadah bulan Ramadhan disebutkan (مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ) (مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ).
b. Membuat persepsi yang baru, bahwa bulan Ramadhan bukan bulan puasa. Bulan Ramadhan adalah bulan ibadah. Oleh karena itu dalam ayat disebutkan (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ). Ramadhan adalah bulan turunnya Al-Qur’an.
1) Bulan ini mulia, karena menjadi waktu turunnya Al-Qur’an.
2) Puasa tidak dikhususkan pada bulan ini saja. Seperti hari-hari besar yang diperingati, biasanya mempunyai banyak keistimewaan.
3) Puasa diwajibkan untuk menghormati turunnya AL-Qur’an. Oleh karena itu, banyak sekali ibadah yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada bulan ini.
a) Puasa (مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)
b) Qiyamullail (مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)
c) Tilawah (شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ).
d) Member hidangan buka puasa kepada orang lain (مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا).
e) Member sedekah (كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ)
f) I’tikaf (كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ).
g) Mencari Lailatul Qadar (مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ).
h) Berdzikir kepada Allah swt. (وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا).
c. Bertaubat. Bulan Ramadhan banyak sekali mengandung amal kebaikan. Orang yang berlumuran dosa tidak akan bisa melaksanakan ibadah-ibadah tersebut. Ali bin Abi Thalib ra. pernah mendapat curhat seseorang yang tidak bisa beribadah, beliau menjawab, “Engkau diikat dengan dosa-dosamu.” Dan orang yang tidak mendapat ampunan di bulan ini, didoakan Rasulullah saw. semoga celaka (وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ). Padahal setiap malamnya Allah swt. membebaskan banyak orang dari neraka (وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ).
d. Melaksanakan ibadah-ibadah tersebut sesuai dengan sunnah Rasulullah saw. (فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا). Oleh karena itu, dianjurkan banyak membaca buku-buku tuntunan bagaimana beribadah di bulan Ramadhan ini.
e. Menyiapkan kesabaran. Karena ibadah itu memerlukan kesabaran. Di antara jalan menuju kesabaran adalah:
1) Cinta Allah swt.
2) Takut kepada Allah swt.
3) Menjaga kemulian diri.
4) Tidak thulul amal (banyak berangan-angan).
5) Tidak berlebih-lebihan dalam makan, minum, tidur, dan hal-hala mubah yang lain.
6) Malu kepada Allah swt.
7) Mengingat nikmat-nikmat Allah swt.
8) Merenungkan buruknya kemaksiatan.
9) Menghayati akibat buruk kemaksiatan.
10) Mengetahui faidah kebaikan. Dan sebagainya.
f. Memperbaiki manajemen waktu.
1) Dalam bulan Ramadhan banyak sekali kebiasaan buruk. Misalnya malas, santai, banyak tidur, menonton televise, begadang, banyak makan dan minum.
2) Ramadhan akan terasa sangat cepat berlalu (أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ).
3) Kalau tidak mensyukuri nikmat ini, maka akan terlaknat (لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ).
g. Selalu muhasabah (menghitung-hitung amalan). Seperti difirmankan (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ).
h. Memperbaharui dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. dengan banyak melakukan majelis taklim, baca buku, tilawah, baca tafsir, dzikir, dan sebagainya.
i. Selalu bersifat inkisar, merasa diri belum melaksanakan apa-apa. Tidak menyombongkan amal perbuatan kita. Doa nabi Yusuf as. (أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ). Doa nabi Ibrahim as. (رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ).
Label:
Fokus Ramadhan



