Latest Post
00.53
Hari setelah ujian Al-Qur'an akan dilanjutkan dengan Ujian Tulis materi-materi kuliah yang telah dipelajari selama tengah semester pertama. Ujian Tulis ini berlangsung selama 2 minggu (selain hari libur), dan insya Allah akhir UTS adalah libur mahasiswa beiring dengan libur nasional; 15-16 September 2012.
Ujian Tulis dalam UTS Pertama
Label:
Galeri
21.27
Daurah dan Seminar
Mahad Aly An-Nuaimy secara rutin mengadakan daurah kepada mahasiswa dengan mengundang narasumber yang berkompeten, acara-acara tersebut dimaksudkan menambah wawasan yang luas kepada Mahasiswa sebagai calon pencerah bangsa. Berikut sebagian cuplikan daurah atau seminar yang telah digelar;
Ust. Amrozi Rois
Ust. Aang Suwandi
Prof. Dr. Abdul Hamid Qudah, P.Hd
H. Fahri Hamzah, SE
Ust. Hasan Kiyat
Label:
Video
07.11
Dalam susunan mushaf, kita jumpai satu surat yang berbicara tentang mulkiyyah (kepemilikan) Allah SWT. Surat al-Mulk adalah surat ke-67 dari 114 surat dalam susunan mushaf. Pada ayat pertama di awal juz 29 ini, dapat kita jumpai bahwa surat ini menekankan aspek mulkiyyah Allah sebagai salah satu bentuk dari aplikasi dan cerminan tauhid seorang hamba kepada Rabb-nya. Tauhid juga merupakan perwujudan kekuasaan dan kepemilikan Allah yang mutlak dan absolut .Oleh karenanya banyak kita jumpai hadits-hadits Nabi yang berbicara tentang fadha’il (keutamaan) surat al-Mulk ini.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ra, Rasulullah SAW bersabda: “ Diantara surat-surat al-Qur’an, terdapat satu surat yang bilangan ayatnya 30 yang bisa memberi syafa’at kepada seorang hamba hingga ia mendapatkan ampunan Allah”.
Dalam konteks bahasa al-Mulkiyyah terbentuk dari kata al-mulk (malaka-yamliku) dan sangat erat dengan bentukan al-milkiyyah. Bahwa hanya yang memiliki kekuasaan yang mutlak dan yang layak untuk mempunyai kepemilikan yang mutlak.
Secara garis besar Prof. Dr. Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya mengelompokkan sifat-sifat Allah dalam 2 katagori. Pertama sifat Jalilah,yaitu sifat yang menunjukkan keMaha Perkasaan-Nya, kedahsyatan adzab-Nya, dan lain sebagainya yang mana dengan sifat ini Allah menunjukkan keMaha kuasaan-Nya terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Dan dengan adanya sifat ini juga dapat menimbulkan khouf (rasa takut) seorang hamba kepada Allah, ini akan dapat membuatnya berfikir dua kali ketika terlintas di benaknya untuk melakukan kemaksiatan.
Kedua,sifat Jamilah yaitu sifat yang menampilkan Allah dalam sifat-Nya yang menunjukkan keMaha lembutan-Nya, keMaha pengampun-Nya, keluasan rahmat-Nya dan sebagainya. Sifat-sifat inilah yang diharapkan oleh seorang hamba agar senantiasa tampil di hadapan-Nya karena, sifat ini akan melahirkan rasa roja’ (mengarap) yang penuh akan menerima anugrah dan karunia Allah.
Dan keterpaduan antara kedua sifat inilah (seimbang dan porposional) yang akan mejadikan seorang hamba berprasangka baik terhadap segala sesuatu yang Allah tentukan. Oleh karenanya Nabi SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan! Terhadap segala perbuatan muslim. Seluruh sikap dan pebuatannya baik. Jika mendapat nikmat ia bersyukur dan menakala ia mendapat musibah ia bersabar. Dan semua itu adalah baik bagi dirinya”.
Dalam konteks tafsirul Qur’an bil Qur’an kita dapati dua ayat dalam surat Ali Imron mentafsirkan ayat pertama dari surat al-Mulk ini, Allah berfirman: “ Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".(QS: Ali Imron: 26-27).
Allah menggunakan shighoh amr (kata perintah) yang mengisyaratkan kepada suatu penegasan agar kita meyakini segala kekuasaan itu milik Allah secara mutlak. Redaksi ayat ini juga dalam bentuk do’a yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengharap dan memohon kekuasaan hanya kepada Allah.
Kita bisa memahami munasabah (hubungan) antara ayat pertama dan kedua surat al-Mulk ini bahwa dengan memahami konsep mulkiyyah Allah dengan benar akan melahirkan ihsan (profesionalisme) dalam beramal yang dituntut oleh Allah.
Dalam ayat yang kedua ini Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa ihsan dalam beramal itu lebih ditekankan oleh Allah dari pada iktsar (banyak) dalam beramal. Itu artinya bahwa ‘The quality of action’ (kualitas pekerjaan) lebih ditekankan daripada ‘the quantity of action’ (kuantitas pekerjaan).
Maka, untuk menjadi orang yang sukses dalam kehidupan ini kita harus memiliki ‘the best achievement’ (prestasi yang baik).
Paham Akan Mulkiyah Allah
Oleh:
Achmad Husaen Sastra Negara
Mahasiswa Mahad Aly An-Nuaimy Angkatan ke-4
Asal Jawa Tengah
Dalam susunan mushaf, kita jumpai satu surat yang berbicara tentang mulkiyyah (kepemilikan) Allah SWT. Surat al-Mulk adalah surat ke-67 dari 114 surat dalam susunan mushaf. Pada ayat pertama di awal juz 29 ini, dapat kita jumpai bahwa surat ini menekankan aspek mulkiyyah Allah sebagai salah satu bentuk dari aplikasi dan cerminan tauhid seorang hamba kepada Rabb-nya. Tauhid juga merupakan perwujudan kekuasaan dan kepemilikan Allah yang mutlak dan absolut .Oleh karenanya banyak kita jumpai hadits-hadits Nabi yang berbicara tentang fadha’il (keutamaan) surat al-Mulk ini.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud ra, Rasulullah SAW bersabda: “ Diantara surat-surat al-Qur’an, terdapat satu surat yang bilangan ayatnya 30 yang bisa memberi syafa’at kepada seorang hamba hingga ia mendapatkan ampunan Allah”.
Dalam konteks bahasa al-Mulkiyyah terbentuk dari kata al-mulk (malaka-yamliku) dan sangat erat dengan bentukan al-milkiyyah. Bahwa hanya yang memiliki kekuasaan yang mutlak dan yang layak untuk mempunyai kepemilikan yang mutlak.
Secara garis besar Prof. Dr. Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam tafsirnya mengelompokkan sifat-sifat Allah dalam 2 katagori. Pertama sifat Jalilah,yaitu sifat yang menunjukkan keMaha Perkasaan-Nya, kedahsyatan adzab-Nya, dan lain sebagainya yang mana dengan sifat ini Allah menunjukkan keMaha kuasaan-Nya terhadap segala sesuatu yang terjadi di alam ini. Dan dengan adanya sifat ini juga dapat menimbulkan khouf (rasa takut) seorang hamba kepada Allah, ini akan dapat membuatnya berfikir dua kali ketika terlintas di benaknya untuk melakukan kemaksiatan.
Kedua,sifat Jamilah yaitu sifat yang menampilkan Allah dalam sifat-Nya yang menunjukkan keMaha lembutan-Nya, keMaha pengampun-Nya, keluasan rahmat-Nya dan sebagainya. Sifat-sifat inilah yang diharapkan oleh seorang hamba agar senantiasa tampil di hadapan-Nya karena, sifat ini akan melahirkan rasa roja’ (mengarap) yang penuh akan menerima anugrah dan karunia Allah.
Dan keterpaduan antara kedua sifat inilah (seimbang dan porposional) yang akan mejadikan seorang hamba berprasangka baik terhadap segala sesuatu yang Allah tentukan. Oleh karenanya Nabi SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan! Terhadap segala perbuatan muslim. Seluruh sikap dan pebuatannya baik. Jika mendapat nikmat ia bersyukur dan menakala ia mendapat musibah ia bersabar. Dan semua itu adalah baik bagi dirinya”.
Dalam konteks tafsirul Qur’an bil Qur’an kita dapati dua ayat dalam surat Ali Imron mentafsirkan ayat pertama dari surat al-Mulk ini, Allah berfirman: “ Katakanlah: "Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".(QS: Ali Imron: 26-27).
Allah menggunakan shighoh amr (kata perintah) yang mengisyaratkan kepada suatu penegasan agar kita meyakini segala kekuasaan itu milik Allah secara mutlak. Redaksi ayat ini juga dalam bentuk do’a yang mengajarkan kepada kita untuk senantiasa mengharap dan memohon kekuasaan hanya kepada Allah.
Kita bisa memahami munasabah (hubungan) antara ayat pertama dan kedua surat al-Mulk ini bahwa dengan memahami konsep mulkiyyah Allah dengan benar akan melahirkan ihsan (profesionalisme) dalam beramal yang dituntut oleh Allah.
Dalam ayat yang kedua ini Allah mengisyaratkan kepada kita bahwa ihsan dalam beramal itu lebih ditekankan oleh Allah dari pada iktsar (banyak) dalam beramal. Itu artinya bahwa ‘The quality of action’ (kualitas pekerjaan) lebih ditekankan daripada ‘the quantity of action’ (kuantitas pekerjaan).
Maka, untuk menjadi orang yang sukses dalam kehidupan ini kita harus memiliki ‘the best achievement’ (prestasi yang baik).
06.05
Benteng Berlindung dari Sihir
Ustd. Tumin, M.A
Mahasiswa Mahad Aly An-Nuaimy Angkatan ke-1
Asal Aceh
Ada
beberapa cara untuk membentengi diri kita dari serangan sihir jahat
yang dikemukan oleh Aiman bin Abdul Fattah dalam kitabnya “Asy-syifa’
Min Wahyi Khatamil Ambiya”, diantara benteng tersebut ialah sebagai
berikut:
1. Memakan tujuh butir kurma. Yang paling bagus ialah kurma Madinah, sebagaimana sabda rasullah saw:
Artinya:
Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah pada pagi hari, maka
pada hari itudia tidak akan terkena dampak racun dan sihir. (Bukhari & Muslim)
2. Berwudhu. Sihir tidak akan mempan terhadap orang yang dalam keadaan wudhu. Sebagaimana sabda rasulullah saw:
Artinya:
sucikanlah jasad ini, niscaya allah akan mensucikan kalian.
Sesungguhnya tidak ada seorang hamba yang dalam keadaan bersuci pada
malam hari melainkan ada seorang malaikat pada sehelai bulunya. Dia
tidak membalikkan badan sesaat pun pada malam hari melainkan malaikat
itu berkata, ya Allah ampunilah dosa hamba-Mu karena mala mini dia dalam
keadaan bersuci. (Ath-Thabrani))
3. Shalat secara berjamaah. Rasulullah saw bersabda:
Artinya:
Tidaklah ada tiga orang di sebuah kampong atau pedalaman, yang disana
tidak didirikan shalat secara berjamaah, melainkan setan menaklukkan
mereka. Maka hendaklah engkau mengikuti shalat berjamaah karena serigala
hanya memakan domba yang menyendiri. (Ibnu Majah)
4. Shalat
malam. Nabi Muhammad saw memanggil nama seseorang. Lalu ada yang
menjawab, dia bias tidur hingga pagi hari dan dia tidak ikut shalat
berjamaah. Maka nabi bersabda:
Artinya: Syetan telah kencing ditelinganya. (Bukhari)
5. Membaca ta’awwudz saat masuk kamar mandi atau WC. Setiap kali raasululllah masuk kamar mandi. Maka rasul mengucapkan:
Artinya: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syetan laki-laki dan syetan perempuan. (Bukhari)
6. Mengucapkan doa saat keluar rumah, yaitu
Artinya: dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan yang datang dari Allah
7. Mengucapkapka
dikzir La ilaha Illa allah wahdahu Laa syarikalah lahul mulku walahul
hamdu wa huwa ala kulli syaiin qadir sebanyak 100 kali setelah shalat
shubuh
8. Membaca
Ayat kursyi. Sebagaima telah diceritakan dalam kisa abu Hurairah, siapa
yang membaca ayat kursyi sebelum tidur, maka disinya ada penjaga dari
Allah dan dia tidak didekati oleh syetan hingga pagi hari.
9. Mengucapkan Dzikir-dzikr yang memang dibaca pada pagi hari dan petang hari. (Bukahri & Muslim)
sumber: www.ruqyah-bekam.com
sumber: www.ruqyah-bekam.com
05.29
Pelajaran yang Dipetik
Tawadhu, Akhlaq Penghuni Surga
oleh:
Moh Sofwan Abbas, MA
Dosen Mahad Aly An-Nuaimy
تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ [القصص: 83]
Analisis Lafadh
Kampung akhirat, bisa surga dan juga neraka. Namun yang dimaksud di sini adalah surga, karena di akhir ayat disebutkan “orang yang bertakwa”. Surga ini kekal, karena disebutkan sebagai yang terakhir “الْآخِرَةُ”, tidak ada lagi kehidupan setelahnya. Disebutkan kata “تِلْكَ” yang berarti kata tunjuk jauh, untuk menunjukkan betapa tinggi dan berharganya surga.
|
تِلْكَ الدار الآخرة:
|
Tidak menginginkan. Tapi yang dimaksud adalah “tidak melakukan” karena orang yang tidak menginginkan sesuatu tidak akan melakukannya. Namun redaksi ini menyebutkan bahwa sekedar menginginkan saja tidak dibolehkan. Ini menunjukkan betapa dilarangnya berbuat sombong.
|
لَا يُرِيدُونَ:
|
Tinggi, sombong terhadap kebenaran atau terhadap orang mukmin yang lain. Kesombongan ini bisa dipahami lebih khusus dengan kesombongan karena kekuasaan dan kekayaan, seperti Karun.
|
عُلُوًّا:
|
Berbuat kerusakan, yang dimaksudkan di sini adalah perbuatan maksiat. Kerusakan adalah lawan kata kebaikan. Sehingga kerusakan yang dimaksud di sini adalah hal-hal yang dilarang dalam syariat. Bisa juga bisa dipahami lebih khusus dengan kedhaliman penguasa, seperti Fir’aun.
|
فَسَادًا:
|
Akhir sesuatu, yang dimaksud di sini adalah akhir yang baik, atau surga
|
وَالْعَاقِبَةُ:
|
Pelajaran yang Dipetik
1. Ayat ini menunjukkan betapa indahnya surga, sehingga diungkapkan seakan sangat jauh dari kita.
2. Ayat ini memerintahkan kita bertawadhu’, sama seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits:
إنه أوحي إلي أن تواضعوا، حتى لا يفخر أحد على أحد، ولا يبغي أحد على أحد
“Allah swt. menurunkan wahyu kepadaku agar kalian bertawadhu’, sehingga tidak ada yang membanggakan diri atas orang lain, dan tidak ada yang mendhalimi orang lain”
3. Kata “لَا يُرِيدُونَ” (Tidak menginginkan) menunjukkan:
Ø Kesombongan dan kerusakan itu berasal dari hati. Karena tempat ‘rasa ingin’ adalah hati. Orang yang mau merubah akhlaknya, hendaknya merubahnya mulai dari hati [Ar-Ra’du: 11].
Ø Amalan hati lebih baik daripada amalan anggota tubuh. Dosa hati juga lebih besar daripada dosa anggota tubuh.
Ø Kesombongan yang ada dalam hati menghalangi masuk surga.
لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر، فقال رجل: إن الرجل يحب أن يكون ثوبه حسنا ونعله حسنة، فقال: إن اللّه جميل يحب الجمال، الكبر: بطر الحق، وغمط الناس
“’Orang yang di dalam hatinya ada kesombongan walaupun sebiji zarrah tidak akan masuk surga.’ Ada sahabat yang bertanya, ‘Tapi orang kadang ingin pakaian dan sandalnya baik. Bagaimana dengan orang seperti ini?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Sesungguhnya Allah indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan mendhalimi orang lain.’”
4. Seseorang tidak disebut bertawadhu’ kalau tidak seluruh sikapnya mencerminkan tawadhu’:
Ø Tawadhu’ wajah: jika bertemu seseorang, Rasulullah saw. tidak memalingkan wajah sebelum kita orang itu memalingkan wajahnya dulu.
Ø Tawadhu’ berjabat tangan: jika berjabat tangan, Rasulullah saw. tidak melepas tangannya hingga orang itu melepaskan tangannya.
Ø Tawadhu’ salam: Rasulullah saw. memberikan salam dengan seluruh badannya. Tidak hanya dengan ucapan lisannya saja.
Ø Tawadhu’ majelis: kalau masuk majelis, Rasulullah saw. di mana saja ada tempat kosong
Ø Tawadhu senyuman: Rasulullah saw. berjabat dengan senyuman dulu sebelum berjabat dengan tangan beliau. Karena senyuman yang indah menunjukkan perasaan hati yang baik.
Ø Tawadhu pertemuan: ada seseorang datang kepada Rasulullah saw. dengan wajah berkeringan dan tangan bergemetar. Melihat hal itu, beliau berkata, “Janganlah takut kepadaku. Aku hanyalah seorang laki-laki yang dilahirkan perempuan yang makanannya seperti makanan kalian.
Ø Tawadhu berkendara: Rasulullah saw. lebih memilih keledai dalam banyak perjalanannya. Padahal beliau memiliki kuda dan unta.
Ø Tawadhu berandil: Rasulullah saw. ikut menggali parit. Ketika ada yang melarang, beliau menjawab, “Aku tahu kalian akan melarangku, tapi Allah membenci orang yang ingin diistimewakan.” Dalam sebuah perjalanan, beliau juga turut mencari kayu bakar.
Ø Tawadhu berpakaian: pakaian Rasulullah saw. baik dan bersih, tapi bukan untuk sombong.
Ø Tawadhu umur: Rasulullah saw. sering memboncengkan anak kecil, dan membimbing mereka turun dengan tangannya.
Ø Tawadhu jabatan: Rasulullah saw. bersujud ketika penaklukan kota Mekah.
Ø Tawadhu mendengar: Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah kalian memujiku seperti orang-orang Nasrani memuji Isa as. Panggillah aku sebagai “hamba Allah dan Utusan-Nya”
Ø Tawadhu’ kekuatan: Rasulullah saw. menjenguk orang sakit, makan di atas tanah, menerima undangan makan dari hamba sahaya, dan mengusap kepada anak-anak.




