Latest Post
01.53
TINJAU ULANG FATWA DEMOKRASI HARAM
Oleh Dr. Mohamad
taufik Qulazhar
Karakter dakwah Membuat Musuh Islam Kesal
Salah satu hasil dakwah adalah membuat musuh kesal. Mereka
merasa rugi karena adanya dakwah. Oleh karenanya musuh Islam selalu membuat
gerakan menghalangi dakwah. Kekesalan musuh karena keberadaan dakwah disebutkan
dalam surah yasin. Allah berfirman:
“Mereka
menjawab:"Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika
kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu
pasti akan mendapatkan siksa yang pedih dari kami". (QS. 36:18)
Kenapa musuh Islam mengkambing hitamkan Dakwah dan merasa bernasib malang? Jawabannya adalah
karena karakter dakwah adalah merubah. Ketika para Rasul berdakwah ke negeri
tersebut dan berusaha mengadakan perubahan maka mulailah musuh Islam
terpojokkan dan merasa dirugikan.
Salah satu perubahan yang diciptakan dakwah adalah perubahan
dalam aturan hidup. Merubah dari aturan jahiliyah menuju aturan cahaya Islam.
Allah berfirman:
Alif,
laam raa.(Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu
mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan
izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji. (QS. 14:1)
Secara jelas ayat ini menyebutkan tujuan diturunkannya
al-Quran yaitu merubah manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam.
Dititik inilah kemarahan musuh Islam terpicu. Karena Bagi musuh Islam aturan
jahili menguntungkan dan menjadi jalan memperoleh dunia. Ketika aturan tersebut
dirubah menjadi Islami para musuh Islam merasa kepentingan mereka terganggu.
Jadi, dakwah yang benar adalah membuat musuh Islam marah, dan
bukan sebaliknya,membuat musuh gembira. Marah dikarenakan kepentingan dunia mereka terancam . Kesal disebabkan oleh arus perubahan yang
mengarah kepada nilai dan aturan Islami.
Fatwa
Harus ditinjau Dari Sisi Maslahah dan Mafsadah.
Apabila Al-Quran menegaskan bahwa dakwah adalah membuat musuh
Islam kesal. Maka nilai inipun harus ada ketika berfatwa. Fatwa tidak boleh
menghasilkan manfaat bagi musuhIslam. Juga tidak boleh menimbulkan mafsadah
bagi Umat Islam.
Oleh karenanya tahapan akhir dari sebuah fatwa adalah at-tathbiiq.
Dalam fase ini fatwa ditinjau dari sisi maslahat dan mafsadahnya sebelum dirilis.
Demokrasi Haram siapa Diuntungkan
Sebagai contoh apabila seorang mufti berpendapat bahwa
demokrasi haram. Maka sebelum masalah ini difatwakan harus melalui fase tathbiiq. Ditimbang mashlahah dan mafsadah dari hukum
tersebut. Apakah fatwa demokrasi haram menjadi mashlahat bagi umat Islam atau
sebaliknya menjadi mafsadah dan menguntungkan musuh Islam.
Secara kasat mata fatwa demokrasi haram hanya menguntungkan
musuh Islam. Sebab dinegara yang menganut sistim demokrasi akan terpilih
pemimpin yang tidak berpihak pada kepentingan Islam, bahkan pemimpin yang non
Islam. ketika diadakan pemilu Umat Islam tidak ikut serta karena fatwa
demokrasi haram. Akhirnya Musuh Islam , baik munafiq atau kafir, diuntungkan
dengan fatwa ini.
Dalam kondisi seperti ini fatwa harus ditangguhkan dan tidak
dilaksanakan. Rasulullah saw pernah menangguhkan sebuah perintah dari Allah saw
ketika beliau melihat bahwa pelaksanaan perintah tersebut hanya akan
menimbulkan mafsadah dan kerugian bagi umat Islam.
Hal ini terjadi ketika Allah memerintahkan untuk membangun
ulang ka’bah sesuai dengan pondasi yang dibuat nabi Ibrahim. Rasulullah saw
berkata kepada istrinya Aisyah bahwasannya
kalaulah bukan karena kaum Quraisy masih baru dalam memeluk Islam beliau
akan menghancurkan ka’bah.
Kalaulah Sebuah perintah ditangguhkan karena diperkirakan
akan menimbulkan bahaya bagi umat Islam. Maka demikianpula fatwa. Fatwa
demokrasi haram hanya menguntungkan musuh Islam dan para munafik, maka
hendaknya fatwa haram demokrasi harus ditangguhkan. Terlebih hukum demokrasi
masih menjadi silang pendapat dikalangan Ulama.
Memahami Fiqih Waqi’
Ketidak setujuan sebagian Ulama terhadap demokrasi harus
ditinjau dari fiqih waqi. Memahami dengan cermat situasi dan realita sangat
penting dalam menentukan pendapat dan sikap. Rasulullah saw tidak menghancurkan
berhala yang terdapat di sekeliling ka’bah ketika beliau di Makkah.
Berhala-berhala tersebut baru dihancurkan ketika fathu Makkah, tahun ke delapan
hijrah. Apakah pembiaran Rasulullah saw terhadap berhala, semasa beliau di
Makkah, akan kita nilai tidak Islami?
Atau Justru mengajarkan kepada kita fiqih waqi. Marilah kita bijak dalam
mensiikapi realitas kehidupan.
wallahuA’lam
07.56
KARATERISTIK DAKWAH ISLAM
Dakwah,
sebuah kalimat yang sering kita dengar, dan dakwah itu ada dimanapun kita
berada. Adanya kita di dalam dakwah ataupun tidak adanya kita di dalamnya, maka
dakwah itu akan tetap berjalan dan berputar, seperti perputaran bumi pada
porosnya, ataupun perputaran matahari terhadap bumi.
Kata
dakwah ini mempunyai arti atau makna yang sangat banyak, diantara makna dakwah
itu seperti yang diungkapkan Syeikh ‘Ala Mahfud , dakwah adalah mengajak atau
mengarahkan manusia kepada petunjuk yang benar, memerintahkan kepada kebaikan
dan melarang atau mencegah kejelekan (hal-hal terlarang), untuk menuju sebuah
kemenangan yang ada di depan mata ataupun kemenangan sesungguhnya (surga Allah
SWT). Inti daripada dakwah itu sendiri, adalah mengajak menusia untuk beriman
kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah semata dengan segala perbuatan yang
telah diperintahkan dan meninggalkan apa saja yang dilarang.
Di
dalam dakwah Islam,
tentu dan sudah pasti ada kelebihan dan kekhususan. Karena dakwah Islam ini berbeda dengan
dakwah-dakwah sebelum Islam
yang dibawa oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.
Dakwah
Nabi Daud as, Nabi Musa as, Nabi Isa as, Nabi Nuh as, dan nabi-nabi lainnya
terputus atau terhenti dengan meninggalnya nabi-nabi tersebut. Tetapi berbeda dengan dakwah Islam yang
dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, dimana risalah Islam tidak akan pernah terputus
sampai hari pembalasan.
Adapun
penyebab mengapa dakwah Islam ini senantiasa bertahan dan tetap terjaga, maka
akan kita dapatkan penjelasannya di bawah ini:
1. Globalitas dakwah Islam.
Sebelum
kita sampaikan dalil dari Al Quran dan sunnah serta dalil secara akal yang
menunjukkan ke-universalan dakwah Islam, kita jelaskan terlebih dahulu bahwa dakwah
ini dari segi mashdar (sumber-sumber), dakwah adalah sesuatu yang
disyariatkan oleh Allah SWT seperti yang dijelaskan oleh Al Quran di dalam
ayat-ayat yang begitu banyak dan dari hadits-hadits yang jelas.
·
Dalil
dari Al Quran
Dakwah ini
adalah perintah dari Allah secara langsung,
ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَا إِلَهَ
إِلَّا هُوَ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ
Itulah
Allah, Tuhan kamu, tidak ada Tuhan selain Dia, pencipta segala sesuatu, maka
sembahlah Dia (Qs: Al An’am 102)
Dan segala sesuatu yang tercipta di bumi ini, adalah ciptaan Allah
semata. Tidak ada seseorang pun yang bisa menciptakan alam ini kecuali Allah
SWT. Dan Allah memerintahkan kita untuk senantiasa beribadah kepada Allah.
Allah SWT berfirman :
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ
الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai
manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelum
kamu, agar kamu bertakwa.(Q.S.Al
Baqarah : 21 )
Dari ayat di atas telah jelas bahwa dakwah Islam adalah dakwah
ketuhanan (rabbaniyah) karena perintah ini berasal dari Allah SWT.
Kita telah mengetahui bahwa Allah SWT menginginkan dakwah Islam
secara umum, tidak melihat menusia dari sisi manapun, asal, suku, warna kulit,
dsb.
·
Dalil dari Assunnah
عن جابر بن عبد الله أن
النبي صلى الله عليه وسلم قال: ........ "كان النبي يُبعث إلى قومه خاصة و
بُعثت إلى الناس عامة” رواه الدارمي
Artinya
: Dari Jabir bin Abdullah bahwasanya Rasulullah saw. Bersabda : Dulu nabi itu
diutus kepada(untuk) kaumnya saja,dan aku diutus kepada (untuk ) semua manusia.
·
Dalil Aqli (Secara nalar akal)
-Keteraturannya dalam adab tata karama dan tarbiyah (pendidikan)
-asas yang digunakan diambil dari aspek ekonomi, social, dan politik.
Kita sebagai umat muslim, harus bias
mengambil pelajaran dari tauladan kita Rasulullah SAW dalam semua aspek dan semua
tindakan yang beliau kerjakan, dalam aspek agama dan dunia.
2.
As Syumuuliyah (kesempurnaan/komperhensif)
Hadits yang menjelaskan tentang kesempurnaan Islam adalah hadits yang
berbicara tentang Islam itu sendiri dalam aqidah, syariah, dari segi jasad dan ruhani.
Pembelajaran secara terperinci dalam pelajaran kesempurnaan Islam adalah:
·
Aturan-aturan untuk seluruh aspek kehidupan dan perilaku
manusia.
·
Sifat yang hakiki yang tertancap kuat untuk Islam.
·
Tidak ada pengecualian dan pengkhususan dalam Islam dan
itu adalah kesempurnaan yang nyata di
dalam makna syumuul.
·
Berbeda dengan aturan-aturan yang dibuat manusia.
Bahwa kesempurnaan Islam dan dakwah Islam itu
sendiri, secara detail dan terperinci telah dijelaskan oleh Allah dalam kitab
Al Quran, dan Rasulullah dalam Assunnah.
3.
Rabbaaniyah (prinsipketuhanan)
Prinsip ketuhanan dakwah Islam merujuk kepada
wahyu yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW, dan wahyu ini sangat
popular di kalangan muslimin dengan nama Al Quran.
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا
عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى
“dan
demikianlah Kami wahyukan Al Quran kepadamu dalam bahasa Arab, agar engkau
member peringatan kepada penduduk ibukota (Mekah)”(Q.S.Asyuro 7 )
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ
الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Dan bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan
Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai peunjuk
itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil).”(Q.S.Al Baqarah 185 )
Dari beberapa ayat di atas menjelaskan bahwasanya Al
Quran diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW, danjuga sebagai sumber utama
dakwah Islam yang pertama, dan dengan ini sangat jelas bahwa dakwah Islam menggunakan
prinsip ketuhanan bukan meggunakan prinsip yang datangnya dari manusia.
Pernyataan Dr.Abdul Karim Azaidaan bahwa segala sifat-sifat
pencipta akan tampak pada sesuatu yang diciptakannya. Allah SWT, mempunyai kesempurnaan
yang mutlak dari segi apapun. Ini sangat berbeda dengan apa yang diciptakan oleh
manusia yang tentu banyak kekurangan.
Cukuplah dengan contoh yang dibawa oleh Islam,
bahwasanya Islam dating dimulai dengan persamaan diantara manusia di dalam semua
hak yang diperoleh, dengan perbedaan di depan hokum pidana yang membedakan manusia
dari berbagai sisi, dan Islam menyeimbangkan berdasarkan asas ketaqwaan dan amal
shalih.
Seperti apa yang diungkapkan Rasululah SAW kepada puteri
tercintanya Fathimah,
وقال صلى الله عليه وسلم : لو أن
فاطمة بنت محمد سرقت لقطعت يدها
“Rasulullah SAW bersabda:
Jikalau Fathimah binti Muhammad mencuri, maka saya tidak segan memotong tangannya.”
4.
Bimbingan terhadap realitas manusia
Jika kita lihat realitas manusia dan aturan-aturannya
yang didatangkan oleh Islam, kita dapatkan bahwa sesungguhnya Islam berpadu dengan
realitas manusia dan memberikan solusi bagi fitrah manusia.
Bahwa aturan-aturan ini mengatur segala aspek manusia dari
setiap sisi dengan penuh keadilan dan keserasian antara jasad dan ruhani. Untukitu,
Islam adalah satu-satunya aturan yang diterapkan dan diaplikasikan di dalam kehidupan
bermasyarakat. Al Quran sangat mudah untuk mengningatkan kita kepada Allah dan kebaikan,
dan aqidah memudahkan kita untuk memahami, seperti kemudahan syariat Islam dalam
penerapan dan aplikasi, dan tidak ada di dalamnya pemberatan-pemberatan kepada manusia.
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا
وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya”.(Q.S.Al Baqarah 286 )
Sepeerti yang telah disyariatkan di dalam Islam dengan
adanya keringanan-keringanan seperti diperbolehkannya tayamum jika seorang takut
terhadap air ketika digunakan untuk berwudhu (orang sakit yang penyakitnya tidak
boleh terkena air sedikitpun), dan lain sebagainya.
Dan inilah aturan-aturan yang benar yang dibuat oleh Islam
untuk membimbing dan mengayomi manusia dalam kemudahan dan keringanan tanpa memberatkan
sedikitpun.
5. Menghormati akal dan pengayoman terhadap kebebasan.
Seperti akal manusia yang bersih dan jernih ketika mengadapi
cobaan dan ujian, seperti Al Quran yang menyinari dan bercahaya, dan akal ketika
selaras dengan syariat seperti cahaya di atas cahaya. Tidaklah kita berlabih-lebihan
dengan akal di atas syariah, dan tidak pula kita menggunakan syariat tanpa berfikir
dengan akal yang jernih.
Ketika akal fikiran yang jernih ketika saling membantu
dan mengisi satu sama lain, dalam mencari ilmu, maka ibarat cahaya di atas cahaya. Dr.Yusuf Qardawi mengungkapkan bahwa, tidak akan
kita dapatkan agama yang menyerukan kita untuk menggunakan fikiran dan akal,
seperti Islam yang menganggap pemikiran dengan akal yang bersih,jernih,dan benar
adalah kewajiban dalam beribadah.
إِنَّ
فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ
لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ** الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا
وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Sesunggunya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian
siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah
bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah samba
berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi seraya berkata “YaTuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua
ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S.Al Imran 190
- 191)
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa berfikir tentang
keagungan ciptaan Allah adalah ibadah, dan jalan untuk mengetahui kekuasaan
Allah di dalam ciptaan-Nya.
·
Dalil dari As-Sunnah
·
عن
أبي ذررضي الله عنه قال قال صلى الله عليه و
سلم: تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في الله فتهلكوا- (رواه أبو الشيخ)
Dari Abi Dzar, Rasulullah SAW bersabda: Berfikirlah kalian
terhadap ciptaan Allah, dan jangan berfikir terhadap Allah, maka kalian akan hancur
(tidak sanggup).
·
عن
ابن عباس قال قال
صلى الله عليه وسلم: تفكروا في الخلق ولا تفكروا في الخالق فإنكم لا تقدرون قدره-
(رواه أبو الشيخ)
Dari Abu Dzar, Rasulullah SAW bersabda: Berfikirlah
kalian terhadap ciptaan
Allah SWT, dan janganlah
kalian berfikir terhadap yang menciptakan (Allah) karena kalian tidak mampu memikirkan
kekuasaan-Nya.
Oleh: Faris Fathinul Fikri (MahasiswaMa’had Aly
An-Nu’aimy)
Email: fathiin.8@gmail.com
085740921929
07.32
BERSYUKUR DAN BERSEDEKAHLAH
Di dalam Al Qur’an, Allah
SWT berfirman :
لَئِنْ شَكَرْتُمْ
لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu
bersyukur,pasti kami akan menambah(nikmat) kepadamu,”(QS.Ibrahim:7)
Dari makna ayat tersebut di atas dapat
dipahami bahwa amalan paling mulia yang paling Allah SWT harapkan dan yang
sepantasnya dilakukan oleh manusia kepada tuhannya adalah bersyukur kepada-Nya.Maka Allah SWT memerintahkan
manusia untuk bersyukur kepada-Nya dengan perintah-perintah yang lugas dan
jelas.Kemudian Allah SWT juga menjelaskan bahwa kesyukuran harus dinampakkan
oleh manusia,karena jika manusia merasa tidak perlu bersyukur maka berarti dia
telah mengingkari dan tidak mengimani siapa yang memberi nikmat-nikmat itu.Perihal mengenai manusia
yang berlaku seperti ini,Allah SWT telah mengeluarkan ancaman sebanyak tiga puluh
satu kali di dalam surah Ar-Rahman,yaitu dengan firman-Nya:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat
Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS.ar-rahman)
Ancaman itu adalah ancaman yang sangat
mengerikan.Allah SWT mengancam manusia dan jin dengan mengatakan bahwa tidak
bersyukur dan berpaling dari mensyukuri nikmat-nikmat Allah SWT berarti
pengingkaran dan pembangkangan.
Rezeki diciptakan Allah SWT sebagai
sebuah pembendaharaan yang sangat besar. Luas dan kekayaan akan cukup untuk menampung semua nikmat Allah
SWT yang sangat banyak dan tak dapat dihitung. Sehigga kita pun sangat terheran-heran ketika mengetahui
bahwa di lidah kita ada alat perasa yang mempunyai perlengkapan sangat teliti
dan peka,yang jumlahnya menyamai jumlah rasa makanan dan minuman. Perlengkapan
yang diadakan untuk membedakan rasa-rasa ini adalah salah satu rezeki Allah SWT
yang jumlahnya sangat banyak. Jadi,hakikat rezeki adalah hakikat yang paling
aneh dan langka,sekaligus hakikat yang paling sempurna dan indah,maka
pantaslah kita selalu untuk bersyukur.
Bersedekahlah……..
Ketika kita
merasakan kesulitan dalam hidup, yang kita harapkan adalah ada orang yang mau
bersedekah kepada kita tanpa kita meminta kepadanya. Karena itu,manakala kita
berada dalam keadaan yang menyenangkan dari sisi harta,maka sangat baik bila
kita mau bersedekah
kepada orang lain sehingga orang yang mengalami kesulitan ekonomi dapat
menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya. Bila kita mau bersedekah maka
jaminan syurga akan kita dapatkan,dalam satu hadits yang diriwayatkan dari
‘Aisyah ra.dijelaskan:
السخي قريب من الله بعيد من النار قريب من الجنة قريب من
الناس والبخيل بعيد من الله بعيد من الجنة بعيد من الناس قريب من النار والجاهل
السخي أحب إلى الله عز وجل من العابد البخيل )
“Seorang
yang murah hati,dekat kepada Allah,jauh dari api neraka, dekat kepada syurga, dekat
kepada manusia, dan orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari surga, jauh
dari manusia,dekat dengan api neraka, dan seorang yang bodoh tapi murah
hati(dermawan)lebih di sukai Allah dari pada seorang yang alim tapi kikir” (HR.Thabrani)
Untuk bisa mendapatkan jaminan syurga Bersedekahlah ,serendah
apapun kemampuannya,dia akan tetap melakukannya meskipun hanya bisa dengan
sebuji kurma,bahkan Rasulullah saw tetap akan membuka peluang bersedekah bagi
orang yang tidak punya apa-apa sekalipun,karena sedekah masih bisa dilakukan
meskipun hanya dengan perkataan yang baik,mengenai dengan hal itu Rasulullah
saw bersabda:
إِتَّقُوا النَّارَ وَلَوبِشِقِّ تَمْرَةٍ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ
فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ
“Jauhkanlah dirimu dari api nerakawalaupun hanya
dengan (sedekah) sebutir kurma,jika kamu tidak punya,maka dengan perkataan yang
baik” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dengan itu Rasulullah saw memastikan bisa
masuk syurga yang bermurah hati,suka berderma
dan suka bersedekah. ( Nawardi
)
Label:
Penulis: Nawardi Syah Putra
03.35
1 dari 10 Sahabat Rasul yang di Jamin Masuk Syurga
1 dari 10 Sahabat
Rasul yang di Jamin Masuk Syurga
Sahabat Rasulullah SAW yang dijamin masuk
surga berdasarkan hadits berikut: Tercatat dalam “ARRIYADH ANNADHIRAH FI
MANAQIBIL ASYARAH“
Dari sahabat Abu Dzar ra, bahwa Rasulullah
masuk ke rumah Aisyah ra dan bersabda: “Wahai Aisyah, inginkah engkau
mendengar kabar gembira?” Aisyah menjawab : “Tentu, ya Rasulullah.”
Lalu Nabi saw bersabda, ”Ada sepuluh orang yang mendapat kabar gembira masuk
surga, yaitu : Ayahmu masuk surga dan kawannya adalah Ibrahim; Umar masuk surga
dan kawannya Nuh; Utsman masuk surga dan kawannya adalah aku; Ali masuk surga
dan kawannya adalah Yahya bin Zakariya; Thalhah masuk surga dan kawannya adalah
Daud; Azzubair masuk surga dan kawannya adalah Ismail; Sa’ad masuk surga dan
kawannya adalah Sulaiman; Said bin Zaid masuk surga dan kawannya adalah Musa
bin Imran; Abdurrahman bin Auf masuk surga dan kawannya adalah Isa bin Maryam;
Abu Ubaidah ibnul Jarrah masuk surga dan kawannya adalah Idris Alaihissalam.”
1. Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assiddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.
1. Abu Bakar bin Abi Qohafah (Assiddiq), adalah seorang Quraisy dari kabilah yang sama dengan Rasulullah, hanya berbeda keluarga. Bila Abu Bakar berasal dari keluarga Tamimi, maka Rasulullah berasal dari keluarga Hasyimi. Keutamaannya, Abu Bakar adalah seorang pedagang yang selalu menjaga kehormatan diri. Ia seorang yang kaya, datangnya Islam, beliau adalah sahabat Rasulullah yang memiliki karakter yang mirip dengan Rasulullah. Belum pernah ada orang yang menyaksikan Abu Bakar minum arak atau pun menyembah berhala. Dia tidak pernah berdusta. Begitu banyak kemiripan antara beliau dengan Rasulullah sehingga tak heran kemudian beliau menjadi khalifah pertama setelah Rasulullah wafat. Rasulullah selalu mengutamakan Abu Bakar ketimbang para sahabatnya yang lain sehingga tampak menojol di tengah tengah orang lain.
“Jika
ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh ummat niscaya akan lebih
berat keimanan Abu Bakar. ”(HR. Al Baihaqi)
Al Qur’an pun banyak mengisyaratkan sikap
dan tindakannya seperti yang dikatakan dalam firmanNya, QS Al Lail 5-7, 17-21,
Fushilat 30, At Taubah 40. Dalam masa yang singkat sebagai Khalifah, Abu Bakar
telah banyak memperbarui kehidupan kaum muslimin, memerangi nabi palsu, dan
kaum muslimin yang tidak mau membayar zakat. Pada masa pemerintahannya pulalah
penulisan AlQur’an dalam lembaran-lembaran dimulai. .Wallahu a’lam
bisshowaab..
15.47
PEKAN ORIENTASI MAHASISWA BARU ANGK.9 29-31 AGST.2013
أسبوع التعارف
Semoga dengan
adanya acara أسبوع التعارف ini, kita dapat saling
mengenal satu sama lain dan dapat menjalin hubungan komunikasi yang baik antara
sesama mahasiswa Mahad Aly An Nuaimy Jakarta,sehingga dapat mewujudkan suatu interaksi dan toleransi serta kasih
sayang yang dilandasi atas tali Ukhuwwah Islamiyah. ( Jakarta 29 – 31 Agst.2013
)
Label:
Galeri







