Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Penulis:Rizal Maulana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis:Rizal Maulana. Tampilkan semua postingan
15.06
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.V-habis
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.V-habis
Konsep Kebenaran Ilmu
Sobat muda, wahyu (Al Qur-an dan as
Sunnah) memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al haqiqah al muthlaqah)
karena langsung berasal dari Allah swt dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman terhadap
wahyu yang memungkinkan beberapa alternatif pemahaman tidaklah bersifat
mutlak. Sedangkan ilmu yang didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran
yang nisbi (relatif) dan tajribi (eksprimentatif) atau dengan istilah al
haqiqah at tajribiyah.
Kebenaran yang mutlak harus dijadikan alat
untuk mengukur kebenaran yang nisbi, jangan sampai terbalik lho, justru
kebenaran yang mutlak diragukan karena bertentangan dengan kebenaran yang nisbi
(relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu pengetahuan sudah membuktikan
bahwa suatu penemuan atau teori yang dianggap benar pada satu masa
digugurkan kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan
keterbatasan manusia. Dalam mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan segala
fenomena yang ada di alam semesta.
Oleh sebab itu jika terjadi pertentangan
antara kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun
dengan wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan
tersebut, atau menguji kembali pemahaman manusia terhadap wahyu. Logikanya,
wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari Allah swt yang Maha Benar,
mustahil terjadi pertentangan satu sama lain.
Hikmah mengimani ilmu Allah swt
Sobat muda, dengan mengimani ilmu Allah yang Maha Luas
ini, ada beberapa hikmah yang bisa peroleh. Apa saja itu? Simak di bawah ini
ya,
Pertama, membuat kita sebagai manusia sadar bahwa
betapa tidak berartinya diri dihadapan Allah swt, sebab seluruh ilmu yang
dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut
secara keseluruhan. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong
dan menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha
Mengetahui segalanya. Malah, seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-taqarub
kepada-Nya, sebagaimana perilaku para ulil albab.
Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu Allah swt
sangat luas, tidak ada satupun (betapa pun kecil dan halusnya) yang luput dari
ilmu-Nya, maka manusia akan dapat mengontrol tingkah laku, ucapan dan amalan
batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai Allah swt.
Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah swt akan
menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan
lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah swt
tersebut dalam kehidupan nyata sehari-hari, berusaha melaksanakan perintah dan
larangan-Nya baik di tempat ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh
dengan "diketahui" atau "tidak diketahui" oleh orang
lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa
Allah swt Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan
apa yang kita lakukan di mana dan kapan saja.
Sobat muda, masih ingatkah kisah seorang
gadis shalihah dengan ibunya yang menjual susu pada zaman salafus shalih? Suatu
saat ibunya menyuruh dagangannya untuk dicampur dengan air, agar mendapatkan
untung yang lebih. Namun puterinya menolak. "Bukankah Khalifah Umar
tidak melihat?" kata sang ibu. "Tapi Tuhannya Umar mengetahui,
Bu!" kata putrinya. Tak disangka percakapan itu didengar Umar bin
Khaththab. Maka gadis shalihah tersebut dipinang untuk putera Umar sang
Khalifah.
Dan
kitapun tahu persis bahwa dari seorang wanita shalihah tersebut, akhirnya
menurunkan (cucu) tokoh, Umar Bin Abdul ‘Aziz yang legendaris. Juga kisah
seorang anak gembala dengan sekian banyak gembalaan milik tuannya. Suatu saat
Umar bin Khathab menguji kekuatan muraqabatullah-nya. Dikatakan kepada
anak tsb, bahwa kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih. Namun anak itu
menolak. "Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan
binatang buas!" kata Umar ra. "Lantas dimana Allah?"
tanya anak tersebut. Subhanallah. . .
Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah
ber-iltizam akan selalu merasa tenang, bahagia karena segala amal
kebaikannya tidak akan dirugikan sedikitpun baik diketahui ataupun tidak oleh
orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah swt telah mengawasinya. Sehingga
senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah swt semata, tidak bangga karena
pujian, tidak merasa lemah karena celaan.
Tetap semangat walau tak diketahui orang, tak
takabur ketika dilihat banyak orang. Juga tak takut dengan kegagalannya, atau
tak bangga diri dengan keberhasilannya. Apapun yang terjadi tak akan
mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan saudaranya (karena mungkin
saudara kita telah menilai salah terhadap diri kita).
23.24
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.IV
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.IV
Ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah.
Tahukah kalian? Ternyata Allah swt menuangkan
sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan lho. Pertama,
dengan ath thariqah ar rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur
wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut
juga dengan ayat-ayat qauliyah. Kedua, dengan ath thariqah
ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham kepada
makhluq-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa
melalui perantaraan malaikat Jibril. Nah, karena tidak melalui perantara
malaikat Jibril maka disebut juga dengan jalan langsung (mubasyaratan).
Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.
Pernah dengar tentang wahyu? Wahyu dalam
pengertian ishtilahi adalah: "kalamullah yang diturunkan
kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat
manusia", baik yang diturunkan langsung, dari belakang tabir (min wara'
hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat Jibril, seperti firman Allah
SWT yang artinya :
"Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah
berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir
atau dengan mengutus seseorang (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya apa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana" (Asy Syura[42]:51)
Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu
dipertegas karena makna wahyu secara lughawi memiliki pengertian yang
bermacam-macam, antara lain:
1.
Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi
Musa untuk menyusukan Musa yang masih bayi. "Dan Kami ilhamkan kepada
ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah
dia ke sungai (Nil). . ." (Al Qashash[28]:7)
2. Insting Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di
bukit-bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang. "Dan
Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di
pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia" (An
Nahl[16]:68)
3. Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk
bertasbih pagi dan sore. "Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya,
lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi
dan petang" (Maryam[19]:11)
4. Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat
untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badr. "(Ingatlah), ketika
Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka
teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. . . " (Al
Anfal[8]:12)
5. Bisikan syaithan
". . . Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik" (Al An'am[6]:121)
". . . Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik" (Al An'am[6]:121)
Dalam
ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan. Hadits
Qudsi juga termasuk dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah swt,
sedangkan redaksinya dari Rasulullah saw), dan hadits Nabawi, (makna dan
redaksinya dari Rasulullah saw) karena pada hakekatnya apa saja yang berasal
dari Rasulullah saw mempunyai nilai wahyu, firman Allah swt yang artinya :
"Apa
yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
sangat keras hukumannya" (Al Hasyr[59]:7)
Ayat-ayat
qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta
(ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu sobat muda harus berusaha
membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian
mengambil kesimpulan. Allah swt berfirman: "Bacalah (ya Muhammad)
dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq.
Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan
perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya" (Al ‘Alaq[96]:1-5)
“Dan
Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan
sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan
berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Dan di bumi Ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun
anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang,
disirami dengan air yang sama. kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu
atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Ar Ra'du[13]:3-4)
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang
yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan
mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari
siksa neraka." (Ali
Imran[3]:190-191)
Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki dan
merenungkan alam semesta (al kaun) dengan segala isinya, manusia dapat
melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Kosmologi, Astronomi, Botani,
Meteorologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi dsb. Sedangkan dari
mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir,
Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih dsb.
Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah
dari Allah swt maka dalam mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun
(al kaun) harus mengacu firman Allah swt sebagai referensi, sehingga
akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi
akan terkendali serta mengenal adab. Sebagai misal dalam dunia teknologi
kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim seorang wanita (dalam proses bayi
tabung) maka harus memperhatikan sperma itu diambil dari siapa dan diletakkan
ke rahim siapa. Proses kesepakatan, perizinan juga harus jelas. Jangan sampai
bayi lahir menjadi tidak jelas nasabnya.
Di bidang astronomi tidak boleh
diselewengkan untuk meramal nasib, padahal antara keduanya tak ada hubungan
sama sekali. Dalam hal menikmati keindahan alam, akan menjadi suatu kedurhakaan
jika dalam menikmatinya dengan membangun vila-vila untuk berbuat maksiat. Namun
seorang mu'min menjadikan alam semesta untuk tafakur agar dekat
dengan-Nya.
18.40
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.III
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.III
Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta
adalah ciptaan (makhluq) Allah swt sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud
Allah swt dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia tidak
habis-habisnya mengagumi isi al kaun (alam semesta) ini terus mengambil pelajaran dan ibroh
(pelajaran) yang bermanfaat
dari padanya.
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu
yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu
yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan
kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun
dalam keadaan payah" (Al Mulk[67]:3-4)
Tegaknya langit, keseimbangan benda-benda
langit sesuai dengan ciptaan dan pengaturan dari Penciptanya. "Dan
Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)" (Ar
Rahman[55]:7)
"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya
jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak tidak ada seorang
pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Penyantun lagi Maha Pengampun" (Faathir[35]:41)
Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan
yang membawa kepada ketenangan benda-benda langit, meskipun benda-benda langit
itu saling bergerak. Hal ini menunjukkan kenyataan kebenarannya terhadap
ummat manusia.
Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal
gaya gravitasi antara benda-benda bermassa yang bekerja secara luas dalam alam
ini. Setelah Issac Newton pada tahun 1686 merumuskan hukum gravitasi, maka
orang dapat dengan mudah memahami dan menerangkan berbagai peristiwa dalam
jagad raya ini. Hukum-hukum Kepler yang sudah ada sebelum Newton, ternyata
dapat dipahamkan sebagai akibat saja dari hukum gravitasi Newton tersebut.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan
bahwa universum itu berjalan dengan eksak, kokoh, teratur, rapi dan harmonis,
yang tidak akan ada habis-habisnya menjadi tantangan yang menakjubkan bagi
manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk
menerima, bahwa hukum-hukum itu adalah sunatullah atau aturan-aturan
yang telah ditetapkan Allah bagi makhluq-Nya yang tidak berubah-ubah.
"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena
rencana (mereka) yang jahat. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang
yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan
(berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang
terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah
Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah
itu. " (Faathir[35]:43)
Sobat muda, demikianlah Allah swt telah
menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seimbang, beraturan, sistematika. Maka
Dia jualah yang paling tahu hakikat dan tujuan penciptaan-Nya, dan
telah dikabarkannya ciptaan Allah swt itu kepada manusia. Manusia telah
diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya, sehingga mampu
memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya serta
mengagungkan-Nya; Dia lah Allah swt tiada Tuhan selain-Nya. Dengan ilmu-Nya
Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa yang telah diciptakan dengan proses
terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir
cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap penjuru ufuk kehidupan
manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran dan
menjadikannya sebagai landasan kehidupan.
"Kami akan memperlihatkan kapada mereka tanda-tanda
(kekuasaan) Kami di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah
bagi mereka bahwa Al Qur-an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup
(bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Fushshilat[41]:53)
22.45
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.II
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.II
Penciptaan langit dan bumi oleh Allah swt dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau al kaun (universum). Simaklah firman Allah swt berikut ini:
"Dia lah Allah Yang menciptakan,
Yang mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling
Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi . Dan Dia
lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Hasyr[59]:24)
Oleh karena itu, hendaknya manusia
senantiasa men-taddaburi ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah (firman Allah) maupun kauniyah
(ciptaan-Nya). Karena
di sana terdapat lautan ilmu-Nya, serta dorongan/ motivasi untuk mengkaji
maupun mengimplementasikannya.
"Hai
jama'ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit
dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan
kekuatan" (Ar
Rahman[55]:33).
Dari ayat di atas, manusia akan mengerti
bahwa jika ingin menembus langit diperlukan kekuatan yang besar, baik itu
kekuatan dalam arti yang sebenarnya maupun kekuatan ilmu. Selain ayat di atas,
masih banyak ayat-ayat Al Qur-an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan
cabang-cabangnya. Allah swt telah menciptakan alam beserta isi dan
sistemnya dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati
Al Qur'an, kita dapat melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang
keberadaan ciptaan-Nya.
Sejauh ini, timbulnya ilmu pengetahuan
disebabkan karena kebutuhan-kebutuhan manusia yang ingin hidup bahagia.
Sehingga dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia
menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam
sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat
dan iradat Nya, bahwa manusia dapat memikirkan suatu kebutuhan hidupnya.
Telah tercantum dalam Al Qur-an perintah Allah swt : "Katakanlah,
perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda
kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang
tidak beriman" (Yunus[10]:101)
Hasil dari pemikiran manusia itu
lahirlah ilmu pengetahuan dengan berbagai cabangnya. Maka ilmu pengetahuan
bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan sebagai wasailul hayah (sarana
kehidupan) yang nantinya juga akan membimbing ke arah iman. Sebagaimana
kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir dalam telah dipimpin
oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini
ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara
segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.
Herbert Spencer
dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut: "Pengetahuan
itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam
kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi
pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian
itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan
ibadah secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatu yang
kita selidiki dan kita pelajari, dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaan
Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa
ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong bekerja. Pengetahuan ini
bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu
Allah".
"Seorang ahli pengetahuan yang melihat
setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan
hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu
berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka
dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan
kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan
melihatnya tidak lebih dari setitik air".
Sobat muda,
sejak zaman dahulu manusia telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki
rahasia serta mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas
bumi ini. Maka lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog,
geolog, fisikawan, dsb beserta para ahli filsafatnya di bidang tersebut.
Penemuan di
bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok, yaitu
kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan
diciptakannya sampai sekarang ini tak berubah dan kelompok yang
beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah.
Kelompok yang
beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu pengetahuan
modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh adanya red
shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat.
Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain
dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton,
neutron, dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena
mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk
inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom yang terbentuk.
Para ahli ilmu
alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit. Bila
kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini akan didominir oleh
unsur hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur
berat akan dominan. Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar
dominan terhadap materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai
dengan rumus Einstein, e=mc2. Dalam proses pengembungan
inienergi sinar banyak terpakai dan meteri semakin dominan. Setelah 250 juta
tahun maka masa dari materi dan sinar menjadi sama. Sebelum itu, tidak
dibayangkan behwa materi larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air.
Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun,
materi dan gravitasi dominan, terdapat diferensiasi yang tadinya homogen.
Bola-bola gas masa galaxi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000
tahun cahaya dan masanya 200 juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu
kemudian berdiferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas bintang yang
berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau pemadatan itu maka suhu naik
sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold reaksi inti, dan
bintang itupun mulai bercahaya. Karena sebagian dari materi terhisap ke
pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu butir-butir debu
berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berseliweran
di ruang angkasa dan makin lama makin besar.
Proses
kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa ratus juta
tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini berarti
bahwa beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan
merupakan pecahan dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah SWT yang artinya
:
"Dan apakah orang-orang yang kafir
tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu
yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami
jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
beriman" (Al Anbiya[21]:30)
Konsep ini jelas
menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia berdasarkan umur batu
bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun.
Dalam
mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan dengan
kilometer. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan beberapa
galaxi beberapa juta tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaxi
yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa yang
silam. Dalam mempelajari galaxi yang jauhnya satu milyar tahun cahaya,
sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini
mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sekarang. Hal ini berarti
pula bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis.
Lain daripada
itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada suatu waktu
pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada akhirnya kembali kepada
situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima milyar tahun yang lalu.
Dari uraian di
atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini mengembung dan mengempis.
Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gamov dalam bukunya The Creation of
the Universe, hal. 36: ". . . bahwa tekanan raksasa yang terjadi
pada permulaan sejarah alam semesta adalah akibat dari suatu kehancuran yang
terjadi sebelumnya, dan bahwa pengembungan yang sekarang ini sebenarnya
hanyalah suatu gerak kembali yang elastis yang terjadi segera setelah tercapai
kepadatan maksimum yang diizinkan. "
Kita tidak
mengetahui secara pasti bagaimana besarnya tekanan yang tercapai pada kepadatan
yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu sungguh-sungguh
amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang mempunyai
kemungkinan bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran telah
dimusnahkan secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan
menjadi proton, neutron, dan elektron serta partikel dasar lainnya
Jadi tak ada
satupun yang bisa dituturkan tentang masa alam sebelum pemadatan alam semesta
itu. Segera setelah kepadatan massa alam semesta itu mencapai titik maksimum,
kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam waktu sebentar saja.
02.28
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.I
PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.I
Allah swt telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem yang menyeluruh. Allah swt yang menjadikan semua isi alam ini dari yang paling kecil hingga yang paling besar, dan yang nyata hingga yang ghaib. Bagaimana bisa? Karena Allah Maha Kuasa dan dari sifat Allah swt yang Maha Mengetahui inilah, sehingga Allah swt menjadi sumber ilmu.
Dengan ilmu Allah swt yang Maha Luas tersebut, Dia
mengajar manusia terhadap apa-apa yang tidak diketahui menjadi diketahuinya.
Ada ilmu Allah swt yang diturunkan secara resmi kepada Rasul-Nya, inilah
kemudian yang menjadi pedoman hidup (minhajul
hayah). Ada juga ilmu Allah swt yang diturunkan secara tidak resmi, dan
inilah yang menjadi sarana hidup (wasailul
hayah).
Yang harus
selalu kita ingat, kedua ilmu tersebut sangatlah bermanfaat untuk memperoleh
kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Itulah sebabnya Islam mendorong kaumnya
untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Gimana, mau nggak diberi resep bahagia dunia akhirat?
"Barang siapa menginginkan dunia maka ada ilmunya.
Barang siapa menginginkan akhirat maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan
keduanya, maka diperlukan ilmu keduanya" (Al Hadits)
Dalam asmaul husna Allah swt disebut sebagai Al
‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Apa artinya? Bahwasanya ilmu Allah swt itu
tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang
terdahulu, sekarang ataupun yang akan datang, baik yang ghaib maupun yang
nyata: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. . " (Al
Hajj [22]:70)
"Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang
mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang" (Al
Hasyr[59]:22)
Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah swt.
Bahkan sebutir biji dalam gelap gulita di bumi yang berlapis-lapis pun tetap
diketahui Allah swt: "Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib,
tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada
di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia
mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula
benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang
terang" (Al An'am[6]:59)
Sobat muda, Ilmu Allah swt sangatlah luas, tak
terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal pikiran manusia. Dia mengetahui apa
yang sudah dan akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat dan makhluk manapun
tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk mengetahui ciptaan
Allah saja manusia tidak akan mampu.
Dalam tubuh manusia tak semuanya terjangkau
oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh
pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti
contohnya jaringan kerja otak manusia yang masih merupakan hal yang teramat
rumit untuk dikaji sampai sekarang. Belum lagi tentang astronomi, tahukah sobat
berapa banyak jumlah bintang yang ada? Atau jumlah galaksi di langit, berapa
jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya,
dsb. Ternyata masih terlalu banyak hal yang belum diketahui manusia.
Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil
bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan saja ada manusia yang menguasai
planet bumi sebagai miliknya pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini
dia hanyalah memiliki debu tak berarti. Jika saja ada
manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara
kekuasaan, kerajaan Allah swt tak akan tertandingi sedikitpun jua.
Sobat, Allah swt menggambarkan betapa
kecil dan tak berdayanya kita sebagai manusia bila dibandingkan
dengan ilmu Allah swt, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan
dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah swt, niscaya tidak akan
habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan: Al Kahfi[18]:109, Luqman[31]:27.







