nuaimy
tentang nuaimy
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Penulis:Rizal Maulana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penulis:Rizal Maulana. Tampilkan semua postingan

PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.V-habis


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.V-habis

Konsep Kebenaran Ilmu
Sobat muda, wahyu (Al Qur-an dan as Sunnah) memiliki nilai kebenaran yang mutlak (al haqiqah al muthlaqah) karena langsung berasal dari Allah swt dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman terhadap wahyu yang memungkinkan beberapa alternatif  pemahaman tidaklah bersifat mutlak. Sedangkan ilmu yang didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang nisbi (relatif) dan tajribi (eksprimentatif) atau dengan istilah al haqiqah at tajribiyah.
Kebenaran yang mutlak harus dijadikan alat untuk mengukur kebenaran yang nisbi, jangan sampai terbalik lho, justru kebenaran yang mutlak diragukan karena bertentangan dengan kebenaran yang nisbi (relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu pengetahuan sudah membuktikan bahwa  suatu penemuan atau teori yang dianggap benar pada satu masa digugurkan kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan keterbatasan manusia. Dalam mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan segala fenomena yang ada di alam semesta.
 Oleh sebab itu jika terjadi pertentangan antara  kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun dengan  wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan tersebut, atau menguji kembali pemahaman manusia terhadap wahyu. Logikanya, wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari Allah swt yang Maha Benar, mustahil terjadi pertentangan satu sama lain.
Hikmah mengimani ilmu Allah swt
            Sobat muda, dengan mengimani ilmu Allah yang Maha Luas ini, ada beberapa hikmah yang bisa peroleh. Apa saja itu? Simak di bawah ini ya,
Pertama, membuat kita sebagai manusia sadar bahwa betapa tidak berartinya diri dihadapan Allah swt, sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut secara keseluruhan. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong dan menjadikan ilmu menjadi penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha Mengetahui segalanya. Malah, seharusnya manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-taqarub kepada-Nya, sebagaimana perilaku para ulil albab.
Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu Allah swt sangat luas, tidak ada satupun (betapa pun kecil dan halusnya) yang luput dari ilmu-Nya, maka manusia akan dapat mengontrol tingkah laku, ucapan dan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai Allah swt.
Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah swt akan menjadi terapi yang ampuh untuk segala penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah swt tersebut dalam kehidupan nyata sehari-hari, berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya baik di tempat ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh dengan "diketahui" atau "tidak diketahui"  oleh orang lain untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa Allah swt Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang kita lakukan di mana dan kapan saja.
Sobat muda, masih ingatkah kisah seorang gadis shalihah dengan ibunya yang menjual susu pada zaman salafus shalih? Suatu saat ibunya menyuruh dagangannya untuk dicampur dengan air, agar mendapatkan untung yang lebih. Namun puterinya menolak. "Bukankah Khalifah Umar tidak melihat?" kata sang ibu. "Tapi Tuhannya Umar mengetahui, Bu!" kata putrinya. Tak disangka percakapan itu didengar Umar bin Khaththab. Maka gadis shalihah tersebut dipinang untuk putera Umar sang Khalifah.
 Dan kitapun tahu persis bahwa dari seorang wanita shalihah  tersebut, akhirnya menurunkan (cucu) tokoh, Umar Bin Abdul ‘Aziz yang legendaris. Juga kisah seorang anak gembala dengan sekian banyak gembalaan milik tuannya. Suatu saat Umar bin Khathab menguji kekuatan muraqabatullah-nya. Dikatakan kepada anak tsb, bahwa kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih. Namun anak itu menolak. "Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya dimakan binatang buas!" kata Umar ra. "Lantas dimana Allah?" tanya anak tersebut. Subhanallah. . .
Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah ber-iltizam akan selalu merasa tenang, bahagia karena segala amal  kebaikannya tidak akan dirugikan sedikitpun baik diketahui ataupun tidak oleh orang lain, kerena dia yakin bahwa Allah swt telah mengawasinya. Sehingga senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah swt semata, tidak bangga karena pujian, tidak merasa lemah karena celaan.
 Tetap semangat walau tak diketahui orang, tak takabur ketika dilihat banyak orang. Juga tak takut dengan kegagalannya, atau tak bangga diri dengan keberhasilannya. Apapun yang terjadi tak akan mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan saudaranya (karena mungkin saudara kita telah menilai salah terhadap diri kita).

PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.IV


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.IV

Ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah.
Tahukah kalian? Ternyata Allah swt menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua jalan lho. Pertama, dengan  ath thariqah ar rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui  perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah. Kedua, dengan ath thariqah ghairu rasmiyah  (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham kepada makhluq-Nya di alam semesta ini (baik makhluq hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Nah, karena tidak melalui perantara malaikat Jibril maka disebut juga dengan  jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.
Pernah dengar tentang wahyu? Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: "kalamullah yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan (petunjuk) bagi umat manusia", baik yang diturunkan langsung, dari belakang tabir (min wara' hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat Jibril, seperti firman Allah SWT yang artinya :
"Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seseorang (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana" (Asy Syura[42]:51)

Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena makna wahyu secara lughawi memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara lain:
1.      Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan Musa yang masih bayi. "Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). . ." (Al Qashash[28]:7)
2.      Insting Hayawan, seperti wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit, pohon-pohon, dan dimana saja dia bersarang. "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia" (An Nahl[16]:68)
3.      Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih pagi dan sore. "Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang" (Maryam[19]:11)
4.      Perintah Allah kepada malaikat, untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat untuk membantu kaum muslimin dalam perang Badr. "(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. . . " (Al Anfal[8]:12)
5.      Bisikan syaithan             
". . . Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik" (Al An'am[6]:121)
Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna (mewahyukan) yang berarti membisikkan. Hadits Qudsi juga termasuk dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah swt, sedangkan redaksinya dari Rasulullah saw), dan hadits Nabawi, (makna dan redaksinya dari Rasulullah saw) karena pada hakekatnya apa saja yang berasal dari Rasulullah saw mempunyai nilai wahyu, firman Allah swt yang artinya :
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya" (Al Hasyr[59]:7)

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah), oleh sebab itu sobat muda harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt berfirman: "Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya" (Al ‘Alaq[96]:1-5)

“Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi Ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (Ar Ra'du[13]:3-4)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang  berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka." (Ali Imran[3]:190-191)

Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki dan merenungkan alam semesta (al kaun) dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Kosmologi, Astronomi, Botani, Meteorologi, Geografi, Zoologi, Antropologi, Psikologi dsb. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih dsb.
Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah swt maka dalam mendalami dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al kaun) harus mengacu firman Allah swt sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab. Sebagai misal dalam dunia teknologi kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim seorang wanita (dalam proses bayi tabung) maka harus memperhatikan sperma itu diambil dari siapa dan diletakkan ke rahim siapa. Proses kesepakatan, perizinan juga harus jelas. Jangan sampai bayi lahir menjadi tidak jelas nasabnya.
Di bidang astronomi tidak boleh diselewengkan untuk meramal nasib, padahal antara keduanya tak ada hubungan sama sekali. Dalam hal menikmati keindahan alam, akan menjadi suatu kedurhakaan jika dalam menikmatinya dengan membangun vila-vila untuk berbuat maksiat. Namun seorang mu'min menjadikan alam semesta untuk tafakur agar dekat dengan-Nya.


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.III


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.III

Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta adalah ciptaan (makhluq) Allah swt sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah swt dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi al kaun (alam semesta) ini terus mengambil pelajaran dan ibroh (pelajaran) yang bermanfaat dari padanya.
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah" (Al Mulk[67]:3-4)
Tegaknya langit, keseimbangan benda-benda langit sesuai dengan ciptaan dan pengaturan dari Penciptanya. "Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)" (Ar Rahman[55]:7)
"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun" (Faathir[35]:41)
Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan yang membawa kepada ketenangan benda-benda langit, meskipun benda-benda langit itu saling bergerak. Hal ini  menunjukkan kenyataan kebenarannya terhadap ummat manusia.
Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal gaya gravitasi antara benda-benda bermassa yang bekerja secara luas dalam alam ini. Setelah Issac Newton pada tahun 1686 merumuskan hukum gravitasi, maka orang dapat dengan mudah memahami dan menerangkan berbagai peristiwa dalam jagad raya ini. Hukum-hukum Kepler yang sudah ada sebelum Newton, ternyata dapat dipahamkan sebagai akibat saja dari hukum gravitasi Newton tersebut.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa universum itu berjalan dengan eksak, kokoh, teratur, rapi dan harmonis, yang tidak akan ada habis-habisnya menjadi tantangan yang menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk menerima, bahwa hukum-hukum itu adalah sunatullah atau aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah bagi makhluq-Nya yang tidak berubah-ubah.
"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. " (Faathir[35]:43)
Sobat muda, demikianlah Allah swt telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna, seimbang, beraturan, sistematika. Maka Dia jualah  yang paling tahu hakikat dan tujuan penciptaan-Nya, dan  telah dikabarkannya ciptaan Allah swt itu kepada manusia. Manusia telah diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya, sehingga mampu memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya serta mengagungkan-Nya; Dia lah Allah swt tiada Tuhan selain-Nya. Dengan ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa yang telah diciptakan dengan proses terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap penjuru ufuk kehidupan manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.
"Kami akan memperlihatkan kapada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur-an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Fushshilat[41]:53)

 


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.II


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.II

            Penciptaan langit dan bumi oleh Allah swt dengan segala isi dan peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam semesta atau al kaun (universum). Simaklah firman Allah swt berikut ini:

"Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya  apa yang ada di langit dan di bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana" (Al Hasyr[59]:24)
Oleh karena itu, hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi  ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah (firman Allah) maupun kauniyah (ciptaan-Nya). Karena di sana terdapat lautan ilmu-Nya, serta dorongan/ motivasi untuk mengkaji maupun mengimplementasikannya. 
"Hai jama'ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan" (Ar Rahman[55]:33). 
Dari ayat di atas, manusia akan mengerti bahwa jika ingin menembus langit diperlukan kekuatan yang besar, baik itu kekuatan dalam arti yang sebenarnya maupun kekuatan ilmu. Selain ayat di atas, masih banyak ayat-ayat Al Qur-an yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah swt telah menciptakan alam beserta isi dan sistemnya  dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan mencermati Al Qur'an, kita dapat melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang keberadaan ciptaan-Nya.
Sejauh ini, timbulnya ilmu pengetahuan disebabkan karena kebutuhan-kebutuhan manusia yang ingin hidup bahagia. Sehingga dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu, manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi qudrat dan iradat Nya, bahwa manusia dapat memikirkan suatu kebutuhan hidupnya. Telah tercantum dalam Al Qur-an perintah Allah swt : "Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman" (Yunus[10]:101)
Hasil dari pemikiran manusia itu lahirlah ilmu pengetahuan dengan berbagai cabangnya. Maka ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan dari iman, melainkan sebagai wasailul hayah (sarana kehidupan) yang nantinya juga akan  membimbing ke arah iman. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli ilmu pengetahuan yang berpikir dalam telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara segala sesuatu dengan ukuran dan perhitungan.
Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai berikut: "Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan, bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari ilmu itu merupakan ibadah secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang keindahan sesuatu yang kita selidiki dan kita pelajari, dan selanjutnya pengakuan tentang kekuasaan Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih (memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan menolong bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh sebab yang pertama, yaitu Allah".
"Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu ia akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya tidak lebih dari setitik air".
Sobat muda, sejak zaman dahulu manusia telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki rahasia serta mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas bumi ini. Maka lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog, geolog, fisikawan, dsb beserta para ahli filsafatnya di bidang tersebut.
Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari permulaan diciptakannya sampai sekarang ini tak berubah dan  kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah.
Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh ilmu pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan oleh adanya red shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu ledakan dahsyat. Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga hanya berupa proton, neutron, dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom yang terbentuk.
Para ahli ilmu alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih dari 30 menit. Bila kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini akan didominir oleh unsur hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti mengembung lambat, unsur berat akan dominan. Selama 250 juta tahun sesudah ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap materi, transformasi di antara keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, e=mc2. Dalam proses pengembungan inienergi sinar banyak terpakai dan meteri semakin dominan. Setelah 250 juta tahun maka masa dari materi dan sinar menjadi sama. Sebelum itu, tidak dibayangkan behwa materi larut dalam panas radiasi, seperti garam larut di air.
 Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun, materi dan gravitasi dominan, terdapat diferensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola gas masa galaxi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya dan masanya 200 juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu kemudian berdiferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas bintang yang berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold reaksi inti, dan bintang  itupun mulai bercahaya. Karena sebagian dari materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu butir-butir debu berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih besar, berseliweran di ruang angkasa dan makin lama makin besar.
Proses kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa ratus juta tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini berarti bahwa beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan bulan merupakan pecahan dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah SWT yang artinya :
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman" (Al Anbiya[21]:30)
Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia berdasarkan umur batu bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar tahun.
Dalam mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan dengan kilometer. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan beberapa galaxi beberapa juta tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang galaxi yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa yang silam. Dalam mempelajari galaxi yang jauhnya satu milyar tahun cahaya, sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sekarang. Hal ini berarti pula bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis.
Lain daripada itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada suatu waktu pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada akhirnya kembali kepada situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima milyar tahun yang lalu.
Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini mengembung dan mengempis. Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gamov dalam bukunya The Creation of the Universe, hal. 36:  ". . . bahwa tekanan raksasa yang terjadi pada permulaan sejarah alam semesta adalah akibat dari suatu kehancuran yang terjadi sebelumnya, dan bahwa pengembungan yang sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu gerak kembali yang elastis yang terjadi segera setelah tercapai kepadatan maksimum yang diizinkan. "
Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besarnya tekanan yang tercapai pada kepadatan yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu sungguh-sungguh amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang mempunyai kemungkinan bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran telah dimusnahkan secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah dipecahkan menjadi proton, neutron,  dan elektron serta partikel dasar lainnya
Jadi tak ada satupun yang bisa dituturkan tentang masa alam sebelum pemadatan alam semesta itu. Segera setelah kepadatan massa alam semesta itu mencapai titik maksimum, kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam waktu sebentar saja.

PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.I


PRINSIP ILMU ALLAH SWT bag.I

            Allah swt telah menciptakan dan menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem yang menyeluruh. Allah swt yang menjadikan semua isi alam ini dari yang paling kecil hingga yang paling besar, dan yang nyata hingga yang ghaib. Bagaimana bisa? Karena Allah Maha Kuasa dan dari sifat Allah swt yang Maha Mengetahui inilah, sehingga Allah swt menjadi sumber ilmu.
Dengan ilmu Allah swt yang Maha Luas tersebut, Dia mengajar manusia terhadap apa-apa yang tidak diketahui menjadi diketahuinya. Ada ilmu Allah swt yang diturunkan secara resmi kepada Rasul-Nya, inilah kemudian yang menjadi pedoman hidup (minhajul hayah). Ada juga ilmu Allah swt yang diturunkan secara tidak resmi, dan inilah yang menjadi sarana hidup (wasailul hayah).
 Yang harus selalu kita ingat, kedua ilmu tersebut sangatlah bermanfaat untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Itulah sebabnya Islam mendorong kaumnya untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Gimana, mau nggak diberi resep bahagia dunia akhirat?
"Barang siapa menginginkan dunia maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan akhirat maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan keduanya, maka diperlukan ilmu keduanya" (Al Hadits)
Dalam asmaul husna Allah swt disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Apa artinya? Bahwasanya ilmu Allah swt itu tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi, yang terdahulu, sekarang ataupun yang akan datang, baik yang ghaib maupun yang nyata: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. . " (Al Hajj [22]:70)
"Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang" (Al Hasyr[59]:22)
Tak ada satupun yang tersembunyi bagi Allah swt. Bahkan sebutir biji dalam gelap gulita di bumi yang berlapis-lapis pun tetap diketahui Allah swt: "Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib, tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang terang" (Al An'am[6]:59)
Sobat muda, Ilmu Allah swt sangatlah luas, tak terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal pikiran manusia. Dia mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi serta yang mengaturnya.  Manusia, malaikat dan makhluk manapun tak akan bisa menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah  saja manusia tidak akan mampu.
 Dalam tubuh manusia tak semuanya terjangkau oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh pula yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti contohnya jaringan kerja otak manusia yang masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji sampai sekarang. Belum lagi tentang astronomi, tahukah sobat berapa banyak jumlah bintang yang ada? Atau jumlah galaksi di langit, berapa jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya, dsb. Ternyata masih terlalu banyak hal yang belum diketahui manusia.
 Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu bahkan lebih kecil dari itu.  Andaikan saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai miliknya pribadi, maka di hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu tak berarti. Jika saja ada manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan Allah swt tak akan tertandingi sedikitpun jua.
Sobat, Allah swt menggambarkan betapa kecil dan  tak  berdayanya kita sebagai manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah swt, dengan perumpamaan air laut bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah swt, niscaya tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan: Al Kahfi[18]:109,  Luqman[31]:27.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright © 2011. Mahad Aly An-Nuaimy - All Rights Reserved
Template by Creating Website