Latest Post
06.42
Wisuda Mahad Aly An-Nuaimy Angkatan VII
Wisuda
nuaimy jakarta ke 7
Tidak terasa, waktu telah bergulir
cepat.Hari ke hari,minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga akhirnya tibalah
waktu telah yang ditunggu-tunggu oleh kami yaitu acara wisuda…komentar Ramadhan
salah satu wisudawan yang berasa dari Banjarmasin ini sambil tersenyum bahagia.
Dalam acara tersebut telah dihadiri
oleh tokoh nasional yaitu Dr.Hidayat Nur Wahid,M.A.Beliau juga memberikan orasi
dan nasehat penting guna membekali para wisudawan dalam mengarungi kehidupan di
masa yang akan datang kelak.Beliau berharap alumni An Nuaimy Jakarta mampu
memberikan tauladan dan warna baru bagi masyarakat dalam mengajak dan membimbing mereka ke keredhoan Allah swt di dalam dakwahnya.
Dakwah yang benar adalah dakwah yang
mengajak orang dengan hikmah, dan nasehat yang baik yang dibungkus dengan sikap santun dan lemah lembut terhadap orang
lain.Karena Islam tidak mengajarkan kekerasan,ujar Dr,Hidayat Nur
Wahid,M.A.dalam pidatonya.
Selain dihadiri oleh Dr,Hidayat Nur
Wahid dalam acara wisuda itu juga dihadiri oleh Syeikh Abdullah Ubaid Al dan
delegasi-delegasi dari Kuwait.Syeikh Abdullah Ubaid Al Ajamy sangat antusias
dan gembira dengan mahasiswa An Nuaimy karena 50% dari para wisudawan telah
berhasil menghafalkan al Qur’an hanya dalam 1 tahun.
Label:
Galeri,
Info Terbaru
03.49
Informasi Wisuda Angkatan Ke VII
ACARA
WISUDA
MAHASISWA
MAHAD ALY AN NUAIMY JAKARTA
ANGKATAN
KE – 7 TAHUN 2013-2014 M
Insyaallah,bertepatan pada hari Ahad 25
Mei 2014, akan diselenggarakannya acara wisuda mahasiswa Mahad Aly An Nuaimy
Jakarta yang ke – 7. Dalam acara tersebut akan dihadiri oleh Dr.Hidayat Nur
Wahid,MA ketua MPR 2004-2009 M sekaligus memberikan orasi ilmiah kepada para wisudawan.Mudah-mudahan
acara ini nantinya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diinginkan. Diharapkan para calon wisudawan agar menghubungi akh Faris guna mendapatkan kursi di acara wisuda nanti.
Label:
Info Terbaru
07.09
Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Mahad Aly An-Nuaimy Periode 2014-2015
Bertepatan pada hari rabu tanggal 14
Mei 2014 telah diadakan acara pelantikan BEM An Nuaimy Jakarta masa bakti
2014-2015.Dengan terpilihnya BEM yang baru ini, diharapkan dapat memberi
kontribusi yang lebih baik dalam memimpin dan melaksanakan kegiatan-kegiatan
mahasiswa yang akan dijalankan sesuai program yang telah ada tuk masa yang akan
datang.
“Kami insyaalah
akan memberikan hal yang terbaik dan semaksimal mungkin dalam bekerja.Hal ini
dikarenakan kami telah dipercaya oleh para dosen dan semua mahasiswa untuk mengemban
amanah kepemimpinan di tahun ini”…ujar Solihin Hidayat selaku ketua BEM An
Nuaimy yang sekarang.
Label:
Info Terbaru,
Tentang
07.32
Asal Usul Hajar Aswad
Asal
Usul Hajar Aswad
Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama
anaknya membina K’abah banyak kekurangan yang dialaminya. Pada mulanya K’abah
itu tidak ada bumbung dan pintu masuk. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail
bertungkus kumus untuk menjayakan pembinaannya dengan mengangkut batu dari
berbagai gunung.
Dalam sebuah kisah disebutkan
apabila pembinaan K’abah itu selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan
kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di K’abah.
Nabi Ibrahim
berkata Nabi Ismail berkata, "Pergilah engkau mencari sebuah batu yang
akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia."
Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi
dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika
Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat
Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera
membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira
melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian
Nabi Ibrahim a.s bertanya, "Dari mana kamu dapat batu ini?"
Nabi Ismail berkata,
"Batu ini kuterima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu
(Jibril)."
Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu
dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh
orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di K’abah
disunnahkan mencium Hajar Aswad. Beratus ribu kaum muslimin berebut ingin
mencium Hajar Aswad itu, yang tidak mencium cukuplah dengan memberikan isyarat
lambaian tangan saja.
Ada riwayat menyatakan bahwa dulunya
batu Hajar Aswad itu putih bersih, tetapi akibat dicium oleh setiap orang yang
datang menziarahi K’abah, ia menjadi hitam seperti terdapat sekarang. Wallahu
a'alam.
Apabila manusia mencium batu itu maka
timbullah perasaan seolah-olah mencium ciuman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Ingatlah wahai saudara-saudaraku, Hajar Aswad itu merupakan tempat diperkenan
doa. Bagi yang ada kelapangan, berdoalah di sana, Insya Allah doanya akan
dikabulkan oleh Allah. Jagalah hati kita sewaktu mencium Hajar Aswad supaya
tidak menyekutukan Allah, sebab tipu daya syaitan kuat di Tanah Suci Mekah.
Ingatlah kata-kata Khalifah Umar bin
Al-Khattab apabila beliau mencium batu itu (Hajar Aswad) : "Aku tahu,
sesungguhnya engkau hanyalah batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah
S.A.W menciummu, sudah tentu aku tidak akan melakukan (mencium Hajar
Aswad)."Mudah-mudahan Allah swt. Memberikan kesempatan kepada kita agar dapat
pergi ke Makkah dan mencium hajar aswad tersebut ittibaan lin nabi.amien…
Diambil dari :
Pustaka Islami
Label:
Tsaqofah Islamiyah
07.25
KISAH LUQMAN AL-HAKIM SANG TELADAN DAN BIJAKSANA
KISAH
LUQMAN AL-HAKIM SANG TELADAN DAN BIJAKSANA
Dalam sebuah riwayat menceritakan,
pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor
himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman
itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang
rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Setelah mendengarkan desas-desus
dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan
anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu
berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap
menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."
Sebaik saja mendengar kata-kata itu,
Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya.
Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki
seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."
Oleh kerana tidak suka mendengar
percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian
terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan
himar itu tidak dikenderai."
Dalam perjalanan mereka kedua
beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang
sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas
seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia
mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal
kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."
Kemudian Luqman Hakim berpesan
kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya
kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan
tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang
agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang
kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga
perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan
meringan-ringankannya."
Diambil dari :
Pustaka Islami
Label:
Jurnalistik Mahasiswa
23.52
Saudara Dakwah
Saudara
Dakwah
Perjalanan ini,
suka atau tidaknya, jauh atau panjangnya, tak akan pernah kita alami sendirian.
Begitupula dengan kehidupan, berat atau ringannya, kita akan didampingi oleh
beragam orang yang menghiasi segala jejak perjalanan. Bisajadi, mereka hanya
sebentar, sekedar digunakan untuk bertanya, “Dimana lokasi Gramedia Ciputat?”
Atau, “Bagaimana caranya menjadi hacker?” dan sebagainya. Atau, bisa jadi orang
itu mendampingii kita dalam waktu yang lama, atau mungkin sangat lama.
Oleh karenanya, izinkan saya
mengganti kata teman kata saudara. Sahabat, kata itu menjadi satu kata indah,
kata yang dahulu Rasulullah sematkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Saudara.
Persaudaraan. Bahkan, Rasulullah menyampaikan sendiri apa itu makna
persaudaraan
Kata beliau,
“Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun teraniaya.” Ketika beliau
ditanya oleh seseorang, “Bagaimana cara membantu orang yang menganiaya?” Jawab
beliau, “Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya, yang demikian itulah
pembelaan baginya.” (Hr. Bukhari melalui Anas bin Malik)
Saudara. Dialah
yang membantu kita dalam mengarungi perjalanan ini. Kedekatannya seakan-akan ia
adalah bagian dari keluarga kandung kita. Padahal, jika kita ingat, perkenalan
kita mungkin hanya beberapa tahun, atau bisa baru beberapa bulan. Tapi
kepercayaan, pandangan mata teduh itu, senyum yang tersajikan, lisan nasihat
itu, rasanya seperti sudah bertemu mereka pada masa sebelumnya dan kemudian
dipertemukan lagi dalam masa yang berbeda.
Saudara. Dialah
yang membuat kita faham. Mengapa akhirnya Mush’ab bin Umair lebih membela
saudara muslimnya daripada membebaskan adiknya yang tertawan saat perang.
Saudara. Dialah
yang menerima kekurangan kita. Bahkan seringkali melupakan kekurangan kita.
Menutupi aib-aib kita dan memilih untuk memaksimalkan potensi kita dalam
menjalani kehidupan.
Saudara. Dialah yang menjadi penguat kita saat
keimanan melemah. Bisa juga, ia yang akan menyesatkan kita sehingga kita
terjebak hingga kematian menjelang
Dan ingatlah
hari ketika itu orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata,
‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan
besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman
akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al- Qur`an itu
telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.”
(al-Furqan [25]:27-29)
Lalu, sudah
sampai dimana engkau menganggap orang yang di sisimu sebagai Saudaramu?
Sudahkah engkau memperhatikan baik-baik wajahnya, bukankah telah tampak wajah
kelelahan? Tapi, bukankah ia selalu berusaha untuk terus membersamaimu dalam
menegakkan agama-Nya? Lalu, dalam pandanganmu, apakah kau berharap ia yang
kelak akan engkau temui di jannah-Nya?
Sudahkah engkau
mengucapkan kata cinta kepadanya? Mencintainya Karena Allah? Mencintainya
karena dipertemukan Allah di jalan-Nya? Sudahkah engkau menerima
nasihat-nasihat dari dirinya? Sedihkah? Atau bahagia?
Dari Abu Hamzah,
Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam
dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak beriman
salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia
mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhori dan Muslim)
Lalu, sudahkah
komitmen untuk terus saling menguatkan dan mengingatkan engkau perbaharui
dengan saudaramu setiap hari?
Jika seseorang
bisa berkata, “Orang sanguinis dan melankolis faktanya di dunia nyata akan
saling menyakiti.” Maka bolehkah aku berujar, “Ya, mereka akan saling
menyakiti, tapi tidak di jalan ini. Tidak pada kami. Karena kami adalah muslim.
Kami adalah satu tubuh. Dan kami akan saling melindungi karena-Nya.”
Semoga Allah
yang senantiasa melindungi hati-hati kita, membantu meluruskan kita, dan
senantiasa memberikan keberkahan dalam persaudaraan kita. Mencintai saudara
kita karena Allah. Mencintai mereka di jalan Allah. Karena di jalan ini,
sekalipun dengan tertatih atau merangkak, akan kita lewati bersama.
*Didekasikan
khusus kepada Tim Super Syahid 18 #KitaAdalahSaudara, adik-adikku yang tetap
semangat dalam meniti ridho-Nya, serta teman-teman seperjuangan di jalan
dakwah, di manapun kalian semoga Allah kelak mempertemukan kita di jannah-Nya.
Dan para astatidz yang telah mengajarkan kami apa itu makna perjuangan. Yaa
Muqallibal Quluub, Tsabit Qulubana ‘Alaa Diinik..
Oleh : Niken
Kusuma Wardani
Sumber:
http://www.dakwatuna.com/2014/04/08/49249/saudara-dakwah/#ixzz30j6xxcf3
Follow us:
@dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook






