nuaimy
tentang nuaimy
Latest Post

Wisuda Mahad Aly An-Nuaimy Angkatan VII


Wisuda  nuaimy jakarta ke 7

            Tidak terasa, waktu telah bergulir cepat.Hari ke hari,minggu ke minggu, bulan ke bulan hingga akhirnya tibalah waktu telah yang ditunggu-tunggu oleh kami yaitu acara wisuda…komentar Ramadhan salah satu wisudawan yang berasa dari Banjarmasin ini sambil tersenyum bahagia.

            Dalam acara tersebut telah dihadiri oleh tokoh nasional yaitu Dr.Hidayat Nur Wahid,M.A.Beliau juga memberikan orasi dan nasehat penting guna membekali para wisudawan dalam mengarungi kehidupan di masa yang akan datang kelak.Beliau berharap alumni An Nuaimy Jakarta mampu memberikan tauladan dan warna baru bagi masyarakat dalam mengajak dan  membimbing mereka ke keredhoan Allah swt  di dalam dakwahnya.

            Dakwah yang benar adalah dakwah yang mengajak orang dengan hikmah, dan nasehat yang baik yang dibungkus dengan  sikap santun dan lemah lembut terhadap orang lain.Karena Islam tidak mengajarkan kekerasan,ujar Dr,Hidayat Nur Wahid,M.A.dalam pidatonya.

            Selain dihadiri oleh Dr,Hidayat Nur Wahid dalam acara wisuda itu juga dihadiri oleh Syeikh Abdullah Ubaid Al dan delegasi-delegasi dari Kuwait.Syeikh Abdullah Ubaid Al Ajamy sangat antusias dan gembira dengan mahasiswa An Nuaimy karena 50% dari para wisudawan telah berhasil menghafalkan al Qur’an hanya dalam 1 tahun.   




















Informasi Wisuda Angkatan Ke VII


 ACARA WISUDA
MAHASISWA MAHAD ALY AN NUAIMY JAKARTA
ANGKATAN KE – 7 TAHUN 2013-2014 M

Insyaallah,bertepatan pada hari Ahad 25 Mei 2014, akan diselenggarakannya acara wisuda mahasiswa Mahad Aly An Nuaimy Jakarta yang ke – 7. Dalam acara tersebut akan dihadiri oleh Dr.Hidayat Nur Wahid,MA ketua MPR 2004-2009 M sekaligus memberikan orasi ilmiah kepada para wisudawan.Mudah-mudahan acara ini nantinya dapat berjalan dengan baik sesuai dengan yang diinginkan. Diharapkan para calon wisudawan agar menghubungi akh Faris guna mendapatkan kursi di acara wisuda nanti.   


Pelantikan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Mahad Aly An-Nuaimy Periode 2014-2015



PELANTIKAN BEM AN NUAIMY JAKARTA 2014-2015
            Bertepatan pada hari rabu tanggal 14 Mei 2014 telah diadakan acara pelantikan BEM An Nuaimy Jakarta masa bakti 2014-2015.Dengan terpilihnya BEM yang baru ini, diharapkan dapat memberi kontribusi yang lebih baik dalam memimpin dan melaksanakan kegiatan-kegiatan mahasiswa yang akan dijalankan sesuai program yang telah ada tuk masa yang akan datang.

“Kami insyaalah akan memberikan hal yang terbaik dan semaksimal mungkin dalam bekerja.Hal ini dikarenakan kami telah dipercaya oleh para dosen dan semua mahasiswa untuk mengemban amanah kepemimpinan di tahun ini”…ujar Solihin Hidayat selaku ketua BEM An Nuaimy yang sekarang.















Asal Usul Hajar Aswad


Asal Usul Hajar Aswad

            Ketika Nabi Ibrahim a.s bersama anaknya membina K’abah banyak kekurangan yang dialaminya. Pada mulanya K’abah itu tidak ada bumbung dan pintu masuk. Nabi Ibrahim a.s bersama Nabi Ismail bertungkus kumus untuk menjayakan pembinaannya dengan mengangkut batu dari berbagai gunung.

            Dalam sebuah kisah disebutkan apabila pembinaan K’abah itu selesai, ternyata Nabi Ibrahim masih merasakan kekurangan sebuah batu lagi untuk diletakkan di K’abah.
Nabi Ibrahim berkata Nabi Ismail berkata, "Pergilah engkau mencari sebuah batu yang akan aku letakkan sebagai penanda bagi manusia."

            Kemudian Nabi Ismail a.s pun pergi dari satu bukit ke satu bukit untuk mencari batu yang baik dan sesuai. Ketika Nabi Ismail a.s sedang mencari batu di sebuah bukit, tiba-tiba datang malaikat Jibril a.s memberikan sebuah batu yang cantik. Nabi Ismail dengan segera membawa batu itu kepada Nabi Ibrahim a.s. Nabi Ibrahim a.s. merasa gembira melihat batu yang sungguh cantik itu, beliau menciumnya beberapa kali. Kemudian Nabi Ibrahim a.s bertanya, "Dari mana kamu dapat batu ini?"
Nabi Ismail berkata, "Batu ini kuterima dari yang tidak memberatkan cucuku dan cucumu (Jibril)."

            Nabi Ibrahim mencium lagi batu itu dan diikuti oleh Nabi Ismail a.s. Sehingga sekarang Hajar Aswad itu dicium oleh orang-orang yang pergi ke Baitullah. Siapa saja yang bertawaf di K’abah disunnahkan mencium Hajar Aswad. Beratus ribu kaum muslimin berebut ingin mencium Hajar Aswad itu, yang tidak mencium cukuplah dengan memberikan isyarat lambaian tangan saja.

            Ada riwayat menyatakan bahwa dulunya batu Hajar Aswad itu putih bersih, tetapi akibat dicium oleh setiap orang yang datang menziarahi K’abah, ia menjadi hitam seperti terdapat sekarang. Wallahu a'alam.

            Apabila manusia mencium batu itu maka timbullah perasaan seolah-olah mencium ciuman Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ingatlah wahai saudara-saudaraku, Hajar Aswad itu merupakan tempat diperkenan doa. Bagi yang ada kelapangan, berdoalah di sana, Insya Allah doanya akan dikabulkan oleh Allah. Jagalah hati kita sewaktu mencium Hajar Aswad supaya tidak menyekutukan Allah, sebab tipu daya syaitan kuat di Tanah Suci Mekah.

            Ingatlah kata-kata Khalifah Umar bin Al-Khattab apabila beliau mencium batu itu (Hajar Aswad) : "Aku tahu, sesungguhnya engkau hanyalah batu biasa. Andaikan aku tidak melihat Rasulullah S.A.W menciummu, sudah tentu aku tidak akan melakukan (mencium Hajar Aswad)."Mudah-mudahan Allah swt. Memberikan kesempatan kepada kita agar dapat pergi ke Makkah dan mencium hajar aswad tersebut ittibaan lin nabi.amien…
Diambil dari : Pustaka Islami

KISAH LUQMAN AL-HAKIM SANG TELADAN DAN BIJAKSANA

KISAH LUQMAN AL-HAKIM SANG TELADAN DAN BIJAKSANA


            Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."

            Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di passar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."

            Sebaik saja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."

            Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."

            Dalam perjalanan mereka kedua beranak itu pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya, "Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan kepada Allah S.W.T saja. Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."

            Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya, "Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, iaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."
Diambil dari : Pustaka Islami

Saudara Dakwah


Saudara Dakwah
Perjalanan ini, suka atau tidaknya, jauh atau panjangnya, tak akan pernah kita alami sendirian. Begitupula dengan kehidupan, berat atau ringannya, kita akan didampingi oleh beragam orang yang menghiasi segala jejak perjalanan. Bisajadi, mereka hanya sebentar, sekedar digunakan untuk bertanya, “Dimana lokasi Gramedia Ciputat?” Atau, “Bagaimana caranya menjadi hacker?” dan sebagainya. Atau, bisa jadi orang itu mendampingii kita dalam waktu yang lama, atau mungkin sangat lama.

            Oleh karenanya, izinkan saya mengganti kata teman kata saudara. Sahabat, kata itu menjadi satu kata indah, kata yang dahulu Rasulullah sematkan kepada kaum Muhajirin dan Anshar. Saudara. Persaudaraan. Bahkan, Rasulullah menyampaikan sendiri apa itu makna persaudaraan

Kata beliau, “Belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun teraniaya.” Ketika beliau ditanya oleh seseorang, “Bagaimana cara membantu orang yang menganiaya?” Jawab beliau, “Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya, yang demikian itulah pembelaan baginya.” (Hr. Bukhari melalui Anas bin Malik)

Saudara. Dialah yang membantu kita dalam mengarungi perjalanan ini. Kedekatannya seakan-akan ia adalah bagian dari keluarga kandung kita. Padahal, jika kita ingat, perkenalan kita mungkin hanya beberapa tahun, atau bisa baru beberapa bulan. Tapi kepercayaan, pandangan mata teduh itu, senyum yang tersajikan, lisan nasihat itu, rasanya seperti sudah bertemu mereka pada masa sebelumnya dan kemudian dipertemukan lagi dalam masa yang berbeda.

Saudara. Dialah yang membuat kita faham. Mengapa akhirnya Mush’ab bin Umair lebih membela saudara muslimnya daripada membebaskan adiknya yang tertawan saat perang.

Saudara. Dialah yang menerima kekurangan kita. Bahkan seringkali melupakan kekurangan kita. Menutupi aib-aib kita dan memilih untuk memaksimalkan potensi kita dalam menjalani kehidupan.

 Saudara. Dialah yang menjadi penguat kita saat keimanan melemah. Bisa juga, ia yang akan menyesatkan kita sehingga kita terjebak hingga kematian menjelang

Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zhalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al- Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (al-Furqan [25]:27-29)

Lalu, sudah sampai dimana engkau menganggap orang yang di sisimu sebagai Saudaramu? Sudahkah engkau memperhatikan baik-baik wajahnya, bukankah telah tampak wajah kelelahan? Tapi, bukankah ia selalu berusaha untuk terus membersamaimu dalam menegakkan agama-Nya? Lalu, dalam pandanganmu, apakah kau berharap ia yang kelak akan engkau temui di jannah-Nya?

Sudahkah engkau mengucapkan kata cinta kepadanya? Mencintainya Karena Allah? Mencintainya karena dipertemukan Allah di jalan-Nya? Sudahkah engkau menerima nasihat-nasihat dari dirinya? Sedihkah? Atau bahagia?

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhori dan Muslim)

Lalu, sudahkah komitmen untuk terus saling menguatkan dan mengingatkan engkau perbaharui dengan saudaramu setiap hari?

Jika seseorang bisa berkata, “Orang sanguinis dan melankolis faktanya di dunia nyata akan saling menyakiti.” Maka bolehkah aku berujar, “Ya, mereka akan saling menyakiti, tapi tidak di jalan ini. Tidak pada kami. Karena kami adalah muslim. Kami adalah satu tubuh. Dan kami akan saling melindungi karena-Nya.”

Semoga Allah yang senantiasa melindungi hati-hati kita, membantu meluruskan kita, dan senantiasa memberikan keberkahan dalam persaudaraan kita. Mencintai saudara kita karena Allah. Mencintai mereka di jalan Allah. Karena di jalan ini, sekalipun dengan tertatih atau merangkak, akan kita lewati bersama.

*Didekasikan khusus kepada Tim Super Syahid 18 #KitaAdalahSaudara, adik-adikku yang tetap semangat dalam meniti ridho-Nya, serta teman-teman seperjuangan di jalan dakwah, di manapun kalian semoga Allah kelak mempertemukan kita di jannah-Nya. Dan para astatidz yang telah mengajarkan kami apa itu makna perjuangan. Yaa Muqallibal Quluub, Tsabit Qulubana ‘Alaa Diinik..
Oleh : Niken Kusuma Wardani
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/08/49249/saudara-dakwah/#ixzz30j6xxcf3
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright © 2011. Mahad Aly An-Nuaimy - All Rights Reserved
Template by Creating Website