nuaimy
tentang nuaimy
Latest Post

KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.III - selesai


KESEMPURNAAN JIWA DAN
KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.III - selesai

Rasulullah saw adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari bandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya, sampai-sampai Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam[68]:4)
Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga sedetail-detailnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabb-nya, hingga akhlaqnya pun adalah Al-Qur’an?
Sifat kerasulan menunjukkan bahwa beliau benar-benar seorang rasul; utusan Allah yang dipilih dari hamba-hamba-Nya. Beliau adalah manusia terbaik, manusia pilihan, seseorang yang tepercaya dan menjadi kepercayaan Allah. Dengan penetapan sifat kerasulan bagi beliau ini, mengandung konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut:
1.      Kita harus memuliakan dan mengutamakan beliau di atas seluruh manusia.
Menghormati beliau beserta segenap syariat yang dibawanya di atas seluruh syariat lainnya. Hal itu semua tidak akan terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan mencintainya di atas kecintaan terhadap diri sendiri. Allah berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang. (Al Fath[48]:8-9)
2.      Mendahulukan ucapannya di atas seluruh ucapan manusia tanpa terkecuali dan beramal dengan sunnah-sunnahnya.
Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”  (Al Hujuraat[49]:1)
3.      Mentaati perintahnya dan menjauhi larangannya.
Allah ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya.” (An-Nisa’[4]:59)
Dan dalam ayat lain Allah berfirman: “Apa yang ditetapkan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr[59]:7)
4.   Menjadikannya sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita.
Yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai sumber hukum yang tidak dapat dipisahkan dengan Al Qur-an. Allah ta’ala berfirman yang artinya :
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu; bagi orang yang mengharap (rahmat) dan hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab[33]:21)
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’[4]:65)
Dengan dua sifat Rasulullah yakni sebagai Rasul dan hamba Allah swt ini tertutuplah dua pintu kesesatan dan penyimpangan dari golongan yang berlebih-lebihan (al ifrath) dan golongan yang bermudah-mudahan (at-tafrith).
Golongan al ifrath adalah mereka yang melampaui batas dalam memuji dan mengangkat Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan Allah atau memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah semata atau mendudukkannya seperti kedudukan Allah. Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah telah menyerupai Nasrani ketika menuhankan nabi Isa as, Rasulullah pun memperingatkan umatnya agar jangan seperti mereka. Rasulullah bersabda yang artinya :
Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana Nasrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: “Hamba Allah dan Rasul-Nya”. (HR. Bukhari Muslim)
Rasulullah tidak berkenan dipuji secara berlebihan dan melampaui batas sebagaimana umat Nasrani melakukannya kepada Isa bin Maryam. Sedemikian berlebihannya mereka dalam memuji Nabi Isa hingga mereka memberikan derajat ketuhanan kepadanya.
Rasulullah tidak menghendaki hal itu terjadi pada dirinya dan dilakukan oleh umatnya. Dalam suatu riwayat disebutkan: “Ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah sambil mengatakan: “Engkau adalah Yang paling agung dan mulia yang tiada tandingannya”. Maka beliau berkata: “Berkatalah kalian tapi jangan dirasuki setan”. (HR Abu Daud)
Bahkan mereka memberikan sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah seperti ‘alimul ghaib (mengetahui yang ghaib), pemberi jalan keluar dari kesulitan-kesulitan, penolong hamba yang berada dalam kesusahan di manapun ia berada, ruhnya diyakini hadir di tengah-tengah mereka ketika membaca syi’ir pujian kepadanya, padahal beliau telah wafat. Beliau tidak ridha dengan semua yang mereka ucapkan dan sangkakan kepadanya. Karena Allah ta’ala telah memerintahkan beliau untuk menyatakan:
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa memberikan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Al-A’raaf[7]:188)


Bukti Kebenaran tentang Kerasulan Muhammad SAW



Bukti Kebenaran tentang Kerasulan Muhammad SAW

Pengaruh dan hasil kerasulan menjadi bukti otentik kebenaran Rasulullah. Telah banyak buah yang kita saksikan dari kerasulan Muhammad SAW. Hasilnya memang luar biasa dan sangat mengagumkan; senantiasa terukir di alam pentas sejarah orang-orang besar di dunia ini. Allah Swt. Menggambarkan :
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir  tetapi berkasih sayang  sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka pada bekas sujud”. Demikian lah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi besar dan tegak di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).” (Al-Fth[48]:29)
Di antara hasil kerasulan yang sangat mengesankan adalah tertanamnya secara mantap akidah pada diri pengikut-pengikutnya yang setia. Bahkan hingga sekarang telah tersebar ke segenap penjuru dunia. Para sahabat Rasulullah pun telah memberikan bukti konkret dari tertanamnya akidah tauhid ini dalam jiwa mereka. Cobaan berat yang menimpa mereka di jalan dakwah tidak membuat mereka gentar dan berbalik arah.
Begitu pula tentang terjaganya nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan hasil yang sangat gemilang dari kerasulan beliau. Prinsip keadilan ditegakan, asas persamaan dicontohkan, tanggung jawab serta disiplin tinggi pun tampak nyata. Semua ide merupakan hasil yang gemilang dari seorang pembuat sejarah, yang kepadanya wahyu deberikan.
 Beliau telah mengubah wajah dunia yang kusam menjadi berseri-seri penuh cahaya yang menerangi. Tidak mengherankan kalau beliau menempati peringkat teratas dari seluruh tokoh-tokoh yang pernah ada dalam llintasan sejarah. “pilihan saya pada Muhammad untuk diletakkan pada peringkat teratas dari urutan orang-orang yang berpengaruh di dunia boleh jadi mengejutkan sebagian  lain bertanya-tanya…. Tetapi, ia adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang meraih sukses begitu tinggi dalam bidang agama maupun dalam bidang keduniaan.” (Michael H. Hart, The 100 : A Ranking of most Influential Persons in History)
Demikianlah  hasil yang telah beliau raih memang luar biasa, inilah bukti kagungan beliau. Para sarjana barat pun mengakui kehebatan ini.
“seorang filosof, orator, rasul, pembuat undang-undang, dan pejuang yang memperjuangkan gagasannya, mengemukakan dogma yang rasional dan menganjurkan penyembahan tanpa patung; pendiri dua puluh kerajaan yang berkembang di muka bumi di bawah satu keuletan ikatan batin; itulah Muhammad. Dengan memperhatikan seluruh standar kebesaran manusia, kita akan bertanya adakah manusia yang lebih besar dari Muhammad?” (lamarine, histoire de la Turquirie, Paris, 1854, vol. II, p.276-277)
Firman Allah : “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (Al A'raaf[7]:58)
Melihat sejarah kehidupan beliau, kita hanya akan melihat sosok kehidupan agung, yang amat bersahaja, yang membuat kita kagum, menangis karena malu membandingkan dengan kehidupan kita dan akhirnya tergerak untuk mencontoh kehidupan beliau. Kita hanya akan melihat kebagusan demi kebagusan tanpa cacat namun beliau senantiasa mengatakan, ”Aku hanya manusia biasa, seperti kalian “.


KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.II


KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.II

Beliau adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya dan paling  amanah. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijukuki Al-Amin (orang yang terpercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga ditunjuk sebagai hakim.
 At-Tirmidzy meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang mendustakan itu,
“...mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am[6]:33).
Nabi saw adalah orang yang paling tawadhu’ dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang di antara kalian di rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya dan membereskan urusannya sendiri.”
 Dalam sebuah perjalanan beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.” Yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.” Yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan memasaknya.” Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.” Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.” Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah rekan-rekannya.” Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar.
Hindun bin Abu Halah menggambarkan sifat-sifat Rasulullah saw. Dia berkata, “Rasulullah saw seperti tampak berduka, terus-menerus berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak bicara jika tidak perlu, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan nada yang sedang-sedang, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya, tidak terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tangannya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau menundukkan padangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman, yang senyumannya mirip dengan butir-butir salju. Beliau senantiasa gembira, murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak obral memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya: Riya’, banyak bicara dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: Tidak mencela seseorang, tidak menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya.”
Kharijah bin Zaid berkata, “Nabi saw adalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya, hampir tak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya rinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka hormat dan mengikuti beliau.”

BUKA PUASA HARI ASYURA 1435 H






































IKHLAS KUNCI KESUKSESAN

IKHLAS KUNCI KESUKSESAN

Setiap amal baik tidak akan diterima kecuali jika memenuhi dua syarat yaitu: pertama,ikhlas karena Allah swt. Kedua mengikuti petunjuk rasulullah saw.
Ikhlas berarti berharap hanya kepada Allah swt. Serta tidak ditunggangi oleh keinginan apapun baik berupa materi, jabatan,atau yang lainnya .
Allah swt berfirman :
وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا االزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُالْقَيِّمَةِ  (البينة : 5 )
Padahal mereka tidak disuruh kecuali hanya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam ( menjalankan ) agama yang lurus, dan supaya ia mendirikan shalat,dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. ( QS. Al bayyinah : 5 ) 
Ayat diatas mengisyaratkan kepada  kita akan urgensi ikhlas dalam setiap aktifitas yang kita lakukan. Karena banyak orang yang bersedekah namun pahala sedekahnya tidak bernilai apa apa disisi Allah disebabkan oleh niat yang tidak ikhlas. Ada juga orang yang shalatnya rajin, ia paling pertama datang ke masjid namun niatnya tidak benar sehingga sholatnya tidak berarti apa – apa dihadapan Allah swt.disebabkan oleh ketidak ikhlasannya.
Begitu pula dengan juru dakwah, ada juru dakwah yang ikhlas dan ada pula yang tidak. Da’i  ikhlas tidak mengharapkan apa-apa selain karena keinginannya yang kuat untuk mendapatkan ridho Allah swt. Sehinga waktu yang dimilikinya terus ia gunakan untuk mengajak manusia kembali ke fitrah asal yaitu menyembah Allah azza wa jalla.
Dalam hidup kita ini, tentu tidak semua orang baik, maka harus ada orang yang senantiasa mengajak kembali kepada Allah. Dan orang yang mengajak kejalan Allah disebut da’i. namun sebagaimana sunnatullah bahwa akan ada pertarungan antara yang haq dan yang batil sehingga muncullah da’i ilallah dan da’i ilatthogut.
Da’i ilallah adalah ia mengajak manusia untuk menjauhi thogut dan beriman  kepada Allah swt.Sedangkan da’i ilatthogut ialah orang yang mengajak manusia untuk menyembah thogut.
Kemudian fenomena yang sering terjadi dikalangan juru dakwah adalah  tidak konsisten dalam berdakwah, padahal  seyogyanya seorang juru dakwah harus tetap istiqomah untuk ikhlas mulai dari awal sampai akhir. dan istiqomah inilah yang membuat rambut rasulullah saw. beruban. Dan rasulullah saw. Bersabda “ Katakan : Aku beriman kepada Allah, Lalu istiqomahlah.
Imam Hasan Al Banna dalam bukunya Risalah Ta’lim  mengingatkan kepada kader dakwah akan makna ikhlas ini, beliau mengatakan : “ yang dimaksud dengan ikhas adalah  seorang al akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah swt.; mengharapkan keridaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran.
 Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunui. “ katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rab semesta alam.
Untuk mengetahui apakah amal yang kita lakukan benar-benar ikhlas karena Allah atau tidak, sedikitnya ada lima indikasi orang ikhlas diantaranya adalah :
1.      Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman atas dirinya dan agamanya, terutama bila termasuk oramg-orang yang berprestasi.
2.      Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan hak-hak Allah, dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewajiban.
3.      Orang ikhlas lebih mencintai anal yang tersembunyi daripada amal yang diliputi oleh hiruk- pikuk publikasi dan gaung ketenaran.
4.      Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak berbeda, selam keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada dakwah.
5.      Tidak menggubris keridhaan manusia, bila dibalik itu terdapat kemurkaan Allah swt. Sebab manusia berbeda-beda tabiat, cara pandang, kecendrungan dan tujuan-tujuannya.
Mudah – mudahan kita termasuk orang yang senantiasa ikhlas dalam setiap gerak langkah kita sehingga kita meraih kesuksesan dunia maupun akhirat.


KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.I


KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.I
 
Sobat muda, Nabi Muhammad adalah figur pribadi yang paling menawan dikarenakan kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tepat, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, sedikit ditahan, disisipi kata-kata yang luas maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan setiap kabilah Arab menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa masing-masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas berhimpun pada dirinya, begitu pula kejernihan dan kejelasan cara bicara orang yang sudah beradab, berkat kekuatan yang datang dari Ilahi melalui wahyu.
Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang diajarkan Allah.  Orang yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tapi sekian banyak gangguan yang tertuju kepada beliau justru menambahkan kesabaran beliau. Tingkah laku orang-orang bodoh yang berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati beliau. Aisyah berkata, “Jika Rasulullah saw harus memilih di antara dua perkara, tentu beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan suatu dosa. Jika suatu dosa, maka beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu dia membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”
Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan, bahwa beliau memberikan apapun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi saw adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau yang paling menonjol adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril. Jibril menghampiri beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Al Qur’an pada beliau. Beliau benar-benar orang yang lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripada angin yang berhembus.”
Jabir berkata, “Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, ‘Tidak’.”
Rasulullah saw memiliki keberanian, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur. Beliau adalah orang yang paling pemberani, mendatangi tempat-tempat yang sulit. Berapa banyak para pemberani dan patriot yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau adalah orang yang tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar. Siapa pun orang pemberani tentu akan lari menghindar dari hadapan beliau. Ali berkata, “Jika kami sedang dikepung kekuatan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah saw. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”
Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Lalu orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah saw yang sudah kembali dari sumber suara itu. Beliau lebih dahulu datang ke sana daripada mereka. Saat itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah dan di leher beliau ada pedang. Beliau bersabda, Kalian tidak usah gentar. Kalian tidak usah gentar!'’
Nabi Muahammad  SAW adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-Khudry berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.”  Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau mendengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya “Mengapa orang-orang itu berbuat begitu?”


KEAGUNGAN RASULULLAH SAW


KEAGUNGAN  RASULULLAH SAW

Diriwayatkan oleh Al Bukhari dengan sanadnya dari Ubaidillah bin Utbah bin Mas'ud bahwa Abdullah bin Abbas telah memberitahukannya. Abu Sofyan bin Harb telah memberitahukan kepadanya bahwa Heraklius telah memanggilnya pada waktu ia sedang memimpin kafilah dagang Quraisy di Syam, bertepatan dengan perjanjian Hudaibiyah yang baru saja diadakan antara Rasulullah SAW dengan kaum musyrikin Quraisy. Ketika itu Heraklius sedang berziarah ke Al Quds. la mengundang beberapa tokoh untuk menghadiri pertemuan yang diadakan tokoh-tokoh Romawi di sana dan dihadiri juga oleh seorang penerjemah.
            Heraklius (Berkata melalui penerjemahnya untuk menyimpulkan dialog yang terjadi), "Saya bertanya tentang nasab keturunan orang yang mengaku nabi itu, lalu anda mengatakan bahwa dia keturunan bangsawan. Begitulah pada umumnya para rasul Allah dilahirkan dari kalangan bangsawan. Lalu saya tanyakan, apakah ada di antara kalian yang mengaku sebagai nabi sebelumnya? Anda menjawab, tidak. Kalau ada yang mengaku demikian, mungkin dia hanya ikut-ikutan dengan orang sebelumnya.
            Saya bertanya pula, apakah di antara nenek moyangnya yang menjabat raja? Anda mengatakan, tidak.  Kalau ada di antara mereka yang menjadi raja, mungkin dia menuntut haknya. Saya tanyakan pula, apakah kalian pernah mencurigainya sebagai pembohong sebelum mengaku nabi? Anda mengatakan, tidak.  Memang tidak mungkin kalau dia tidak berbohong kepada manusia lalu berani berbohong kapada Allah. Saya tanyakan, apakah pengikutnya terdiri dari para bagsawan atau oran-gorang lemah? Anda mengatakan para pengikutnya terdiri dari orang-orang lemah. Memang, begitulah pengikut para rasul Allah.
            Saya tanyakan, apakah pengikutnya makin bertambah atau berkurang? Anda mengatakan makin bertambah. Memang, demikianlah cara kerja keimanan, hingga sempurna. Saya juga bertanya, apakah ada di antara pengikutnya yang murtad dan meninggalkan agamanya? Anda berkata, tidak. Begitulah kerja iman apabila sudah meresap ke dalam kalbu. Saya bertanya juga, apakah ia pernah berbuat curang? Anda menjawab, tidak. Begitulah para rasul Allah. Mereka tidak ada yang bersikap curang.
            Saya bertanya, apa yang diperintahkannya pada kalian? Anda mengatakan bahwa dia memerintahkan kalian supaya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan apa pun, melarang menyembah berhala, menyuruh kalian shalat, berbuat dan berkata jujur, serta memelihara kehormatan diri. Kalau apa yang kamu katakan itu benar, maka dia akan menguasai kedua kakiku berpijak. Aku tahu bahwa ia akan muncul, tetapi aku tidak menduga kalau dia dari golongan kalian. Kalau aku meyakini diriku bisa sampai kepadanya, tentu aku akan segera pergi menemuinya, dan kalau aku berada di sisinya, aku akan mencuci kakinya.
             Abu Sufyan dan rekan-rekannya yang menghadiri pertemuan tersebut berkata, "Aku heran dengan hal ikhwal Ibnu Abi Kabsyah (ungkapan penghinaan mereka kepada Rasulullah SAW). Dia ditakuti oleh Raja Banil Ashfar (bangsa kulit kuning, yakni orang Barat)." Selanjutnya Abu Sufyan berkata, "Aku senantiasa yakin bahwa dia (Muhammad SAW) akan berjaya sehingga Allah berkenan memasukkan saya ke dalam Islam.”
Menurut asal katanya, rasul berasal dari kata ”arsala”  yang berarti mengutus. Sedangkan menurut istilah, rasul dapat diartikan sebagai seorang laki-laki pilihan yang diberi wahyu oleh Allah dengan kewajiban untuk mengamalkan dan menyampaikannya kepada manusia.
Rasulullah Muhammad SAW sebagai rasul terakhir diutus oleh Allah untuk manusia seluruhnya dan menjadi penutup para nabi. Beliau sebagai penyempurna ajaran-ajaran yang di bawa rasul-rasul sebelumnya. Dengan risalah Islam yang universal, beliau mengeluarkan manusia dari gelapnya jahiliyah menuju terang benderang Islam. Demikianlah, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh  alam.” (Al Anbiya[21]:107)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Copyright © 2011. Mahad Aly An-Nuaimy - All Rights Reserved
Template by Creating Website