Latest Post
13.46
KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.III - selesai
KESEMPURNAAN JIWA DAN
KEMULIAAN
AKHLAK RASULULLAH SAW bag.III - selesai
Rasulullah saw adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan
yang sulit dicari bandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya,
sampai-sampai Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Al-Qalam[68]:4)
Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian
kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat
sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang
tidak bisa diketahui secara persis hingga sedetail-detailnya. Adakah orang yang
mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat
cahaya Rabb-nya, hingga akhlaqnya pun adalah Al-Qur’an?
Sifat kerasulan
menunjukkan bahwa beliau benar-benar seorang rasul; utusan Allah yang dipilih
dari hamba-hamba-Nya. Beliau
adalah manusia terbaik, manusia pilihan, seseorang yang tepercaya dan menjadi
kepercayaan Allah. Dengan penetapan sifat kerasulan bagi beliau ini, mengandung
konsekuensi-konsekuensi sebagai berikut:
1. Kita harus
memuliakan dan mengutamakan beliau di atas seluruh manusia.
Menghormati beliau beserta segenap syariat
yang dibawanya di atas seluruh syariat lainnya. Hal itu semua tidak akan
terwujud kecuali dengan mengamalkan syariatnya dan mencintainya di atas
kecintaan terhadap diri sendiri. Allah berfirman yang artinya :
“Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira
dan pemberi peringatan. Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya, menguatkan (agama)Nya, membesarkan-Nya. dan bertasbih kepada-Nya di
waktu pagi dan petang. (Al
Fath[48]:8-9)
2. Mendahulukan
ucapannya di atas seluruh ucapan manusia tanpa terkecuali dan beramal dengan
sunnah-sunnahnya.
Allah ta’ala berfirman yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan
Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi
Maha Mengetahui.” (Al Hujuraat[49]:1)
3.
Mentaati perintahnya
dan menjauhi larangannya.
Allah ta’ala berfirman: “Hai orang-orang
yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya.” (An-Nisa’[4]:59)
Dan dalam ayat lain Allah berfirman: “Apa yang ditetapkan Rasul
kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu, maka
tinggalkanlah.” (Al-Hasyr[59]:7)
4.
Menjadikannya sebagai suri tauladan dalam semua sisi kehidupan kita.
Yaitu dengan menjadikan sunnahnya sebagai
sumber hukum yang tidak dapat dipisahkan dengan Al Qur-an. Allah ta’ala
berfirman yang artinya :
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan
yang baik bagimu; bagi orang yang mengharap (rahmat) dan hari kiamat dan dia
banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab[33]:21)
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian
mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa’[4]:65)
Dengan dua sifat Rasulullah yakni sebagai
Rasul dan hamba Allah swt ini tertutuplah dua pintu kesesatan dan penyimpangan
dari golongan yang berlebih-lebihan (al ifrath) dan golongan yang
bermudah-mudahan (at-tafrith).
Golongan al
ifrath adalah mereka yang melampaui batas dalam memuji dan mengangkat
Rasulullah sehingga menyamakan derajatnya dengan Allah atau memberikan
sifat-sifat yang sesungguhnya hanya layak bagi Allah semata atau mendudukkannya
seperti kedudukan Allah. Mereka yang berlebih-lebihan dalam memuji Rasulullah
telah menyerupai Nasrani ketika menuhankan nabi Isa as, Rasulullah pun
memperingatkan umatnya agar jangan seperti mereka. Rasulullah bersabda yang
artinya :
Janganlah kalian memuji aku secara berlebihan sebagaimana Nasrani memuji
Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: “Hamba Allah dan
Rasul-Nya”. (HR. Bukhari
Muslim)
Rasulullah tidak berkenan dipuji secara
berlebihan dan melampaui batas sebagaimana umat Nasrani melakukannya kepada Isa
bin Maryam. Sedemikian berlebihannya mereka dalam memuji Nabi Isa hingga mereka
memberikan derajat ketuhanan kepadanya.
Rasulullah tidak menghendaki hal itu terjadi
pada dirinya dan dilakukan oleh umatnya. Dalam
suatu riwayat disebutkan: “Ketika sekelompok orang datang kepada Rasulullah
sambil mengatakan: “Engkau adalah Yang paling agung dan mulia yang tiada
tandingannya”. Maka beliau berkata: “Berkatalah kalian tapi jangan
dirasuki setan”. (HR Abu Daud)
Bahkan mereka memberikan sifat-sifat yang
sesungguhnya hanya layak bagi Allah seperti ‘alimul
ghaib (mengetahui yang ghaib), pemberi jalan keluar dari
kesulitan-kesulitan, penolong hamba yang berada dalam kesusahan di manapun ia
berada, ruhnya diyakini hadir di tengah-tengah mereka ketika membaca syi’ir
pujian kepadanya, padahal beliau telah wafat. Beliau tidak ridha dengan semua yang mereka
ucapkan dan sangkakan kepadanya. Karena Allah ta’ala telah memerintahkan beliau
untuk menyatakan:
Katakanlah: “Aku tidak
berkuasa memberikan kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula mampu menolak
kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang
ghaib, tentulah aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak
akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira
bagi orang-orang yang beriman”. (Al-A’raaf[7]:188)
16.50
Bukti Kebenaran tentang Kerasulan Muhammad SAW
Bukti Kebenaran tentang Kerasulan Muhammad SAW
Bukti Kebenaran tentang Kerasulan Muhammad SAW
Pengaruh dan hasil kerasulan menjadi
bukti otentik kebenaran Rasulullah. Telah banyak buah yang kita saksikan dari
kerasulan Muhammad SAW. Hasilnya memang luar biasa dan sangat mengagumkan;
senantiasa terukir di alam pentas sejarah orang-orang besar di dunia ini. Allah
Swt. Menggambarkan :
“Muhammad itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap
orang-orang kafir tetapi berkasih
sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka
rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka
tampak pada muka mereka pada bekas sujud”. Demikian lah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan
tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman tersebut kuat lalu menjadi besar
dan tegak di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanamnya karena
Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang
mukmin).” (Al-Fth[48]:29)
Di antara hasil kerasulan yang sangat
mengesankan adalah tertanamnya secara mantap akidah pada diri
pengikut-pengikutnya yang setia. Bahkan hingga sekarang telah tersebar ke
segenap penjuru dunia. Para sahabat Rasulullah pun telah memberikan bukti
konkret dari tertanamnya akidah tauhid ini dalam jiwa mereka. Cobaan berat yang
menimpa mereka di jalan dakwah tidak membuat mereka gentar dan berbalik arah.
Begitu pula tentang terjaganya
nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan hasil yang sangat gemilang dari
kerasulan beliau. Prinsip keadilan ditegakan, asas persamaan dicontohkan,
tanggung jawab serta disiplin tinggi pun tampak nyata. Semua ide merupakan
hasil yang gemilang dari seorang pembuat sejarah, yang kepadanya wahyu
deberikan.
Beliau telah mengubah wajah dunia yang kusam
menjadi berseri-seri penuh cahaya yang menerangi. Tidak mengherankan kalau
beliau menempati peringkat teratas dari seluruh tokoh-tokoh yang pernah ada
dalam llintasan sejarah. “pilihan saya pada Muhammad untuk diletakkan pada peringkat
teratas dari urutan orang-orang yang berpengaruh di dunia boleh jadi
mengejutkan sebagian lain
bertanya-tanya…. Tetapi, ia adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang
meraih sukses begitu tinggi dalam bidang agama maupun dalam bidang keduniaan.” (Michael
H. Hart, The 100 : A Ranking of most
Influential Persons in History)
Demikianlah hasil yang telah beliau raih memang luar
biasa, inilah bukti kagungan beliau. Para sarjana barat pun mengakui kehebatan
ini.
“seorang filosof, orator, rasul,
pembuat undang-undang, dan pejuang yang memperjuangkan gagasannya, mengemukakan
dogma yang rasional dan menganjurkan penyembahan tanpa patung; pendiri dua
puluh kerajaan yang berkembang di muka bumi di bawah satu keuletan ikatan
batin; itulah Muhammad. Dengan memperhatikan seluruh standar kebesaran manusia,
kita akan bertanya adakah manusia yang lebih besar dari Muhammad?” (lamarine, histoire de la Turquirie, Paris, 1854,
vol. II, p.276-277)
Firman Allah : “Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin
Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana.
Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang
bersyukur.” (Al A'raaf[7]:58)
Melihat sejarah kehidupan beliau,
kita hanya akan melihat sosok kehidupan agung, yang amat bersahaja, yang
membuat kita kagum, menangis karena malu membandingkan dengan kehidupan kita
dan akhirnya tergerak untuk mencontoh kehidupan beliau. Kita hanya akan melihat
kebagusan demi kebagusan tanpa cacat namun beliau senantiasa mengatakan, ”Aku hanya manusia biasa, seperti kalian “.
18.26
KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.II
KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN
AKHLAK RASULULLAH SAW bag.II
Beliau adalah orang yang paling adil, paling mampu
menahan diri, paling jujur perkataannya dan paling amanah. Orang yang mendebat dan bahkan musuh
beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijukuki Al-Amin
(orang yang terpercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga
ditunjuk sebagai hakim.
At-Tirmidzy
meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahal pernah berkata kepada beliau, “Kami
tidak mendustakan dirimu, tetapi kami mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang
orang-orang yang mendustakan itu,
“...mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, tetapi orang-orang zhalim itu
mengingkari ayat-ayat Allah.” (Al-An’am[6]:33).
Nabi saw adalah orang yang paling tawadhu’
dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang
berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja.
Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk-duduk bersama orang miskin, memenuhi
undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan
mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya, menjahit
bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan
salah seorang di antara kalian di rumahnya. Beliau sama dengan orang lain,
mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya dan membereskan urusannya
sendiri.”
Dalam sebuah
perjalanan beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata,
“Akulah yang akan menyembelihnya.” Yang lain berkata, “Akulah yang
akan mengulitinya.” Yang lain lagi berkata, “Akulah yang akan
memasaknya.” Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu
bakarnya.” Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.”
Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tapi aku
tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya
yang berbeda di tengah rekan-rekannya.” Setelah itu beliau bangkit lalu
mengumpulkan kayu bakar.
Hindun bin Abu Halah menggambarkan sifat-sifat Rasulullah
saw. Dia berkata, “Rasulullah saw seperti tampak berduka, terus-menerus
berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak bicara jika tidak perlu,
lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian
mulutnya dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan
kata-kata yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu
sedikit, dengan nada yang sedang-sedang, mengagungkan nikmat sekalipun kecil,
tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu
memujinya, tidak terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang
bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang
dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak
tangannya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika
sedang gembira beliau menundukkan padangan matanya. Tawanya cukup dengan
senyuman, yang senyumannya mirip dengan butir-butir salju. Beliau senantiasa
gembira, murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk,
tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak obral memuji, pura-pura lalai
terhadap sesuatu yang tidak menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan
tiga perkara dari dirinya: Riya’, banyak bicara dan membicarakan sesuatu yang
tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: Tidak mencela
seseorang, tidak menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya.”
Kharijah bin Zaid berkata, “Nabi saw adalah orang yang
paling mulia di dalam majelisnya, hampir tak ada yang keluar dari pinggir
bibirnya. Beliau lebih banyak diam, tidak
berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan
cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya rinci, tidak
terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka
hormat dan mengikuti beliau.”
14.08
IKHLAS KUNCI KESUKSESAN
IKHLAS KUNCI KESUKSESAN
Setiap amal baik tidak akan diterima
kecuali jika memenuhi dua syarat yaitu: pertama,ikhlas karena Allah swt.
Kedua mengikuti petunjuk rasulullah saw.
Ikhlas berarti berharap hanya kepada Allah swt. Serta tidak
ditunggangi oleh keinginan apapun baik berupa materi, jabatan,atau yang lainnya
.
Allah swt berfirman :
وَمَآ
أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ
وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا االزَّكَوةَ وَذَلِكَ
دِيْنُالْقَيِّمَةِ (البينة : 5 )
Padahal mereka tidak disuruh kecuali hanya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam ( menjalankan ) agama yang lurus, dan
supaya ia mendirikan shalat,dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus. (
QS. Al bayyinah : 5 )
Ayat diatas mengisyaratkan
kepada kita akan urgensi ikhlas dalam
setiap aktifitas yang kita lakukan. Karena banyak orang yang bersedekah namun
pahala sedekahnya tidak bernilai apa apa disisi Allah disebabkan oleh niat yang
tidak ikhlas. Ada juga orang yang shalatnya rajin, ia paling pertama datang ke
masjid namun niatnya tidak benar sehingga sholatnya tidak berarti apa – apa
dihadapan Allah swt.disebabkan oleh ketidak ikhlasannya.
Begitu pula dengan juru dakwah, ada
juru dakwah yang ikhlas dan ada pula yang tidak. Da’i ikhlas tidak mengharapkan apa-apa selain
karena keinginannya yang kuat untuk mendapatkan ridho Allah swt. Sehinga waktu
yang dimilikinya terus ia gunakan untuk mengajak manusia kembali ke fitrah asal
yaitu menyembah Allah azza wa jalla.
Dalam hidup kita ini, tentu tidak
semua orang baik, maka harus ada orang yang senantiasa mengajak kembali kepada
Allah. Dan orang yang mengajak kejalan Allah disebut da’i. namun sebagaimana
sunnatullah bahwa akan ada pertarungan antara yang haq dan yang batil sehingga
muncullah da’i ilallah dan da’i ilatthogut.
Da’i ilallah adalah ia mengajak manusia
untuk menjauhi thogut dan beriman kepada
Allah swt.Sedangkan da’i ilatthogut ialah orang yang mengajak manusia
untuk menyembah thogut.
Kemudian fenomena yang sering terjadi
dikalangan juru dakwah adalah tidak
konsisten dalam berdakwah, padahal
seyogyanya seorang juru dakwah harus tetap istiqomah untuk ikhlas mulai
dari awal sampai akhir. dan istiqomah inilah yang membuat rambut rasulullah
saw. beruban. Dan rasulullah
saw. Bersabda “ Katakan : Aku beriman kepada Allah, Lalu istiqomahlah.
Imam Hasan Al Banna dalam bukunya Risalah
Ta’lim mengingatkan kepada kader
dakwah akan makna ikhlas ini, beliau mengatakan : “ yang dimaksud dengan ikhas
adalah seorang al akh hendaknya
mengorientasikan perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya kepada Allah swt.;
mengharapkan keridaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan
keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan, atau kemunduran.
Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara
kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunui. “ katakanlah, sesungguhnya
shalatku, ibadahku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rab semesta alam.
Untuk mengetahui apakah amal yang kita lakukan benar-benar ikhlas
karena Allah atau tidak, sedikitnya ada lima indikasi orang ikhlas diantaranya
adalah :
1.
Khawatir terhadap ketenaran serta keharuman atas dirinya dan
agamanya, terutama bila termasuk oramg-orang yang berprestasi.
2.
Orang yang ikhlas selalu menuduh dirinya teledor dalam menunaikan
hak-hak Allah, dan teledor dalam melaksanakan berbagai kewajiban.
3.
Orang ikhlas lebih mencintai anal yang tersembunyi daripada amal
yang diliputi oleh hiruk- pikuk publikasi dan gaung ketenaran.
4.
Amalnya saat menjadi pemimpin dan saat menjadi anggota tidak
berbeda, selam keduanya masih dalam rangka memberikan pelayanan pada dakwah.
5.
Tidak menggubris keridhaan manusia, bila dibalik itu terdapat
kemurkaan Allah swt. Sebab manusia berbeda-beda tabiat, cara pandang,
kecendrungan dan tujuan-tujuannya.
Mudah – mudahan kita termasuk orang
yang senantiasa ikhlas dalam setiap gerak langkah kita sehingga kita meraih
kesuksesan dunia maupun akhirat.
20.13
KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN AKHLAK RASULULLAH SAW bag.I
KESEMPURNAAN JIWA DAN KEMULIAAN
AKHLAK RASULULLAH SAW bag.I
Sobat muda, Nabi Muhammad adalah figur pribadi yang
paling menawan dikarenakan kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang
selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tepat,
lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, sedikit ditahan,
disisipi kata-kata yang luas maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan
hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan setiap kabilah Arab
menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa
masing-masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas berhimpun pada
dirinya, begitu pula kejernihan dan kejelasan cara bicara orang yang sudah beradab,
berkat kekuatan yang datang dari Ilahi
melalui wahyu.
Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu
menguasai diri, suka memaafkan saat memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan.
Ini semua merupakan sifat-sifat yang diajarkan Allah. Orang yang murah hati bisa saja tergelincir
dan terperosok. Tapi sekian banyak gangguan yang tertuju kepada beliau justru
menambahkan kesabaran beliau. Tingkah laku orang-orang bodoh yang
berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati beliau. Aisyah berkata, “Jika
Rasulullah saw harus memilih di antara dua perkara, tentu beliau memilih yang
paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan suatu dosa. Jika suatu dosa,
maka beliau adalah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas
untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah,
lalu dia membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah
marah dan paling cepat ridha.”
Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau
yang sulit digambarkan, bahwa beliau memberikan apapun dan tidak takut menjadi
miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabi saw
adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau yang paling menonjol
adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril. Jibril menghampiri beliau
setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Al Qur’an pada beliau.
Beliau benar-benar orang yang lebih murah hati untuk hal-hal yang baik daripada
angin yang berhembus.”
Jabir berkata, “Tidak
pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, ‘Tidak’.”
Rasulullah saw memiliki keberanian, patriotisme, dan
kekuatan yang sulit diukur. Beliau adalah orang yang paling pemberani,
mendatangi tempat-tempat yang sulit. Berapa banyak para pemberani dan patriot
yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau adalah orang yang tegar dan tidak
bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar. Siapa pun orang pemberani tentu akan lari menghindar dari
hadapan beliau. Ali berkata, “Jika kami sedang dikepung kekuatan dan bahaya,
maka kami berlindung kepada Rasulullah saw. Tak seorang pun yang lebih dekat
jaraknya dengan musuh selain beliau.”
Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan
oleh sebuah suara. Lalu orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut.
Mereka bertemu Rasulullah saw yang sudah kembali dari sumber suara itu. Beliau
lebih dahulu datang ke sana daripada mereka. Saat itu beliau menunggang kuda
milik Abu Thalhah dan di leher beliau ada pedang. Beliau bersabda, Kalian tidak
usah gentar. Kalian tidak usah gentar!'’
Nabi Muahammad SAW
adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-Khudry
berkata, “Beliau adalah orang yang lebih
pemalu daripada gadis di tempat pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa
diketahui dari raut mukanya.” Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah
seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada
memandang ke langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan
seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika
beliau mendengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya “Mengapa
orang-orang itu berbuat begitu?”
01.19
KEAGUNGAN RASULULLAH SAW
Diriwayatkan
oleh Al Bukhari dengan sanadnya dari Ubaidillah bin Utbah bin Mas'ud bahwa
Abdullah bin Abbas telah memberitahukannya. Abu Sofyan bin Harb telah
memberitahukan kepadanya bahwa Heraklius telah memanggilnya pada waktu ia
sedang memimpin kafilah dagang Quraisy di Syam, bertepatan dengan perjanjian
Hudaibiyah yang baru saja diadakan antara Rasulullah SAW dengan kaum musyrikin
Quraisy. Ketika itu Heraklius sedang berziarah ke Al Quds. la mengundang
beberapa tokoh untuk menghadiri pertemuan yang diadakan tokoh-tokoh Romawi di
sana dan dihadiri juga oleh seorang penerjemah.
Heraklius (Berkata melalui
penerjemahnya untuk menyimpulkan dialog yang terjadi), "Saya bertanya
tentang nasab keturunan orang yang mengaku nabi itu, lalu anda mengatakan bahwa
dia keturunan bangsawan. Begitulah pada umumnya para rasul Allah dilahirkan
dari kalangan bangsawan. Lalu saya tanyakan, apakah ada di antara kalian yang
mengaku sebagai nabi sebelumnya? Anda menjawab, tidak. Kalau ada yang mengaku
demikian, mungkin dia hanya ikut-ikutan dengan orang sebelumnya.
Saya bertanya pula, apakah di antara
nenek moyangnya yang menjabat raja? Anda mengatakan, tidak. Kalau ada di antara mereka yang menjadi raja,
mungkin dia menuntut haknya. Saya tanyakan pula, apakah kalian pernah
mencurigainya sebagai pembohong sebelum mengaku nabi? Anda mengatakan,
tidak. Memang tidak mungkin kalau dia
tidak berbohong kepada manusia lalu berani berbohong kapada Allah. Saya tanyakan,
apakah pengikutnya terdiri dari para bagsawan atau oran-gorang lemah? Anda
mengatakan para pengikutnya terdiri dari orang-orang lemah. Memang, begitulah
pengikut para rasul Allah.
Saya tanyakan, apakah pengikutnya
makin bertambah atau berkurang? Anda mengatakan makin bertambah. Memang,
demikianlah cara kerja keimanan, hingga sempurna. Saya juga bertanya, apakah
ada di antara pengikutnya yang murtad dan meninggalkan agamanya? Anda berkata,
tidak. Begitulah kerja iman apabila sudah meresap ke dalam kalbu. Saya bertanya
juga, apakah ia pernah berbuat curang? Anda menjawab, tidak. Begitulah para
rasul Allah. Mereka tidak ada yang bersikap curang.
Saya bertanya, apa yang
diperintahkannya pada kalian? Anda mengatakan bahwa dia memerintahkan kalian
supaya menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan apa pun, melarang
menyembah berhala, menyuruh kalian shalat, berbuat dan berkata jujur, serta
memelihara kehormatan diri. Kalau apa yang kamu katakan itu benar, maka dia
akan menguasai kedua kakiku berpijak. Aku tahu bahwa ia akan muncul, tetapi aku
tidak menduga kalau dia dari golongan kalian. Kalau aku meyakini diriku bisa
sampai kepadanya, tentu aku akan segera pergi menemuinya, dan kalau aku berada
di sisinya, aku akan mencuci kakinya.
Abu Sufyan dan rekan-rekannya yang menghadiri
pertemuan tersebut berkata, "Aku heran dengan hal ikhwal Ibnu Abi Kabsyah
(ungkapan penghinaan mereka kepada Rasulullah SAW). Dia ditakuti oleh Raja
Banil Ashfar (bangsa kulit kuning, yakni orang Barat)." Selanjutnya Abu
Sufyan berkata, "Aku senantiasa yakin bahwa dia (Muhammad SAW) akan
berjaya sehingga Allah berkenan memasukkan saya ke dalam Islam.”
Menurut asal katanya, rasul berasal dari kata ”arsala” yang berarti
mengutus. Sedangkan menurut istilah, rasul dapat diartikan sebagai seorang
laki-laki pilihan yang diberi wahyu oleh Allah dengan kewajiban untuk
mengamalkan dan menyampaikannya kepada manusia.
Rasulullah Muhammad SAW sebagai rasul terakhir diutus oleh Allah
untuk manusia seluruhnya dan menjadi penutup para nabi. Beliau sebagai
penyempurna ajaran-ajaran yang di bawa rasul-rasul sebelumnya. Dengan risalah
Islam yang universal, beliau mengeluarkan manusia dari gelapnya jahiliyah
menuju terang benderang Islam. Demikianlah, Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan kami tidak mengutus engkau, melainkan untuk (menjadi) rahmat
bagi seluruh alam.” (Al
Anbiya[21]:107)




.jpg)


